Rompang 6

2028 Kata
Anjani melihat sorot mata Sukma yang akhir-akhir ini terlihat meredup. Binar bola mata yang dulu selalu terang, kini mulai kalah dengan kepedihan yang mulai menggerogoti kehidupannya. Anjani tidak ingin banyak bertanya. Ia tahu bahwa ini semua berat bagi keluarga mereka, bagi Anjani, Sukma, Anjeli dan Purnomo. Jika saja ia berani, ia ingin berteriak kenapa ibunya dengan mudahnya melepas Purnomo untuk merajut kisah baru dengan perempuan lain? Semula ia berpikir mungkin ayah dan ibunya memilih berpisah karena sudah tidak satu prinsip. Namun, bukankah prinsip itu akan selalu di-upgrade sesuai dengan lika-liku kehidupan yang terjadi? Ia memilih diam. Ia tidak ingin membuat ibunya semakin bersedih jika ia mencecar alasan perpisahan kedua orang tuanya. Ia yakin, jika memang suatu hari nanti ia sudah siap untuk tahu, semuanya akan ia ketahui. *** Anjani bersama Nabila memasuki salah satu toko buku besar di mall yang letaknya tidak begitu jauh dari SMA mereka. Memutuskan sebangku saat mereka duduk di semester dua kelas 10, membuat mereka menjadi akrab dan bersahabat. Mereka membeli buku kumpulan soal Kimia karena akan diadakan seleksi siswa untuk mengikuti olimpiade tingkat kabupaten/kota. Mereka berniat bergabung dalam kelompok olimpiade Kimia. Mungkin sebagian besar siswa lebih memilih ikut ekstrakulikuler olahraga atau yang lainnya, yang penting jauh dari yang namanya akademis atau pelajaran. Namun, entah mengapa Anjani dan Nabila lebih memilih mengikuti kelompok olimpiade. Hanya mereka berdua yang tahu alasannya. Anjani dan Nabila sudah mendapatkan buku yang mereka butuhkan. Mereka memutuskan segera keluar toko buku untuk membeli minuman dingin. Perjalanan dari sekolah menuju mall cukup membuat mereka haus. Ditambah dengan mengelilingi toko buku, rasa haus semakin terasa bandel. Namun, baru beberapa langkah mereka meninggalkan toko buku, Anjani menghentikan langkahnya. Tubuhnya terasa kaku. Ototnya seperti mati rasa sehingga tubuhnya tidak dapat bergerak. Tulangnya yang memang bukan alat gerak aktif, semakin terasa menempel seperti menempel pada lem. Membuat tubuhnya terasa seperti kayu jati yang kokoh dan kuat. “Kenapa, Jan?” tanya Nabila heran karena tiba-tiba sahabatnya berhenti berjalan. Namun, keheranan itu berubah menjadi kepanikan. Keringat mulai menitik di dahi sahabatnya. Nabila diserang rasa khawatir dan panik yang mendalam. Seingatnya, Anjani masih baik-baik saja ketika mereka berangkat ke mall. Di sekolah pun Anjani masih bugar dan sehat, masih berbagi tawa dengan teman-teman yang lain. 'Apa pendingin mall membuat tubuh Anjani jadi begini?' batin Nabila. 'Tapi kalau kedinginan harusnya ia menggigil, bukan malah mengeluarkan keringat,' lanjutnya. Jani berusaha mengatur napasnya agar lebih stabil. Pemandangan di hadapannya sungguh menyesakkan. Nabila mencoba mengikuti titik objek yang sedang diamati oleh Jani. Ia melihat seorang laki-laki paruh baya yang mengapit lengan seorang perempuan. Jika ia tidak salah tafsir, sepertinya perempuan itu seusia dengan mereka. Di samping laki-laki paruh baya itu, berdiri seorang perempuan paruh baya juga. Sepertinya mereka sepasang suami istri dengan putrinya. “Jan!” Nabila menggoyangkan lengan Anjani dengan sedikit kencang. Anjani tersentak. Ototnya mulai bekerja normal kembali, tetapi tubuhnya sekarang terasa lemas dan lemah. Tulangnya serasa tidak mampu menyokong tubuhnya. Apa yang baru saja terpampang di hadapannya, membuat tubuhnya tak berdaya. Nabila dengan sigap memegangi lengan Anjani erat. Ia tidak tahu apa yang terjadi dengan sahabatnya, tetapi ia berusaha memberikan topangan. Anjani terus mengamati punggung Purnomo, Siti, dan seorang perempuan yang seusianya berjalan menjauh. Tatapannya nanar dan penuh rasa kecewa. “Bil, kita langsung pulang saja, ya,” pinta Anjani dengan suara sangat lirih. “Maaf tidak bisa jalan-jalan ke mall dulu,” lanjutnya sungkan. Nabila tidak banyak protes. Ia memapah Anjani yang melangkah dengan berat. Urusan jalan-jalan ke mall bisa diagendakan lain waktu. “Kamu naik motor balik ke rumahnya? Gimana kalau kamu ku antar saja?” tawar Nabila. Ia tidak akan membiarkan Anjani mengendarai motor ketika sahabatnya itu sedang tidak dalam kondisi yang baik. Anjani menoleh ke arah Nabila. “Lalu motor kamu gimana?” “Gampang. Yang paling penting saat ini kamu sampai rumah dengan selamat,” tegas Nabila. Anjani tidak mampu membantah. Ia mengikuti langkah Nabila menuju motornya. Tanpa perdebatan, ia duduk di boncengan motor miliknya. Biarkan saja Nabila yang menyetir, ia sedang tidak dalam kondisi yang baik-baik saja. Memaksakan mengendarai motor dalam kondisi seperti ini bisa saja menyebabkan kecelakaan. Saat tiba di rumah Anjani, Nabila memapah Anjani hingga tiba di kamar sahabatnya itu. Sukma dengan raut khawatir yang sangat kentara jelas mengikuti mereka berdua. “Anjani kenapa, Nak?” Anjani memandang ibunya dengan sorot terluka. ‘Apa ibu tahu bahwa ayah telah menikah lagi?’ tanya batinnya. “Bu, bisa biarkan Anjani istirahat sebentar? Anjani benar-benar merasa lemah dan butuh istirahat.” Sukma memahami. Ia memang tidak tahu akan hal apa yang menimpa putrinya sehingga pulang dalam kondisi seperti ini. Namun harapannya sebagai ibu, semoga Anjani baik-baik saja. “Kalau gitu aku pamit dulu ya, Jan,” kata Nabila. Anjani mengangguk. Ia mengucapkan terima kasih karena Nabila mau direpotkan olehnya. Tak lupa ia juga meminta maaf karena membuat Nabila repot dan bolak-balik di jalan. Setelah tinggal Anjani seorang diri di kamar, pikiran Anjani kembali melayang pada apa yang dilihatnya tadi di mall. "Apa Ayah sudah lama menikah dengan perempuan itu? Jika Ayah dan perempuan itu tidak atau belum menikah sangat tidak mungkin. Jadi ayah menikah lagi? Kapan?" gumam Anjani lirih. Pikirannya semakin meliar. Berbagai pertanyaan dan spekulasi berputar dalam batin dan saraf pusatnya. Hingga kerja otaknya makin lama makin melemah, membuat tubuhnya memerintahkannya untuk segera beristirahat. *** Anjani bangun dengan tubuh yang masih lemas. Belum makan makanan berat sejak pagi, hanya segelas minuman sereal juga datangnya terpaan yang tidak ia duga membuat tubuhnya lemas dan lemah. Anjani berjalan dengan langkah gontai menuju kamar mandi. Ia mencuci mukanya agar lebih segar. Kemudian saat masih di kamar mandi dan mendengarkan kumandang adzan, ia memutuskan sekalian mandi sore. Tubuh dan wajah Anjani terasa lebih segar. Ia keluar kamar untuk menuju dapur. Lambungnya sudah meronta-ronta untuk diisi. Mungkin masalah besar akan menerpanya ketika ia tahu bahwa apa yang ia lihat tadi adalah sebuah rahasia besar, tapi sekarang ia butuh asupan nutrisi untuk menghadapi masalah itu. Sukma yang hendak menuju kamar Anjani urung melanjutkan langkahnya dan berbalik menuju dapur saat terdengar