14-Pernikahan

1612 Kata
Hari pernikahan berlangsung meriah. Mengusung tema internasional wedding, Verza dan Rensha bak ratu semalam dengan pakaian serba putih. Di hadapan mereka terlihat tamu undangan yang menikmati suguhan makanan khas luar negeri buatan chef terkenal. Dari banyaknya tamu undangan, tak seorangpun teman dari kedua mempelai yang hadir. Dua orang itu seolah mengikuti saja apa yang sudah direncanakan. Dua mempelai itu juga tidak merasa sedih karena sengaja tidak mengundang teman terdekat mereka. Mereka sama-sama seolah menutupi pernikahan itu “Ren. Mau makan dulu nggak?” Verza menoleh menawari sang istri untuk menyantap kudapan. Rensha menggeleng, entah kenapa dia merasa kenyang. Dia lalu menoleh, menatap Verza yang terlihat tampan dengan kemeja putih itu. “Gue mau ke toilet, Ver.” Verza sontak berdiri mengulurkan tangan membantu Rensha. Para tamu yang melihat tindakan mereka pasti tidak menyangka jika pernikahan mereka tanpa dilandasi rasa cinta. “Lo jalan di depan. Gue pegangin gaun lo.” Kalimat Verza membuat Rensha menurut. Wanita dengan rambut dikepang itu berjalan lebih dulu. Namun, baru tiga langkah dua wanita mendekatinya. “Biar saya bantu, Nyonya.” Satu alis Rensha terangkat, tidak tahu siapa dua wanita di depannya itu. Dia lalu menoleh saat gaunnya kembali terasa berat. Verza mendekat dan berdiri di samping Rensha. “Mereka dayang-dayangnya mama,” bisik Verza. “Lo ke toilet sama mereka nggak apa-apa? Gue mau cari minum.” Rensha mengangguk sama sekali tidak keberatan. Dia menoleh melihat dua wanita bergaun putih yang telah memegang ekor gaunnya itu. Rensha memberi kode lalu berjalan menuruni area pelaminan. Selepas kepergian Rensha, Verza berjalan menuju tempat makan. Dia mengambil segelas air berwarna kecokelatan dan menegaknya. Verza lalu mengedarkan pandang mendapati para undangan yang cipika-cipiki dan sekalipun tidak ada yang dia kenal. Verza berbalik hendak mencari tempat yang lebih sepi, tapi di hadapannya telah ada Renga. Verza lalu tersenyum ke kakak iparnya. “Lo udah makan? Oh ya, Om mana?” tanyanya menanyakan keberadaan papa mertuanya. Renga mengambil segelas air minum, menyeruputnya beberapa kali setelah itu menjawab. “Papa di belakang. Kayaknya tadi kecapekan.” Mendengar itu Verza mendesah lega. Sejam terakhir dia memang tidak melihat keberadaan Renga dan papanya. Pria itu sempat ketakutan kalau terjadi apa-apa ke papa mertuanya. “Lo sama Rensha nggak ngundang temen kalian?” tanya Renga yang sejak tadi melihat hanya para tetua yang memadati. “Gue sama Rensha sepakat nggak ngundang temen.” “Kenapa?” “Huh....” Verza mengembuskan napas panjang. Dia seolah bingung mengungkapkan apa yang ada di pikirannya. “Mungkin nanti gue sama Rensha ngadain pesta lain, yang jelas gue nggak bakal ngelibatin papa.” Renga meletakkan gelas yang telah kosong. Setelah itu menatap adik iparnya dengan pandangan menyelidik. “Lo nggak akur sama bokap lo?” “Hm....” “Pantes.” Sontak Verza menoleh menatap Renga menuntut penjelasan lebih lanjut. Renga yang ditatap seperti itu seolah tahu artinya. Pria itu lantas menjelaskan. “Gue ngerasa papa lo terlalu ikut campur pernikahan lo. Bahkan nggak ngasih kesempatan papa gue buat ngundang temennya.” Verza mengalihkan pandang sejenak. Dalam hati dia memaki papanya yang seenaknya sendiri itu. “Sorry. Sebelumnya gue nggak tahu masalah ini.” Renga mengangguk seolah mengerti. “Gue harap, setelah nikah hubungan lo sama papa lo nggak berimbas ke rumah tangga kalian.” “Tenang. Gue nggak bakal izinin papa terlalu ikut campur!” kata Verza mantap. Pria itu telah memutuskan akan tinggal di apartemen daripada tinggal di rumah utama sesuai permintaan papa dan mamanya. Verza tidak akan tahan melihat papanya bersama mama tirinya dalam waktu yang lama. Dia seolah merasakan sakit hatinya sang mama yang telah tenang di alam sana. “Kalian kenapa diam saja?” Dua pria itu tersentak. Mereka kompak menoleh ke sumber suara menatap Rensha yang menatap mereka dengan pandangan menuntut. Renga yang lebih dulu sadar mengambil alih, dengan memeluk pundak Verza. “Gue ngingetin Verza. Sekarang dia yang tanggung jawab atas diri lo,” bohong Renga. Verza membalas pelukan kakak iparnya itu lalu tersenyum ke Rensha. “Iya. Cuma itu.” Sampai detik ini Verza belum menceritakan semuanya ke Rensha. “Oke. Gue percaya,” jawab Rensha. Wanita itu mengambil segelas minuman dan menegaknya pelan. Tidak tahu jika pria di depannya menghela napas lega.   ***   Malam semakin larut, tamu undangan seolah tidak habis berdatangan membuat dua orang pemilik acara kelelahan. Verza bahkan beberapa kali berdecak merutuki papanya yang mengundang terlalu banyak orang itu. “Kita pergi dari sini, deh!” ajak Verza bosan. Dia tidak peduli melihat tamu undangan yang mengantre bersalaman itu. Verza terus menarik tangan istrinya hingga menuju le belakang hotel. Dia baru melepas genggamannya setelah duduk di kursi besi. Verza mendesah lega akhirnya bisa menghirup oksigen secara bebas. Tidak seperti di ballroom yang terasa menyesakkan. “Kenapa tiba-tiba ngajak pergi? Kayak gitu itu nggak sopan,” kata Rensha mengingatkan. “Lo juga capek, kan? Udahlah, Ren. Ini pilihan tepat.” “Tapi harusnya ngasih tahu dulu! Nggak langsung pergi!!” Rensha berdecak kesal, merutuki Verza yang selalu seenaknya sendiri itu. Pengantin baru itu lalu sama-sama diam sambil menarik napas panjang. “Ternyata pengantinnya kabur ke sini.” Suara berat itu mengusik keduanya. Mereka menoleh mendapati pria berambut kecokelatan itu berdiri sambil melipat kedua tangan di depan d**a. Verza seketika berdiri tidak suka melihat Gilbert ada di hadapannya. “Ngapain lo di sini?” Gilbert mendekat hingga berdiri di depan sandaran kursi. Dia menunduk menatap Rensha saksama. “Hai, Ren!!” “Jawab pertanyaan gue!!” teriak Verza. Rensha berdiri mendekati Verza dan mengusap lengan suaminya itu. Membuat Gilbert mendengus, karena Verza tetap saja emosian. “Ren ternyata lo cukup nekat setelah gue kasih tahu fakta dua minggu yang lalu.” Verza mengernyit tidak tahu fakta apa yang dimaksud Gilbert. Verza menunduk, menatap istrinya itu menuntut jawaban. Ditatap intens seperti itu Rensha seolah tidak bisa berbohong lagi. Di pikirannya mulai tergambar Verza bersama wanita lain. Sebenarnya itu bukan hal baru bagi Rensha, tapi tetap saja dia sangat marah. “Fakta apa, Ren?” tanya Verza tak sabaran. “Fakta lo di kelab sama cewek,” jawab Gilbert. Mendengar jawaban itu Verza berdecak. Dia menatap Gilbert yang tersenyum penuh kemenangan itu. “Lo ngikutin gue?” Gilbert menggeleng tegas. “Nggak ada gunanya gue ngikutin lo.” Verza menggenggam tangan Rensha lalu memilih pergi meninggalkan Gilbert. Rensha menurut sambil tersenyum tidak enak ke Gilbert. Gilbert berbalik melihat dua orang yang berjalan menjauh itu. “Ren! Kalau suami lo ketahuan selingkuh lo tinggal temuin gue.” Langkah mereka terhenti. Rensha menghela napas, kesal dengan kalimat Gilbert yang memancing keributan itu. Sedangkan Verza semakin mengeratkan genggamannya. Dia menarik Rensha menjauh dengan rahang mengeras.   ***   Selama hampir seharian mereka terbelenggu dengan tamu-tamu, kini mereka bisa bebas. Mereka telah berada di apartemen saling bergantian ke kamar mandi untuk mengguyur tubuh lelah mereka. Di ranjang, Verza berbaring terlentang menatap langit-langit kamar, memikirkan dirinya yang telah berubah status menjadi suami. Verza tidak punya gambaran bagaimana menjadi suami yang baik. Dia hanya tahu papanya dulu sering memarahi mamanya setelah pulang dari kantor. Setelah itu Verza tidak tahu lagi. Pria itu juga masih belum tahu bagaimana memperlakukan Rensha. Tidak ada cinta yang mendasari semuanya. “Ver!! Verza!!” Rensha telah keluar dari kamar mandi. Dia heran melihat suaminya itu berbaring dengan tatapan menerawang. Rensha naik ke ranjang, mengguncang lengan kekar di depannya hingga sang pemilik tersentak. “Lo udah selesai?” tanya Verza menyadari keberadaan sang istri. Perlahan Verza bangkit. Dia mengamati Rensha yang mengenakan gaun tidur biru dengan handuk melingkar di kepala itu. Verza lalu tersenyum. “Seger banget, nggak kayak tadi jelek.” Diejek seperti itu Rensha memutar bola matanya kesal. “Lo mandi sana. Muka lo nggak banget!!” “Masa?” Verza menggapai ponsel membuka kamera dan melihat wajahnya yang sedikit berminyak. Setelah itu dia tersenyum. “Tapi tetep ganteng, kan?” Rensha melepas handuk yang melingkar di kepala dan melemparnya ke Verza. “Nggak usah besar kepala.” “Halah nggak usah gitu. Bilang aja kalau gue ganteng.” IYA LO GANTENG!! jerit hati Rensha. Wanita itu lalu memilih menarik selimut, berbaring dan menutup tubuhnya dengan selimut. “Ren,” panggil Verza dengan suara pelan. “Hmm...” Rensha menoleh menatap Verza yang menatapnya serius itu. Sontak dia terduduk. “Ada apa?” “Huh....” Verza mengembuskan napas panjang. Dia memajukan tubuh hingga lututnya mengenai paha Rensha. Satu tangan Verza terangkat, mengusap pipi Rensha lembut. “Lo tahu gue kayak gimana.” Jantung Rensha berdetak. Dia takut dengan kalimat selanjutnya. Rensha seolah tidak siap menjalani malam ini bersama Verza. “Gue nggak tahu rumah tangga kita bakal gimana. Apalagi kita nggak saling cinta,” kata Verza masih dengan mengusap pipi Rensha. Bukan kita, Ver, tapi lo. Lo yang nggak cinta gue, batin Rensha kecut. Tangan kanannya terulur, menarik lalu menggenggam tangan suaminya itu erat. “Sebenarnya apa yang mau lo omongin?” tanya Rensha lembut. “Gue nggak janji bisa jadi suami yang baik buat lo. Gue harap lo ngingetin kalau gue lagi khilaf.” Verza lalu mengeratkan genggamannya. “Kita jalanin hidup ini apa adanya ya, Ren.” Rensha mengangguk senang ketika Verza memilih membicarakan ini. “Kalau lo keluar sama pria lain, gue nggak bakal ngelarang lo. Asal nggak ketahuan papa gue.” “Maksud lo?” tanya Rensha kaget membuat rasa bahagia yang membuncah hilang seketika. Verza menarik Rensha ke dalam pelukan. “Gue nggak bisa beri cinta, hal yang diidamkan wanita,” bisiknya. “Jadi kalau lo ketemu pria lain yang lo cintai, gue pasti dukung lo. Asal lo bahagia.” Air mata Rensha turun, bingung dengan Verza. Untuk apa menikah kalau masih bisa mencari pria lain? Apa pernikahan hanya sekadar status? Hati Rensha perih. Nyatanya, Verza tidak berniat belajar mencintainya. Apa selalu gue yang selalu cinta sama lo, Ver?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN