Sebelumnya tidak pernah Rensha pikirkan datang ke tempat ini bersama pria lain selain Verza. Sejak baru mengenal Verza, dia mulai mengenal kelab. Datang ke kelab selalu bersama, pulang dengan kondisi Verza yang sudah teler.
Rensha mendongak, mengalihkan tatapannya ke penjuru X club. Dia melihat wajah-wajah tidak asing sedang memadati. Bisa dibilang kelab ini privat. Jadi Rensha mulai hafal, siapa saja yang sering mengunjungi hiburan malam seperti ini.
“Gue tebak wanita sepolos lo nggak pernah minum ini.”
Bisikan Gilbert membuat Rensha mengangkat pundak kirinya hingga mengenai telinga. Wanita itu menoleh memperhatikan Gilbert yang menyesap rokok elektrik.
Bola mata Rensha mengamati wajah Gilbert yang hanya diterangi penerangan minim itu. Secara garis besar, pria itu tampan. Hidung mancung yang melebihi hidung Verza menjadi poin utama saat melihat Gilbert.
“Ngapain natap gue? Gue ganteng, ya?” tanya Gilbert sambil mengedipkan mata genit.
Mendengar bisikan itu membuat Rensha menggeleng tegas. Dia mengambil gelas berisi cocktail, membuat Gilbert menghentikan menghisap rokok. Pria itu memiringkan wajah, menatap Rensha yang seolah sudah biasa meminum minuman itu.
“Lo sering minum?” tanya Gilbert setelah Rensha meneguk minumannya.
“Ya. Emang kenapa?”
Satu tangan Gilbert mengusap puncak kepala Rensha. “Gue nggak percaya aja. Lo keliatan wanita baik-baik.”
“Gue nggak sebaik yang lo kira,” jawab Rensha apa-adanya.
Gilbert mengangguk seolah percaya. Dia lalu bergeser mendekat, satu lengannya melingkar ke pundak Rensha. “Lo udah pernah hubungan bebas?”
Bola mata Rensha sedikit membesar. Tidak suka Gilbert membahas masalah itu, bahkan tanpa tedeng aling-aling. “Gil. Lo tahu nggak pertanyaan lo itu nggak pantes!”
“Gue cuma tanya, Sayang.”
“Terus setelah nanya lo mau apa?”
Ditantang seperti itu Gilbert tersenyum. Dia meletakkan rokok elektriknya lantas memutar tubuh menghadap Rensha sepenuhnya. “Nggak ngapa-ngapain lo. Nanti setelah nikah gue bakal nyerang lo,” jawabnya sambil mengedipkan mata.
Rensha bergidik lalu memutar tubuh dengan kedua tangan terlipat di depan d**a. Membahas masalah pernikahan membuatnya bingung harus bersikap bagaimana. Tak lama Rensha ingat sesuatu. “Bukannya lo nggak mau nikah?”
Gilbert menggeleng, tidak merasa seperti itu. “Gue jawab belum. Bukan nggak mau.”
“Terus apa yang bikin lo mau nikah sama gue?” tanya Rensha penasaran. “Gue bahkan masih inget lo ngatain gue wanita mata duitan.”
Sepersekian detik Gilbert tidak bisa berkata-kata. Dia mengaku salah saat awal pertemuan. Namun, setelah menyadari Rensha adalah gadis di malam itu membuat Gilbert berubah pikiran. “Karena lo wanita yang selalu hadir di mimpi gue.”
Jawaban Gilbert tentu tidak mudah begitu saja membuat Rensha percaya. Wanita itu memukul lengan Gilbert pelan. “Nggak mungkin cuma gara-gara mimpi lo langsung berubah pikiran. Pasti ada rencana tersembunyi, kan?”
Sontak Gilbert menegakkan tubuh lalu menggeleng. Satu tangannya menggenggam tangan Rensha erat. “Nggak ada rencana apapun. Emang salah kalau gue mau nikah sama lo?”
Rensha menggeleng. “Bukan salah, tapi terlalu cepat.”
“Nggak ada yang terlalu cepat kalau ngomong soal perasaan.”
Kalimat itu membuat Rensha terdiam. Tanpa diminta dia ingat saat awal jatuh cinta ke Verza. Momen saat mereka bertukar sarapan, sarapan bersama hingga terbangun keakraban lalu Rensha mulai jatuh cinta. Benar apa yang dikatakan Gilbert, nggak ada yang terlalu cepat jika bicara soal perasaan. Cinta selalu datang di detik yang tidak bisa ditebak.
