Di Guldora. Langit begitu cerah dengan sinar matahari menyilaukan ketika Abyra melepas anak panah ke sepuluhnya. Dengan catatan poin yang buruk. Dari kesepuluh itu, hanya empat yang mengenai sasaran. Sisanya terbang entah kemana. Menancap di tanah bahkan tersangkut ke ranting pohon. Menapak di sebuah batu besar yang landai, dia coba menyeimbangkan siku dan bahunya. Dia kokohkan kuda-kuda kakinya, sedangkan Jemari kaki mencengkeram dengan baik pinggir dan permukaan batu itu. telunjuk dan jempol kanannya menarik tali busur yang sudah dipasang anak panah di tengahnya. Dia miringkan sedikit kepalanya, menutup satu mata untuk membidik titik tengah papan sasaran. “Yang Mulia!” seru pesuruhnya berteriak sambil berlarian dari jauh. Abyra tak mengatensi kedatangannya. Dia tetap

