Kehidupan Arwi yang sangat jauh berbeda 180° dibandingkan adiknya yang selalu mengisi malam-malamnya dengan pergi ke klub atau bermain bersama wanita yang ia temui. sedangkan Arwi setiap malam setelah ibunya meninggal dia lebih memilih tidur lebih awal agar tubuhnya tetap sehat tidak tercampur oleh minuman-minuman yang memabukkan.
Malam itu, Arwi tidur seperti malam-malam sebelumnya tidur nyenyak dengan bermimpi bertemu ibu dan istrinya yang sedang bermain di hamparan bunga yang begitu indah. Arwi terbangun ketika dia mendengar adzan subuh yang berkumandang, tanpa bermalas-malasan dia pun pergi ke kamar mandi kemudian melaksanakan salat subuh sendirian di rumahnya.
Selesai menunaikan kewajibannya Arwi tidak kembali tidur, dia menyibukkan dirinya dengan menyapu dan mengepel rumah milik ibunya begitu teliti dan penuh kejelian sebelum berangkat ke tempat kerja.
Setelah semuanya dirasa rapi, Arwi pun membersihkan tubuh kemudian mengenakan pakaian kerjanya. sebelum berangkat dia mampir sarapan terlebih dahulu di halaman parkir apartemen yang berjajar rapih pedagang kaki lima yang menghidangkan berbagai makanan sarapan, kemudian dilanjutkan dengan mengendarai motor untuk memulai harinya yang akan penuh perjuangan.
Pagi menyingsing di jalan pinggiran kota Jakarta, memperlihatkan wajah yang jauh dari hiruk pikuk kemewahan. Suara langkah kaki pejalan kaki yang bergegas dan bunyi klakson sepeda motor menjadi latar belakang akrab di lingkungan ini. Warung-warung kecil di pinggir jalan sudah mulai membuka pintu dan menyambut pelanggan setia mereka. Bau harum kopi yang sedang diseduh dan bau bubur ayam yang menggoda menyusup di udara, menciptakan aroma khas pagi di jalan ini.
Arwi terus mengendarai motor bututnya, menuju salah satu pemakaman umum yang berada di kota Jakarta. Sesampainya di sana terlihatlah banyak batu nisan batu nisan yang berjajar rapih menghadap ke arah kiblat dengan segera Arwi pun turun dari motor lalu berjalan menyusuri Jalan Gang yang di samping kanan kirinya terhampar dengan begitu rapih pekuburan, disinari oleh Mentari Pagi yang baru keluar dari ufuk Timur.
Suara burung-burung di pohon bambu dan pohon beringin terdengar begitu riuh menyambut keindahan hari sambil mengeringkan sayap-sayap yang basah terkena air embun semalam. Mereka terlihat begitu riang berkicau tanpa memikirkan kesusahan orang yang tinggal di kota Jakarta.
"Selamat pagi Ibu, Bagaimana kamu betah tinggal di sini? semoga Tuhan yang maha kuasa mengampuni segala dosa-dosamu dan menerimamu kembali di sisinya." Ucap Alwi sambil berjongkok di hadapan Pusara sang ibu.
Khayalannya terbang kembali ke masa-masa lampau di mana dihabiskan penuh sukacita kebahagiaan bersama Linda. Tak terasa butiran bening pun mulai keluar dari sudut matanya, meski Arwi adalah pria yang sangat tangguh namun melihat dirinya sekarang sendirian dia tidak bisa menahan kesedihan.
Arwi Terus mendoakan sang Ibu agar dia tenang di alam yang baru sekarang, disaksikan Mentari Pagi yang mulai terasa hangat menyinari tubuh memberikan kesegaran di tengah-tengah kesejukan yang didapat. meski berada di tengah kota pemakaman terasa sangat Asri dengan tumbuhan yang rindang yang berjejer rapih di setiap tepian.
"Selamat pagi Pak." Sapa seseorang yang baru datang.
"Eh pak Mardi. Selamat pagi juga. baru datang pak?" jawab Arwi balik bertanya, dia menyeka mata yang terasa Pedih.
"Yah saya biasa bekerja pagi untuk membersihkan makam-makam di sini, nanti kalau sudah siang bisa beristirahat dan memilih tempat tempat yang teduh, supaya tidak terbakar oleh sinar mentari." jawab Mardi sebagai penjaga makam sekaligus orang yang mengurus TPU.
"Oh begitu, Oh ya kebetulan Bapak ke sini. saya mau bertanya?"
"Bertanya tentang apa?" tanya Mardi dengan mengerutkan dahi.
"Kalau menembok makam kira-kira berapa ya pak?"
"Maksudnya harganya berapa?" Tanya Mardi memastikan.
"Iya pak soalnya saya ingin mengurus Ibu saya sampai selesai, kalau belum di tembok takut nanti hilang."
"Itu harganya variasi Pak. mulai dari yang murah sampai yang mahal."
"Emang bedanya apa?"
"Kalau yang murah biasanya terbuat dari adukan semen dan keramik biasa. tapi kalau yang lebih mewah bisa menggunakan pasir seperti makam yang ini. Atau menggunakan marmer seperti yang itu." jawab Mardi sambil menunjuk-nunjuk salah satu makam yang menggunakan pasir kecil yang suka di gunakan di garasi garasi,
"Kalau yang itu harganya berapa?"
"Ini harganya 6 jutaan Pak, udah termasuk batu nisan."
"Kalau saya mau membuat tembok seperti itu kira-kira saya bisa menghubungi siapa?"
"Sama saya saja Pak, nanti saya minta bantuan kepada tukang yang biasa membuat batu nisan pemakaman."
"Ya sudah nanti saya hubungi lagi."
"Baik Pak, kalau begitu saya lanjut bekerja." ujar Mardi sambil mulai mencabuti rumput-rumput yang berada di area pemakaman, sedangkan Arwi dia merogoh kantong celananya untuk menghubungi seseorang.
"Ada apa Arwi, pagi-pagi meneleponku seperti ini?" tanya orang di ujung sana setelah teleponnya terhubung.
"Kamu sama kakak tidak ada hormat-hormatnya. sekarang aku tunggu di makam ibu!"
"Mau apa?" tanya Wira yang merasa penasaran.
Arwi tidak menjawab pertanyaan itu, dia mematikan teleponnya kemudian duduk kembali di Batu Nisan makam yang berada di samping ibunya. dia terus merenung membayangkan kejadian-kejadian yang sudah berlalu sehingga kesedihan mulai nampak diraut wajahnya.
Suasana pagi terus menyapa dengan ketenangan di Tempat Pemakaman Umum (TPU). Kala itu di TPU ketika pagi hari memiliki keheningan yang dihormati, dihiasi oleh dedaunan yang rindang dan monumen peringatan di antara makam-makam yang tertata rapi. Cahaya matahari pagi yang lembut menyinari tanah makam, menciptakan bayangan yang bergerak perlahan di antara batu nisan. Burung-burung mungkin berkicau di pepohonan, memberikan sentuhan kehidupan pada suasana yang sejuk dan penuh kehormatan.
Ada beberapa keluarga atau teman-teman yang datang untuk berdoa atau sekadar merenung di dekat makam yang dicintai. Suara langkah kaki yang halus terdengar di antara jalan setapak yang bersih, menunjukkan rasa hormat bagi mereka yang beristirahat di sana. Bunga-bunga yang diletakkan di beberapa makam terlihat segar, memberikan nuansa kedamaian dan keindahan. Meskipun suasana di TPU menciptakan rasa kedamaian, namun juga membawa kehangatan bagi mereka yang datang untuk mengenang dan menghormati yang telah pergi.
Dari arah jalan besar terdengar suara mobil sport yang Meraung memamerkan ketangguhannya, membuat orang-orang yang berada di situ sempat melirik ke arah datangnya suara. setelah sampai di parkiran keluarlah seorang pria dengan pakaian yang sangat rapi lengkap dengan jasnya, membuat wanita-wanita yang sedang bertakziah sedikit mengalihkan pandangan, mengagumi ketampanan dari kegagahan pria yang baru turun.
Pria yang menjadi pusat perhatian seolah tak acuh melihat kekaguman orang-orang terhadap dirinya, Dia berjalan dengan begitu gagah dan berani menuju salah satu pemakaman yang masih terlihat memerah, yang mana Di sana sudah menunggu duduk seorang pria yang sedang merenung.
"Sudah...! kamu Tidak sepantasnya datang ke kuburan apalagi untuk meminta ketenangan. kamu bisa pergi ke hotel atau ke klub malam kalau mau mencari kebahagiaan, Lagian Apa untungnya menangisi orang yang sudah tidak ada di dunia ini." ujarnya dengan tiba-tiba ketika melihat Arwi yang sudah menunggunya.
"Aku tidak meminta ketenangan dari kuburan, Aku hanya ingin mengintropeksi diri apa yang sudah aku lakukan untuk orang yang kita cintai. aku merasa kurang menyayanginya ketika Ibu masih berada di dunia." jawab Arwi dengan nada Ketus, melihat adiknya yang selalu berbicara seperti tanpa dipikir terlebih dahulu.