Naviza memapah kepala Son ke pangkuannya. Sedari tadi ia berusaha membangunkannya, menepuk-nepuk pipinya, memanggil namanya dengan suara yang parau. Meski sejujurnya dia tahu bahwa tak terdengar lagi detak di dadanya, bahwa tak terasa lagi aliran darah pada nadinya. Naviza menggenggam tangan kanan Son. kini bahkan air mata itu menetes ke wajah Son. Angkasa menyapu kelopak matanya ke bawah, menutupnya, agar dia bisa istirahat dengan damai. Tubuh itu masih terasa hangat, tapi Naviza tidak bisa lagi merasakan kehadirannya disini. Dia benar-benar tidak bergerak lagi. ini adalah pukulan nyata yang teramat menyakitkan untuk mereka. “Son, terima kasih atas perjuanganmu,” ucap Angkasa dalam hatinya. Dia lihat isterinya begitu terpukul. Dipeluknya tubuh yang sebentar lagi dingin itu dengan pen

