CEO yang Menyebalkan

1111 Kata
Wanita yang sedang mengobrol dengan asisten rumah tangga, matanya tiba-tiba terbelalak, mulutnya terbuka sedikit bahkan makanan yang dipegang jatuh ke atas meja, ketika melihat ada orang yang masuk dengan berpakaian sangat rapi berbeda dengan asisten rumah tangga yang datang tadi pagi. "Ini siapa Bi?" tanya Lisa dengan mata menyala. "Pacarnya bapak bu." jawab asisten itu sesuai dengan yang dijelaskan oleh Cindy Mendengar kata pacar, amarah Lisa pun seketika memuncak karena baru saja dia mendengar bahwa atasannya benar-benar sangat mencintai Aluna, dan dia tidak akan mengecewakan gadis yang duduk di kursi roda. matanya menatap ke arah Cindy membuat wanita itu menundukkan pandangan tidak kuat beradu tetap dengan wanita yang baru datang. "Eh wanita kegatelan, kenapa kamu pagi-pagi masih ada di rumahku?" seperti kepalang tanggung asisten pribadi itu mulai meluapkan emosinya kepada wanita yang ada di hadapan. "Rumahmu? perasaan Arfan bilang kalau rumah ini adalah rumahnya, dan dia mengaku kalau dia belum memiliki Seorang Istri." "Halah....! omongan buaya darat kamu percaya. sekarang kemasi barang-barangmu sebelum aku berubah pikiran, karena ada penyusup ke rumahku." ancam Lisa dengan wajah yang serius. "Tidak, aku tidak akan pergi dari rumah ini karena Arfan sudah berjanji dia akan menikahiku, karena aku sudah memberikan apa yang ia minta." "Dasar w************n, semurah itukah harga dirimu kau obral dengan orang yang belum diketahui asal-usulnya." Mendengar perkataan yang terus memojokkannya, amarah Cindy mulai terpanggil, Dia bangkit dari kursi makan kemudian berdiri menatap ke arah Lisa seolah ingin merekam bulat-bulat. "Jaga bicaramu! Aku mencintai Arfan begitupun dia mencintaiku, tidak ada kesalahan dalam percintaan. yang salah Hanyalah kamu yang tidak bisa mengurus suami, sehingga mencari wanita lain yang lebih muda dan menggairahkan." jawab Cindy tak kalah bengis. "Memang w************n tidak punya etika, sudah tahu berada di rumah orang lain, dia malah membentak yang memiliki rumah. Oke kalau itu yang kamu mau aku akan memanggil pihak yang berwajib supaya kamu dijebloskan ke penjara, karena sudah merebut suami orang lain, dan tinggal di rumah tanpa seizin pemiliknya." jawab Lisa dengan wajah santainya, tidak ada sedikitpun raut ketakutan Yang Terukir di wajah, menirukan Seorang Istri yang sangat kuat dibandingkan dengan Cindy. Kekasih satu malam Wira pun terdiam kembali, seolah kalah dalam berbicara. Lisa yang banyak pengetahuan dan sering menangani wanita-wanita yang tidak mau pulang di rumah atasannya, Dia sedikit Paham bagaimana cara menjatuhkan mental lawan, sehingga Cindy yang belum berpengalaman seolah tidak berkutik dibuatnya. "Kenapa kamu malah diam? buruan kemasi barang-barangmu, sebelum aku berubah pikiran, melaporkanmu dan membusuk di penjara." ancam Lisa yang berada di atas angin. "Bi Apakah benar wanita ini adalah istrinya, karena tadi Bibi bilang bahwa Pak Arfan belum memiliki Seorang Istri?" tanya Cindy sambil melirik ke arah orang yang sejak dari tadi hanya diam memperhatikan. Orang yang ditanya tidak menjawab, karena melihat tatapan Lisa yang begitu penuh emosi, sehingga dirinya sadar kalau Lisa sedang berpura-pura dan ditugaskan oleh majikannya untuk mengusir wanita yang numpang tidur di apartemennya. "Jawab Bi! jawab kenapa Bibi tega membohongiku?" tanya Cindy sambil menggerak-gerakan bahu asisten rumah tangga itu. "Maaf non Cindy, Bibi berbicara seperti itu karena Bibi disuruh oleh Pak Arfan." Mendengar kenyataan yang begitu pahit, tiba-tiba air mata yang sejak dari tadi mengembun kini mulai mengalir membasahi pipi. ketidakberdayaan, penyesalan, rasa kesal dan amarah, berkumpul menjadi satu. namun dia tidak bisa melakukan apa-apa, karena dia hanyalah wanita yang sudah terbuai oleh bujuk rayu Sang Penakluk yang tidak bisa ditolak keinginannya. "Kamu masih tidak percaya, kalau aku istrinya? nih Aku sedang meneleponnya." ujar Lisa sambil menunjukkan layar handphone yang sedang memanggil "Kak Arfan, kak Arfan....! Kenapa Kak Arfan tega membohongi Cindy. Kak Arfan mengaku kalau ke Arfan belum menikah, tapi apa kenyataannya pagi-pagi ada wanita yang datang mengaku sebagai istri kak Arfan?" tanya Cindy sambil Menatap layar yang sedang menunjukkan wajah Wira, air mata terus mengucur membasahi pipi. "Maafkan aku Cindy, Aku tidak jujur tentang statusku. tapi aku sangat jujur bahwa aku benar-benar mencintaimu." jawab Wira dengan wajah datarnya seolah tidak merasa bersalah dengan apa yang sudah ia lakukan. "Dasar lelaki penipu, buaya darat....! Lelaki brengkes...!" hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Cindy dengan segera dia pun masuk ke dalam kamar untuk merapikan barang-barangnya. Setelah semuanya dikemasi dia pun keluar disaksikan tatapan Lisa yang mengulum senyum sinis penuh kemenangan, membuat hati Cindy semakin hancur tak karuan. dengan membawa perasaan yang sangat sedih Cindy pun keluar dari apartemen mewah apartemen yang sudah diangan-angankan menjadi miliknya, namun itu hanyalah mimpi di siang hari bolong. "Bu Lisa, disuruh Pak Wira untuk mengusir nak Cindy?" tanya asisten rumah tangga setelah Cindy keluar dari rumah. "Tidak, aku hanya kesal saja dengan laki-laki brengkes itu. kalau berbicara tingginya sampai menjulang langit namun kenyataannya hanya Nol besar." "Kenapa marah sama Pak Wira, yang disakiti nak Cindy?" "Kalau tidak boleh memarahi Cindy, Apakah Bibi mau dimarahi oleh saya?" jawab Lisa dengan santainya. "Tidak, saya tidak mau dimarahi tanpa alasan yang jelas." "Ya sudah kalau begitu, lanjutkan saja pekerjaannya. Oh ya di mana kursi roda?" tanya Lisa yang mengingat kembali dengan tugasnya. "Kursi roda, untuk apa?" jawab asisten rumah tangga dengan mengurutkan dahi. "Tidak untuk apa-apa. Bibi melihat gak di mana kursi roda itu?" Wanita tua itu terlihat mengerutkan dahi mengingat-ingat kembali setiap sudut apartemen, Wira dan dia pun teringat tadi ketika menyapu ruang tamu ada kursi roda di sana. "Oh, ada di ruang tamu Bu." jawabnya sambil berjalan menuju ke arah ruang tamu diikuti oleh Lisa. Sesampainya di ruang tamu benar saja di sana ada kursi roda yang dilipat, sesuai dengan apa yang diminta oleh Wira. asisten rumah tangga yang belum mengerti dia pun menata heran ke arah Lisa. "Emangnya kursi roda untuk apa Bu?" "Sudah Bibi jangan banyak tanya, lanjutkan saja pekerjaannya." jawab Kisa yang masih merasa kesal dengan Wira, sehingga dia sangat mudah terpancing emosi. Asisten rumah tangga pun manggut kemudian dia kembali ke dapur untuk melanjutkan pekerjaan. sedangkan bisa untuk sementara waktu dia mengistirahatkan rasa kesal dengan duduk di sofa yang berada di ruang tamu. pikirannya mulai terbang ke mana-mana merasa lelah dengan sikap atasan yang selalu memanfaatkannya. Wira selalu menyuruh pekerjaan yang bukan ditugaskan dari kantor melainkan pekerjaan pribadi yang tidak memberikan manfaat. "Kalau aku terus menerus mengikuti kemauan si buaya darat itu pasti dia akan terus memanfaatkanku untuk menyelesaikan ketidakberesan yang dia buat. Aku tidak mau bekerja seperti ini, aku mau bekerja sesuai fashion ku di kantor. mengatur jadwal, membuat rencana dan menjelaskan tentang pekerjaan yang harus dikerjakan oleh seorang CEO, bukan disuruh mengambil kursi roda, disuruh membeli bunga dan pekerjaan-pekerjaan yang tidak berhubungan dengan tugas kantor." perkataan yang berada di dalam pikirannya mulai membuat Lisa tidak nyaman mengikuti Wira meski atasannya sangat baik namun dia tidak Selayaknya Untuk dimanfaatkan mengurusi tugas pribadinya, karena dia asisten pribadi di kantor bukan asisten rumah tangga yang berada di rumah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN