Satu bulan kemudian... "Tidak Naviza! Jangan lakukan ini.." seru Angkasa memohon kepadanya. "Mungkin takdir menuntun kita pada jalan berbeda, Angkasa.." jawab Naviza lirih setengah berbisik, suaranya mulai bergetar, dan air mata yang tak bisa membohongi perasaannya, sudah meluap di pelopaknya. Mereka berada ditengah taman istana Guldora, diatas karpet merah yang melintang sepanjang seratus meter dari pintu masuk. Karangan bunga menghiasi sepanjang sisi karpet merah itu, mengantarkan mereka menuju altar pernikahan (tidak merujuk pada agama apapun) yang indah bertabur mawar putih. Kursi-kursi terjajar rapi dengan balutan kain putih berhias mawar dengan warna senada. Prosesi baru berlangsung beberapa jam lagi, tempat itu masih kosong. Angkasa berdiri disana, ditengah karpet merah, berusa