“Ren. Kok diem?” Gilbert menyenggol lengan Rensha pelan.
Sontak Rensha tergagap. Dia berusaha mengenyahkan momennya bersama Verza yang sedang berputar di otaknya. “Nggak apa-apa kok. Lagi kepikiran aja papa udah minum obat atau belum,” jawabnya beralasan.
Gilbert seolah percaya saja. Dia kembali sibuk dengan rokok yang sempat dia lupakan. “Lo sering ke sini?” tanyanya ingat pembahasan pertama.
“Nggak sering. Paling seminggu sekali, itupun kalau ada yang ngajak,” jawab Rensha apa adanya.
“Sama siapa? Sahabat lo yang tukang tuduh itu?”
Wajah Rensha memerah tidak terima Verza dikatakan seperti itu. Meski apa yang dikatakan Gilbert memang benar adanya.
“Kalian bersahabat? Yakin sahabat?” tanya Gilbert menyelidik.
Selama ini Gilbert tidak pernah menjalin persahabatan dengan seorang wanita. Baginya wanita diciptakan bukan untuk menjadi sahabat.
“Kita lagi ngomongin apa, sih?” kilah Rensha. Dia mengalihkan tatapannya ke dance floor, melihat manusia yang seolah tidak kehabisan tenaga untuk menggoyangkan tubuh mereka.
“Lusa. Gue kasih duitnya ke lo,” ujar Gilbert saat tidak ada percakapan lagi.
Rensha sontak menoleh menatap Gilbert dengan pandangan menyelidik. “Lo nggak main-main, kan?”
Tangan kiri Gilbert terangkat, melingkar ke pundak Rensha. “Nggak. Gue janji nggak bakal memperumit,” jawabnya. “Setelah duit cair, kita fokus bahas masalah pernikahan.”
Tanpa sadar tangan Rensha terkepal. Hatinya teriris mendapati kenyataan dia akan menikah dengan pria lain, bukan Verza. Rensha mengalihkan pandang, tanpa menjawab kalimat terakhir Gilbert.
“Nggak usah tegang gini. Jadi pasangan seorang Gilbert nggak bikin lo langsung mati. Lo pasti malah menikmatinya.”
“Oh, ya?” tanya Rensha ragu.
Gilbert mengangguk antusias lalu mendekatkan bibir ke telinga Rensha. “Kalau lo nggak percaya coba lo tanya wanita lain buat testimoni. Hahaha.”
“Hahaha...” Mau tidak mau Rensha terbahak karena ucapan Gilbert. Dia menepuk lengan Gilbert, membuat tawa pria itu semakin pecah.
“Lo kira, lo nyediain service jasa sampai pakai testimoni,” ucap Rensha sambil geleng-geleng.
Dari arah dance floor pria dengan rambut acak-acakan berdiri dengan tangan terkepal. Sebelumnya dia tidak pernah semarah ini melihat ada pria lain yang memeluk bahkan membuat Rensha sampai terbahak. Rahang Verza mengeras merasa hatinya tidak bisa melihat Rensha bersama yang lain.
***
Pria berkemeja putih dan celana kain khaki itu berdiri di sebuah pintu apartemen nomor 700. Tangannya basah karena rasa gugup yang menderanya. Matanya memerah dengan kantung hitam yang terlihat jelas.
“Gue harus ngomong ini,” tekad Verza lalu memencet bel di depannya.
Sebenarnya bisa saja Verza membuka pintu di depannya, karena dia tahu nomor kombinasinya. Namun, dia tidak ingin Renga dan papa Rensha curiga.
Tet!
Verza menekan bel sekali lagi. Selang beberapa detik pintu di depannya itu terbuka. Pria dengan rambut basah tanpa atasan menyambut Verza.
“Hai, Kak.”
Renga menatap Verza menyelidik. Sesama pria, Renga tahu jika Verza tengah menyembunyikan kegugupan. Renga membuka pintu lebar, mempersilahkan Verza masuk. “Lo nyari Rensha? Dia udah berangkat kerja.”
Mendengar kenyataan itu Verza menghela napas lega. Dia tidak bisa membayangkan kalau Rensha ada. Mungkin tekad bulat yang sejak semalam Verza bentuk seketika lenyap diganti dengan kebingungan.
“Lo duduk dulu. Gue mau pakai baju,” ucap Renga ingat dia hanya bertelanjang d**a dengan celana pendek.
“Iya,” Verza menjawab singkat.
Selepas kepergian Renga, Verza mengusap wajah. Sejak semalam dia sudah memikirkan ini. Dia bertekad akan menikahi Rensha untuk membantu wanita itu membayar hutang meski risiko mengurus perusahaan papanya harus dia tanggung.
Verza tidak bisa melihat Rensha bersama pria lain. Dia memikiran Rensha, sahabatnya yang begitu baik harus menikah dengan Gilbert. Oke, mungkin Verza seharusnya berkaca karena dia tidak lebih baik dari Gilbert. Namun, dia bisa berjanji akan menghormati Rensha.
“Tujuan lo apa ke sini?”
Suara Renga mengagetkan Verza. Dia mendongak, menatap calon kakak iparnya yang duduk di hadapannya itu. “Om, mana? Gue juga mau ngomong sama beliau.”
Satu alis Renga tertarik ke atas, menatap Verza dengan pandangan menyelidik. “Ada hal penting yang mau lo omongin?”
“Ya. Tentang gue sama Rensha,” jawab Verza mantap.
Meski penasaran Renga memilih diam. Dia berdiri, menggerakkan mata sebagai kode agar Verza mengikutinya. Verza pun berdiri mengikuti Renga yang berjalan menuju kamar utama.
Renga membuka pintu. Tatapannya bersirobok dengan papanya yang berbaring di ranjang. Renga mendekat dan duduk di samping papanya. “Pa. Ada Verza mau ngomong.”
Verza tersenyum, meski senyum itu terasa dipaksa. Dia lalu mendekat dan bersimpuh di samping ranjang. “Gimana kabar, Om?”
Irsya menoleh lalu mengangguk singkat. Seolah menjawab “baik”.
Di kamar hanya terdengar detak jarum jam karena tiga orang itu memilih bungkam. Verza yang merasa suasana semakin tidak mengenakkan mulai membuka suara. “Kedatangan saya ke sini, ingin melamar Rensha, putri Om.”
Kalimat Verza membuat Renga dan Irsya menoleh. Verza yang ditatap dua orang terpenting dalam hidup Rensha itu semakin gugup.
“Lo serius sama adik gue? Nggak ada niatan terselubung, kan?” selidik Renga.
Verza menggeleng tegas. Tidak ada niatan apapun yang dia sembunyikan, ini semua dia lakukan untuk membantu Rensha. “Tidak. Saya serius ingin menikahi Rensha.”
Irsya menatap pria yang melamar anaknya itu. Dia lalu tersenyum. “Tapi Rensha sama pria lain.”
Hati Verza sedih mendengar kalimat itu. Apa itu artinya dia ditolak? Dia mengenyahkan pikiran itu lalu menatap Papa Rensha memohon. “Saya cinta anak, Om,” jawabnya sedikit ragu.
“Cinta? Lo tahu, kan, kalau modal cinta nggak cukup?” tanya Renga realistis.
Verza menganggguk mengiyakan. “Saya akan membayar semua hutang, Om. Dan saya akan membahagiakan Rensha.”
Renga dan Irsya terdiam, mereka sama-sama bingung dengan tawaran Verza itu. Di satu sisi Renga senang karena Rensha tidak perlu menikah dengan Gilbert. Namun, di satu sisi dia kasihan ke adiknya yang seperti barang jaminan untuk mendapatkan uang bayar utang.
“Lo serius? Apa lo bisa ngelunasi hutang sekarang juga?” tanya Renga.
Satu tangan Verza merogoh sesuatu di saku kemejanya. Dia mengeluarkan cek yang telah dia minta dari sang papa lalu menyodorkan kertas itu. “Itu, Kak. Saya kasih lebih.”
“Lo ngasih lebih biar gue sama papa setuju?” tebak Renga.
Sontak Verza menggeleng. “Saya nggak ada niatan kayak gitu. Ini murni karena saya mau bantu keluarga Rensha.”
Mendengar alasan Verza, Irsya menghela napas panjang. Dia menatap Verza menilai, berharap pria yang melamar Rensha itu memang benar-benar pria terbaik. “Kamu yakin dengan anak saya? Saya nggak mau ada perceraian.”
Verza memejamkan mata, memikirkan lagi keputusan yang telah dia ambil. Selama ini dia memang enggan berkomitmen. Apa sekarang waktu yang tepat untuk menjalani hidup baru?