bebunyian pertemuan antara piring dengan kaca meja. “Alhamdulillah kalau kamu akhirnya mau makan,” ucap Sukma lega. “Ibu baru saja mau bangunkan kamu, eh ada suara dari dapur. Akhirnya ibu ke sini.” Anjani mengangguk sambil mengunyah nasinya. Sukma memasak sayur capjay dengan isian sawi putih, wortel, brokoli, sosis, dan irisan pentol. Ditambah dengan ayam tepung, membuat semuanya terasa lebih sedap. Sambal terasi membuat makan sore itu terasa semakin lengkap dan nikmat. Anjani bersyukur. Meskipun mood-nya sedang tidak dalam kondisi baik, ia dapat makan dengan lancar. “Bu, nanti Anjani ingin berbicara dengan Ibu, ya? Setelah Anjani selesai makan,” kata Anjani setelah menelan nasinya. Sukma memandang Anjani bingung. Hal apa yang akan putrinya bicarakan dengannya? Namun, daripada penasaran, ia memilih menganggukkan kepalanya. Anjani dan Sukma duduk berdampingan di sofa ruang tamu. Di ruang tamu itu, tidak ada sesuatu yang menarik. Perabotan yang ada di ruang tamu mereka, hampir sama dengan ruang tamu orang lain. Sofa, meja, meja kecil di sudut ruang untuk meletakkan vas yang berisi bunga segar, satu gambar yang dipasang di pigora besar dan tertempel di dinding, ada pula kaligrafi yang berisi ayat kursi didampingi di sisi kanan kirinya lafadz Allah dan Rasul-Nya mempercantik sisi dinding lainnya. “Mau berbicara tentang apa, Nduk?” tanya Sukma keibuan. Anjani menghembuskan napas panjang. Semua ini terasa berat. Tenggorokannya terasa tercekat kala mengingat apa yang ia lihat. Hening merajai ruang tamu. Hanya sesekali hembusan napas Anjani yang cukup kuat terdengar. Sukma merasa bahwa Anjani akan mengatakan sesuatu yang berat. “Bu, apa Ibu tahu kalau ayah sudah menikah lagi?” Suara Anjani sangat kecil. Air mata mulai menggunung memenuhi pelupuk mata. Sejak di mall, Anjani tak menangis. Hanya tubuhnya saja yang merespons kejadian tak mengenakkan tadi. Dan saat ini, air mata itu akan mulai tumpah bak air bah yang mengucur deras. "Wanita yang bersama Ayah tadi, istrinya kan?" tanya Anjani terbata. Suaranya terkalahkan oleh tangisan menyayat. Air mata itu tidak dapat ia tahan, Anjani menangis sesenggukan. Sukma segera merengkuh putrinya. Tubuhnya sempat kaku, tetapi dengan cepat ia menguasai diri. Sudah hampir dua tahun perpisahan antara dirinya dengan Purnomo, harusnya ia sudah mampu menerima semua takdir itu dengan ikhlas. Namun, saat ia teringat bahwa Anjani belum mengetahui alasan dibalik perpisahan mereka, rasanya ia tidak sanggup. Ia takut Anjani membenci Purnomo. “Bu? Apa ibu sudah tahu akan apa yang Anjani lihat tadi? Anjani tadi melihat Ayah bersama seorang wanita yang seumuran dengan Ibu dan perempuan yang sepertinya seumuran dengan Anjani,” kata Anjani setelah tangisnya mulai reda. Sukma mengatur napasnya. Ia harus mengatakan hal ini. Ia tidak boleh menunda-nunda dan menutupi hal ini lagi. Anjani wajib tahu. “Ehm.... Nduk, tapi apa kamu bisa berjanji tidak akan membenci siapa pun setelah tahu kebenarannya?” tanya Sukma pelan dan nada memohon. Anjani menatap Sukma dengan heran. “Anjani tidak berjanji, Bu. Anjani bukan anak baik yang bisa menerima segala hal tanpa protes,” kata Anjani tegas. Ya, Sukma mengetahui hal itu. Anjani adalah putrinya yang selalu berprinsip tegas seperti itu. Hal itu sudah mendarah daging dan tidak dapat diubah. “Apa Ibu tahu mengenai pernikahan Ayah?” desak Anjani. Ia tidak sabar. Sukma menghembuskan napas perlahan. Napasnya lebih berat. “Ayahmu memang berniat menikahi Tante Siti sejak pertemuaan mereka di sebuah acara reuni sekolah. Ayahmu dan Tante Siti adalah sepasang kekasih sebelum akhirnya ayahmu menikah dengan Ibu,” ucap Sukma sambil menunduk dalam. Anjani bagai disambar petir di senja itu. Jika senja biasanya disebut sebagai momen yang indah, tidak untuk Jani. Di senja itu, ia baru tahu akan informasi pahit dan menyesakkan d**a. Napasnya tercekat. Ia tidak mampu berkata-kata. Air mata yang sudah mengering, kembali menetes deras. “Jadi, Ayah lebih memilih berpisah dengan Ibu demi menikahi wanita itu?” tanya Anjani pelan. Bahkan, untuk menyebut nama istri baru ayahnya pun ia tak sanggup. Sukma mengangguk. Anggukan itu membuat Anjani semakin sesak. “Apa alasan Ayah, Bu? Jika Ayah masih cinta dengan perempuan itu berarti ayah sudah tidak cinta dengan Ibu, Kak Anjeli, dan Anjani?” Anjani terasa tertohok sendiri dengan kalimatnya. ‘Apa iya Ayah sudah tidak mencintaiku lagi?’ Bukan hanya Anjani yang tertohok kuat, Sukma pun begitu. Ia lebih tertohok dengan kuat. Ia merasa seperti seorang wanita yang memang hanya hadir untuk sesaat. Kemudian ketika datang wanita dari masa lalu suaminya, suaminya lebih memilih kembali dengan wanita itu. “Putri dari Tante Siti mengidap penyakit jantung lemah. Suami Tante Siti sudah meninggal sejak putri mereka berusia lima tahun. Ditambah dengan usia Tante Siti yang mulai bertambah, tubuhnya sudah merasa lelah bekerja. Maka, ayahmu datang untuk menawarkan pernikahan dengannya,” jelas Sukma dengan mata berkaca. “Dan Ibu merelakan Ayah untuk wanita itu begitu saja?” tanya Anjani dengan nada sedikit tinggi. Ia tidak habis pikir dengan jalan pikir ibunya. Selama ini, ia tahu bahwa ibunyalah yang selalu ada dan mendukung pekerjaan ayahnya hingga ayahnya sukses. Dan dengan seenaknya tiba-tiba ayahnya memutuskan hidup dengan wanita lain dari masa lalunya. Anjani mendengus kesal. Pantas saja ayahnya tak pernah mau menemuinya selama ini, ayahnya lebih bahagia dengan keluarga barunya. “Wanita mana yang siap dimadu, Nduk? Ibu lebih baik berpisah dengan ayahmu daripada harus dimadu. Ibu tidak siap. Tidak akan pernah siap. Melihat bagaimana kehidupan Tante Siti, ibu yakin jika ayahmu pasti akan banyak menghabiskan waktunya bersama keluarga barunya itu daripada kita jika memang ayahmu menikah lagi dan ibu tetap menjadi istrinya,” jelas Sukma dengan suara yang sarat akan kepedihan. Anjani membenarkan perkataan ibunya. Ini semua juga berat untuk ibunya. Tidak hanya untuknya. “Lalu, mengapa Ibu tidak memberitahu Jani sejak lama?” “Maafkan Ibu akan hal itu, Nduk. Ibu takut kamu kecewa dengan ibumu. Dan yang lebih Ibu takutkan, kamu membenci ayahmu.” Benar apa yang dikatakan Sukma. Mendengarkan alasan Purnomo menikah lagi karena demi kehidupan lain berhasil membuatnya benci dengan ayahnya. ‘Apa Kak Anjeli tahu akan hal ini?’ Senja itu, mereka habiskan dengan saling menguatkan diri. Menyalahkan keadaan dan takdir pun tidak akan mengubah apa yang sudah terjadi. Tekad Anjani sejak itu adalah ia akan berusaha menjadi perempuan yang kuat dan tidak mudah terbuai dengan rayuan laki-laki. Ia harus membuat benteng yang kokoh. Agar tidak bernasib sama dengan ibunya. Tidak ditinggalkan oleh laki-laki hanya karena kehadiran dari seseorang di masa lalu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN