Seperti yang dijanjikan Arsya. Setiap hari, ia akan mengantar dan menjemput Anjani. Berulang kali pula Anjani menolak. Ia masih mampu menyetir motor. Ia merasa tak enak hati karena membuat Arsya harus lelah di jalan. Namun, laki-laki itu tetap kekeuh dengan pendiriannya. Arsya hanya ingin membuat Anjani nyaman. Ia ingin meyakinkan wanitanya bahwa Anjani berharga dan berhak ia perlakukan bagai ratu. Ia ingin menghapus kesedihan yang Anjani rasakan karena kehilangan kasih sayang ayahnya. Ia ingin membuat Anjani percaya bahwa dirinya adalah pria terbaik yang tidak akan menyia-nyiakannya. “Aku turun dulu, ya. Terima kasih Mas Arsya. Hati-hati di jalan,” pamit Anjani selepas melepas seat belt. Anjani sudah hendak membuka pintu, tetapi tangan Arsya mencekal lembut lengan Anjani. Anjani memic

