Taruhan

1113 Kata
"Waduh, jangan bahas itulah aku malu kalau mengingat kejadian hari kemarin, itu adalah hari paling sial dalam hidupku." jawab Wira yang tidak mau membahas pengalaman makan siang di rumah Aulia. "Sial kenapa? Apakah kamu ke gap hansip saat melakukan begituan?" tanya Sandi salah satu rekan bisnis Wira dengan wajah yang penasaran, karena cerita Wira menaklukkan perempuan membuat mereka terinspirasi. Namun sayang mereka yang kebanyakan sudah memiliki istri tidak bisa leluasa seperti Wira. "Bukan, bukan itu. tapi keluarga mereka sangat aneh." "Aneh bagaimana?" tanya Dito menimpali. "Nenek mereka bernapas menggunakan tabung oksigen, ayahnya berbicara dengan suara kencang seperti sedang berburu babi di hutan, dan ibunya terlihat menyukaiku yang. paling parah adalah adiknya dia Walaupun cantik namun garis itu berjalan menggunakan kursi roda." "Terus bagaimana dengan wanita yang kamu incar, namanya siapa kemarin lupa?" "Aulia." "Ya bagaimana dengan Aulia, apakah dia termasuk dari keanehan tersebut?" "Tidak, mungkin dari keluarga itu dialah yang paling normal dengan wajah yang sangat cantik, body yang sangat aduhai dan kulit yang mulus. ketika tersenyum jantungku terasa mau copot, ketika dia berbicara bagaikan alunan musik klasik yang sangat merdu, namun satu yang tidak aku suka darinya." "Apa itu?" tanya Agus yang sejak dari tadi memperhatikan. "Dengan sengaja dia menjebakku untuk mengundang makan bersama keluarganya. ternyata dia bukan menyukaiku melainkan dia ingin mengenalkanku dengan adiknya yang lumpuh." "Lah, Lah! kok bisa, Sang Penakluk kita ini tidak bisa membaca pergerakan perempuannya?" "Memang aku yang salah, Aku tidak terlalu hati-hati menilai perempuan yang sangat cantik dan licik. aku terlalu terfokus memperhatikan kedua belahan d**a yang sangat besar, sehingga aku kalah telak darinya. "Hahaha.....!" gelak tawa pun memenuhi ruangan privasi restoran, membuat wajah Wira sedikit memerah merasa malu karena kala itu dia menjadi bahan olok-olokan bukan mendapat Sanjungan dari teman-temannya. "Ini salah dia sendiri, karena dia berpura-pura lumpuh hanya untuk mendekati Aulia, dan akhirnya dia kemakan oleh umpannya sendiri. Pantas aja Aulia menjodohkannya dengan adiknya yang lumpuh, karena Wira mengaku-ngaku sebagai orang disabilitas." ujar Andi meluruskan kejadian yang sebenarnya. "Waduh kok bisa senekat Itu kamu mendekati perempuan, sampai harus berpura-pura lumpuh?" wirdan bertanya dengan wajah penuh kekaguman karena Wira sangat mendalami perannya. "Itu semua terjadi karena ketidaksengajaan, aku yang sedang berkunjung ke rumah almarhumah ibu, tiba-tiba ada wanita cantik yang datang menghampiri kamarku. kebetulan kala itu aku sedang duduk di kursi roda dan dia mengaku bekerja sebagai pengurus disabilitas di salah satu yayasan. aku yang ingin mendapatkan cinta sejati tanpa memandang harta awal mulanya Aku ingin mengetes Aulia untuk mencintaiku tanpa alasan kekayaan, Namun ternyata usahaku tidak membuahkan hasil. Aku bukan apa-apa tanpa kekayaanku, sehingga aku harus jujur dengan pekerjaan yang kumiliki, tapi aku tidak jujur dengan pura-pura lumpuhku takut dia langsung marah." jawab Wira menceritakan semuanya yang terjadi tanpa ada yang ditutupi, karena meski dia suka bermain dengan wanita tapi dia tidak pernah berbohong dengan rekan-rekannya. "Sampai akhirnya kamu diundang makan, dan ternyata kamu dijodohkan dengan adiknya?" "Iya begitulah.!" jawab Wira dengan menghela nafas berat, merasa senggan kalau harus bertemu kembali dengan Aluna, tapi dia tetap penasaran ingin menaklukkan Aulia. "Emang kamu benar-benar tidak tertarik adiknya itu?" Wira tidak menjawab Dia hanya menggelengkan kepala sebagai penolakan, karena sejak awal dia tidak terlalu suka dengan kekurangan. baik kehidupan ataupun perusahaan harus terlihat sempurna, bahkan ketika karyawannya mengusulkan membuat produk untuk penyandang disabilitas dengan tegas Wira pun memecatnya. "Emang siapa namanya?" tanya Andi yang baru mengetahui cerita atasannya. "Aluna." "Namanya sangat cantik pasti orangnya cantik pula." Timpal yang lain. "Benar dia sangat cantik, bahkan kalau berdiri mungkin tidak kalah tinggi dengan kakaknya. Namun semua itu tidak berarti kalau dia tidak berjalan dengan kedua kakinya " "Jangan berbicara seperti itu karena aku yakin setiap orang yang memiliki kekurangan pasti akan memiliki kelebihan." ujar Sandy menyanggah. "Kalau kamu merasa dia cantik, bagaimana kalau kamu memacari saja Gadis itu, dan kamu bisa merasakan agrenalin baru ketika berpacaran dengan orang yang memiliki kekurangan. kamu belum pernah kan memiliki wanita yang tidak bisa berjalan?" Timpal Dito memberi saran. "Iya Benar, daripada kamu bergonta ganti cewek dari klub malam mendingan kamu coba menjalin hubungan dengan wanita baik. minimal Kalau kamu tidak menemukan kecocokan kamu akan lebih bisa menghargai hidup karena biasanya orang orang seperti mereka memiliki semangat hidup yang lebih tinggi dibandingkan kita yang normal." Timpal wirdan membenarkan. "Kalau kamu tidak memiliki motivasi, Bagaimana kalau kita taruhan?" Agus juga tidak mau kalah menyalakan kompor. "Taruhan bagaimana?" jawab Wira dengan antusias. "Kalau kamu bisa menaklukkan gadis lumpuh itu dan kamu bisa melakukan hal yang biasa kamu lakukan dengan wanita-wanita lain, maka aku akan memberimu 5 juta rupiah." "Ah itu uang sedikit, tidak cukup membuatku tertarik." "5 juta kali 7, sudah 35 juta itu sudah lebih dari berkali lipat UMR Kota Jakarta." tantang Dito yang mungkin memiliki pemikiran yang sama dengan teman yang lainnya. "Memangnya yang lain mau ikut bertaruh?" "Siapa takut, karena aku yakin gadis itu tidak akan mudah kamu Taklukan, soalnya gadis yang memiliki kekurangan mereka sangat unik." Jawab yang lain menyanggupi taruhan. Wira pun mengulum senyum, dia membayangkan bagaimana dia berhubungan dengan wanita yang tidak bisa berjalan, dia merasa tertantang untuk menikmati Aluna yang tidak bisa bergerak dengan leluasa. "Kenapa kamu diam, kamu takut ya?" tanya Agus setelah tidak mendapat jawaban. "Jangan, jangan permainkan hati seorang perempuan. ingat kita lahir dari rahim seorang perempuan Tidak sepantasnya perempuan itu dijadikan taruhan. mereka harusnya disayangi, dipeluk dan dimanjakan. tidak dijadikan mainan." tahan Andi yang tidak setuju dengan usulan rekan-rekan bisnis Wira. "Tidak semua perempuan melahirkan kita, karena yang melahirkan kita hanyalah satu yaitu ibu kita. kalau kita menyakiti Ibu barulah dosa, tapi kalau mempermainkan perempuan lain yang tidak memiliki hubungan keluarga rasanya itu tidak akan salah, karena tidak sedikit perempuan yang menyakiti laki-laki, padahal kalau mereka sadar mereka tidak akan hadir tanpa pompaannya seorang bapak." Jawab Agus yang tidak mau kalah. "Benar, kenapa berpikiran sejauh itu, Lagian ini bukan untuk permainan, Siapa tahu saja Wira lajang sejati bisa menemukan tambatan hatinya. karena aku baca dari wajahnya dia sebenarnya mengagumi wanita itu namun dia tidak mau berkata jujur karena malu untuk mengakuinya. masa iya ke orang pengusaha sukses dengan outlet tersebar di seluruh penjuru Negeri, memiliki seorang Kekasih Yang Tidak bisa berjalan. Jadi intinya kalau Wira tidak berani berarti dia sangat cemen, tidak mau mengakui perasaannya dan kalah sebelum bertanding." Timpal Dito panjang lebar memanas-manasi Wira yang nampaknya takut untuk melakukan taruhan. "Tidak. Aku Bukan Pecundang seperti yang kalian tuduhkan. Oke aku terima tantangan kalian nanti, kalau kalah aku bayar kalian dua kali lipat." "Deal!" Mereka semua pun menyelami Wira dengan wajah tersenyum, karena kalau menang mereka akan mendapat 10 juta secara cuma-cuma. hanya Andi yang tidak terlalu antusias karena dia menginginkan sahabatnya untuk menjalin hubungan yang lebih serius. Wira sudah tidak muda lagi dan sepantasnya dia sudah memiliki istri selayaknya kehidupan pada umumnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN