4-Mencari Solusi

1569 Kata
“Stt!! Ren!” Panggilan dengan desisan pelan itu membuat Rensha menegakkan tubuh. Dia menoleh ke pintu lalu mengernyit bingung saat seseorang itu memintanya keluar. Bukannya masuk dan menjenguk sang papa yang berbaring di ranjang rumah sakit. Mau tidak mau Rensha menurut. Dia berdiri dan mendekati kakaknya. Renga sontak menutup pintu dan menarik adiknya itu menjauh. “Ada apa, sih, Kak?” tanya Rensha saat ditarik oleh sang kakak. Renga menoleh, memastikan suasana rumah sakit telah sepi. Pria itu mengeluarkan sesuatu dari tas hitamnya lalu menyerahkan amplop cokelat ke Rensha. “Lo simpen. Gue dapet pinjeman dari anak-anak.” Rensha menerima amplop itu lalu menatap kakaknya. “Lo simpen aja, Kak. Buat bayar hutang.” “Lo aja. Lo paling pinter kalau nyimpen uang.” “Ya udah,” jawab Rensha pasrah. Wanita itu lalu menyandarkan tubuh. Selama seminggu papanya dirawat di rumah sakit, semakin hari kondisi papanya semakin menurun. Rensha tidak pernah menyangka hidupnya bisa berubah sedrastis ini. “Gue udah mikir semuanya.” Kalimat Rensha membuat Renga yang sebelumnya terbengong, jadi tersentak. Pria berambut merah di bagian jambul itu menatap adiknya. “Mikirin apa?” Rensha memejamkan mata. Selama seminggu dia sudah memikirkan semuanya. Dia tidak bisa melihat papanya tergolek lemah. Dia tidak bisa melihat kakaknya pontang-panting mencari uang. Dia tidak bisa melihat rumah megahnya disegel karena tidak bisa melunasi hutang. Perlahan Rensha menegakkan tubuh lalu memutar hingga sepenuhnya menatap sang kakak. “Gue mau nikah sama anaknya Om Wino.” Ucapan Rensha membuat bibir Renga terbuka. Dia lalu menyentuh pundak adiknya dan mengguncangnya pelan. “Lo serius? Anaknya Om Wino mantan pecandu obat terlarang, Ren!” Rensha mengangguk tahu dari cerita kakaknya beberapa hari yang lalu. Namun, dia seolah tidak peduli dengan itu. Sekarang yang terpenting bagaimana cara membayar hutang sebelum jatuh tempo. “Gue serius.” Dengan cepat Renga menarik adiknya ke dalam pelukan. Dia merasa kakak yang gagal karena mengumpankan adiknya ke masalah baru. Dia merasa tidak bisa menjaga amanat terakhir mamanya untuk menjaga dan melindungi Rensha. “Gue bakal usaha cari duit lain, Ren. Lo cuma perlu jagain papa.” Air mata Rensha menetes. Dia menggeleng tegas tidak bisa hanya menunggu sang papa tanpa usaha lain. Rensha melepas pelukan kakaknya lalu memaksakan sebuah senyuman. Seolah dia sudah ikhlas dengan pilihannya. “Gue nggak bisa ngeliat saudara gue susah sedangkan gue cuma nunggu papa doang,” jawabnya. Renga mengangguk pelan, paham apa yang adiknya itu rasakan. “Gue bakal selalu ada buat lo, Ren. Kita hadepin ini bareng-bareng.” “Ya!” jawab Rensha sambil mengepalkan tangan seolah siap menghadapi semuanya. Drtt!! Ponsel di saku Rensha tiba-tiba bergetar. Dia mengambil ponsel melihat sebuah pesan masuk yang membuat bibirnya tertarik ke atas. Tindakan itu tidak luput dari pandangan Renga, apalagi ponsel Rensha yang berubah drastis. “Ponsel lo mana?” tanya Renga. Rensha tersenyum kecut, melihat ponsel tanpa kamera dan fitur lainnya itu. “Gue jual.” Renga mengusap wajah. “Gue bingung harus gimana lagi, Ren.” Kedua tangan Rensha menepuk pundak kakaknya itu. “Tenang aja. Gue nanti sore dapet tambahan uang.” “Maksud lo?” “Gue jual apartemen.” Rensha mengalihkan pandang ke arah lain. Sebenarnya dia sangat berat menjual sebuah bangunan yang menjadi saksi saat dia berkenalan dengan tetangga barunya, Verza. Hingga mereka menjalin persahabatan, dan Rensha yang mulai jatuh cinta. Sebentar lagi apartemen nomor 700 bukan lagi milik Rensha. Meski berat dia tetap harus menjualnya, demi kehidupan keluarganya. Apartemen bisa dicari nanti meski mungkin akan sulit kembali bertetangga dengan Verza.   ***   Seorang pria duduk di depan meja panjang. Di atas telinga terselip pensil berwarna biru. Di hadapannya terhampar kertas dengan sketsa sebuah rumah. Seseorang itu tampak sibuk, tapi di pikirannya justru memikirkan seseorang lain. “Ren!!!” panggil Verza setelah memikirkan Rensha. Pria itu menjauhkan pensil dari telinga lalu beranjak dari meja kerjanya. Sejak dua jam yang lalu dia sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Setiap akan melakukan sesuatu dia ingat dengan sahabatnya yang menghilang selama seminggu ini. Verza telah mencari Rensha ke tempat kerja, tapi wanita itu izin cuti. Setiap pagi dan malam dia ke apartemen Rensha tapi apartemen itu selalu kosong. Pikiran buruk tak henti mampir di pikiran Verza membuatnya frustrasi sendiri. Tret!! Dari dapur, Verza mendengar bel apartemennya berbunyi. Dia berjalan cepat ke pintu dengan harapan Renshalah yang ada di balik pintu itu. “Verza!!” Verza mendesah lesu. Setelah pintu dibuka, bukan wanita berambut hitam panjang yang berdiri melainkan wanita berambut merah. Dia menatap Tirta yang berdiri dengan pakaian glowing itu. “Ngapain?” tanyanya tanpa mempersilakan Tirta masuk. “Ke kelab, yuk. Suntuk banget gue!” Tirta menarik tangan Verza, memaksa pria itu agar mengikutinya. Sebelum melangkah, Verza menggapai knop pintu. Kali ini ajakan Tirta membuatnya mau mengikuti. Dia butuh suasana baru untuk menghilangkan penat. “Emm. Lo mau ke kelab mana?” tanya Tirta sambil melingkarkan tangan ke lengan kekar Verza. Verza berjalan sambil menunduk lalu mengangkat bahu pelan. “Terserah lo.” Perhatian Verza teralih saat melewati apartemen Rensha. Dia penasaran apakah sekarang ruangan itu masih kosong atau tidak. Dia menghela napas ingat beberapa jam yang lalu dia sudah memastikan, apartemen itu masih kosong. Saat hendak mencapai lift, Verza mengernyit melihat seseorang yang dia cari keluar dengan seorang pria. Dia menghentikan langkah menatap Rensha yang belum menyadari keberadaannya itu. “Di apartemenku ada dua kamar. Satu kamar bisa kamu buat ruang kerja. Dibuat perpustakaan mini juga masih muat,” kalimat Rensha yang mampu Verza dengar. “Ayo, Ver!!” ucap Trita menarik perhatian Verza. Dia tahu bagaimana reaksi Verza saat melihat Rensha, membuatnya ingin marah. “Maaf, ya. Ini nomor apartemennya aku warnai pink. Kalau kamu nggak suka nanti bisa aku lepas,” ucap Rensha. “Aku nggak terlalu peduli soal warna. Aku hanya memerdulikan perasaan kekasihku,” jawab pria yang bersama Rensha itu. Mendengar itu semua satu tangan Verza terkepal. Dia merasa jika Rensha sengaja menghindar karena terlalu asik dengan pria yang baru dikenal itu. “Ayo, Ver!!” ajak Tirta saat Verza hanya diam dan menoleh ke belakang itu. Verza menyentak tangannya, membuat tangan Tirta menjauh. Dianlalu berjalan mendekat ke dua orang yang sibuk berbincang itu, tidak peduli telah meninggalkan Tirta yang menahan amarah. Verza berdiri di belakang pria berkemeja biru kotak-kotak itu, satu tangannya terangkat menyentuh krah belakang pria di depannya. Saat pria itu menoleh, dengan cepat Verza menonjok pria di depannya itu hingga jatuh tersungkur.   ***   “Lo tahu tindakan lo bikin pembeli gue ilang!!” Verza duduk di ruang tamu Rensha, menatap wanita yang sejak tadi berjalan mondar-mandir sambil memaki itu. “Pembeli apa? Lo udah dibeli sama dia? berapa?” tanya Verza tak suka. Pertanyaan itu membuat langkah Rensha terhenti. Dia itu menatap Verza dengan wajah memerah padam. Rensha menggeleng tak percaya ternyata sahabatnya memandangnya serendah itu. “Pikiran lo sempit!” jawab Rensha lalu berbalik berjalan ke arah balkon. Dia butuh angin segar untuk menjernihkan pikirannya. Melihat Rensha yang menjauh, Verza mulai sadar jika salah bicara. Dia lalu berdiri dan menyusul Rensha. “Terus gue harus berpikiran apa? Kalian udah bahas soal kamar,” ucapnya ingat kalimat yang dia dengar dari Rensha. “Dia juga bahas soal mentingin perasaan. Terus apa yang gue pikirin kalau denger kalimat kayak tadi?” Rensha berbalik dengan napas tak beraturan. “DIA MAU BELI APARTEMEN GUE BUKAN BELI GUE!! PUAS LO!!” Teriakan Rensha membuat Verza tersentak. Dia merasa ada sesuatu hingga Rensha sampai menjual apartemen. Setahu Verza, sahabatnya itu sangat mencintai apartemen yang dibeli dari jerih payahnya sendiri. Verza mendekat lalu menyentuh pundak Rensha. “Beli apartemen? Kenapa lo jual?” tanyanya bingung. “Lo ada masalah?” lanjutnya. Dada Rensha terasa sesak, perpaduan amarah dan rasa sedih yang menghimpit. Dia lalu menunduk, bahunya bergetar tak lama isakannya terdengar. “Papa gue bangkrut,” lirihnya. Tubuh Verza menegang. Dia semakin merasa bersalah karena menambah masalah dihidup Rensha. Dia salah karena menonjok pria yang akan membeli apartemen Rensha. Dia juga salah karena menganggap Rensha rendah. “Sorry. Gue nggak tahu,” ucap Verza lembut. Verza menarik wanita di depannya ke dalam pelukan. Satu tangannya terkepal, ingin menonjok wajahnya sendiri atas penyimpulan sepihaknya tadi. “Papa gue bangkrut, Ver! Dan lo nambahin masalah gue! Sialan!” maki Rensha dalam pelukan Verza. Rensha itu melepas pelukan sahabatnya. Dia menghapus air mata yang telah membasahi pipinya lalu berbalik berdiri memegang pembatas dengan erat. “Itu sebabnya selama seminggu lo ilang?” tanya Verza pelan. Rensha mengangguk. Dia menoleh, menatap wajah Verza yang memerah entah karena apa itu. “Gue nggak bisa lama-lama. Gue harus pergi.” Mendengar kalimat itu Verza tersentak. Dia berlari mengejar Rensha dan mencekal pergelangan tangan wanita itu. “Gue boleh bantu?” tanyanya hati-hati. Dia tidak mau ucapan sakrasnya menyakiti Rensha lagi. Rensha menghela napas. Dia menghargai tawaran Verza tapi dia memilih menggeleng tidak ingin merepotkan sahabatnya itu. “Makasih. Tapi nggak perlu. Biar gue sama kakak gue yang ngatasi.” “Ren, tapi....” Verza merasa Rensha tidak ingin dibantu. Hal itu membuatnya seolah tidak berguna. “Gue nggak mau repotin lo. Sebentar lagi udah lunas kok,” bohong Rensha. “Oh, ya? Gue seneng dengernya.” Sudut bibir Rensha tertarik ke atas. Dia menoleh ke sekeliling, menyimpan momen saat dia dan Verza di apartemennya. “Mungkin gue nggak bakal ke sini lagi.” Satu alis Verza terangkat. “Lo beneran niat jual? Tapi sesekali main nggak apa-apa. Ke apartemen gue.” Rensha menggeleng pelan. “Nggak bisa. Gue mau ikut calon suami gue ke Paris.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN