Wira terlihat manggut-manggut seolah mengerti dengan apa yang dimaksudkan oleh sahabatnya yang bernama Andi, kemudian dia mengulum senyum sambil menatap bawahannya yang sabar menunggu keputusan yang hendak diambil.
"Benar, kayaknya itu lebih baik aku harus mengenal orang tuanya terlebih dahulu, nanti hati anaknya akan luluh mengikuti keinginan orang tua."
"Berarti untuk yang sekarang akan lebih serius menjalin hubungan?"
"Mungkin seperti itu, tapi aku juga belum tahu tentang perasaan yang sedang aku rasakan sekarang. apakah aku benar-benar mencintainya atau aku hanya tertarik dengan kecantikannya?"
"Kalau menurut saya. kalau bapak tertarik bapak jalin hubungan lebih serius, jangan sampai membuang-buang waktu lagi."
"Semoga aja seperti itu." jawab Wira sambil merebahkan punggungnya ke sandaran kursi eksekutif, membayangkan kejadian-kejadian yang sudah berlalu dan akan ia lalui bersama Aulia gadis cantik yang ia temui tanpa disengaja.
Setelah tidak ada lagi obrolan, Aldi pun meminta izin untuk melanjutkan pekerjaan karena meski dia dan Lisa sangat dekat dengan atasannya, namun mereka tidak memanfaatkan kedekatan untuk berleha-leha dalam bekerja, mereka tetap tanggung jawab sehingga perusahaan Wira terus berkembang begitu pesat.
Sesudah beberapa saat melamun dan melihat lihat pekerjaan yang sedang ia tangani Wira pun keluar untuk melanjutkan aktivitas, sesuai dengan jadwal yang sudah dibacakan oleh Andi. ditemani oleh Lisa dia pun terus bekerja sebagaimana mestinya.
Hari pun berlalu begitu cepat, bagaikan sebilah pedang yang sedang dihunuskan. tidak ada yang bisa menghentikan waktu sehebat apapun orangnya, sekaya apapun harta yang dimiliki, waktu akan terus berjalan sebagaimana mestinya
*****
Kring, kring, kring.....!
Terdengar Jam Weker berbunyi membuat orang yang berbaring sedang terlelap terperanjat kaget, dengan segera dia pun bangun lalu mengambil jam weker yang sudah menunjukkan jam 07.00 pagi.
Tanpa membuang waktu orang itu bangkit dari tempat tidurnya, kemudian masuk kamar mandi untuk membersihkan diri agar tubuhnya kembali segar.
Tak lama diantaranya dia pun sudah rapi dengan memakai celana bahan berwarna hitam, baju kemeja lengkap dengan jas berwarna coklat. setelah merasa tidak ada yang kurang dia pun mengambil kursi roda yang berada di ruang tengah kemudian mendorongnya ke dekat pintu.
"Untung di rumah ini ada jam weker. Kalau tidak ada, bisa-bisa aku kesiangan dan tidak bisa bertemu dengan Aulia yang pasti sudah berangkat bekerja." ujar pria itu sambil menundukkan tubuhnya di atas kursi roda.
Dia pun keluar dari apartemen, tak lupa dia mengunci pintunya. lalu memutarkan roda untuk mendekati salah satu pintu yang berada di apartemen, tak lama diantaranya dia pun mengetuk pintu itu.
Ceklek!
Pintu pun terbuka, terlihatlah gadis cantik yang masih lengkap dengan baju piyama yang sedikit menerawang, membuat Wira sedikit terperangan mengagumi keindahan yang dimiliki oleh Aulia.
"Maaf mengganggu pagi harimu." ujar Wira sambil manggut memberi hormat. menunjukkan bahwa dirinya adalah pria yang elegan walau dalam keadaan cacat.
"Tidak, aku tidak terganggu. Lagian sebentar lagi aku akan mandi dan pergi bekerja di hari Sabtu."
"Syukurlah kalau tidak mengganggu. maksudku menemui untuk memastikan Apakah tawaran yang kamu berikan masih tersedia?"
"Tawaran yang mana?" Jawab Aulia balik bertanya bahkan matanya terlihat menyipit mengingat apa yang sudah ia putarkan.
"Tawaran besok untuk makan di rumah orang tuamu?"
"Oh itu, ya pasti jadi lah. karena nanti sore aku akan pulang."
"Jadi kita tidak berangkat bersama?"
"Mohon maaf tidak bisa, karena aku biasa pulang di hari Sabtu untuk berkumpul bersama keluarga."
"Kirain kita akan berangkat bersama?" Tanya Wira dengan wajah yang kecewa.
"Mohon maaf, bukannya apa-apa. aku ingin memiliki waktu luang bersama keluargaku di rumah."
"Iya tidak apa-apa, aku mengerti kok." jawab Wira yang kecewa bukan karena dia tidak bisa pulang bersama Aulia, namun yang ia kecewa kenapa kemarin dia memikirkan ketakutan kalau dirinya pergi bersama Aulia, maka dirinya harus tetap berpura-pura sebagai orang cacat yang mengendarai mobil disabilitas. tapi ternyata Aulia tidak mau berangkat dengannya.
"Oke kalau begitu aku tunggu di rumah."
"Terima kasih, kalau begitu aku berangkat kerja dulu." Pamit Wira yang masih kalut diselimuti kekecewaan sampai-sampai tujuannya menemui Aulia tidak teringat.
Wira mulai memutarkan roda kursinya untuk menuju lift, sedangkan Aulia dia masuk ke rumah untuk membersihkan tubuh sebelum pergi ke tempat kerja. namun baru saja dia hendak membuka baju, dia pun teringat kalau dirinya belum memberi tahu alamat rumah kedua orang tua sehingga dia pun berlari menuju jendela.
Wira setelah berada di dalam lift dia pun bangkit dari kursi rodanya, kemudian berdiri karena terlalu lama duduk di sana membuat ruang geraknya menjadi terbatas. setelah keluar dari dia pun mendorong kursi roda untuk menuju pintu keluar.
Setelah menuruni tangga menuju lobi, barulah Wira duduk. beruntung ketika Aulia mengeluarkan kepalanya dari jendela dia sudah duduk kembali di kursi roda.
"Wira, Wira.....! Wira....!" Panggil Aulia yang berteriak dari atas.
"Iya ada apa?" jawab Wira dengan mengulum senyum membuat orang-orang yang berada di sekitar halaman parkir menoleh ke arah mereka berdua. ada dua pemuda yang menata Wira dengan begitu aneh karena mereka melihat tadi Wira keluar dengan berjalan kaki, kenapa sekarang dia malah duduk di kursi roda.
"Aku belum ngasih tahu alamat rumah kedua orang tuaku, nanti Bagaimana kamu bisa ke sana?" ujar Aulia dengan berteriak.
"Yah aku lupa juga, tadi aku menemuimu ingin bertanya tentang alamat rumah orang tuamu."
"Ya sudah, kalau begitu nanti aku akan Tuliskan alamatnya dan memasukkan ke apartemenmu."
"Baik, terima kasih ya!" jawab Wira sambil mengangkat ibu jari.
Aulia pun membalas perkataan Wira dengan melakukan hal yang sama, terlintas senyum kebahagiaan yang Terukir di bibirnya, membuat Wira semakin yakin bahwa Aulia sudah masuk ke dalam perangkapnya.
Wira mulai memutar kembali roda kursinya untuk pergi menuju tempat kerja, meski hari Sabtu Hanya bekerja setengah hari, namun dia tetap datang karena dia sangat berdedikasi dengan perusahaan yang ia miliki. namun alangkah sialnya Wira yang terus memperhatikan Aulia yang masih berada di jendela Apartemen, dia tidak melihat jalan yang dipijak oleh roda Kursi yang melewati besi greeting girll atau besi penutup drainase, membuat roda kursinya terjebak. Wira berusaha memutar dengan sekuat tenaga namun roda itu tetap tidak bisa mengangkat dan melewati grating grill.
Aulia yang terlihat masih berada di jendela, dia merasa heran kenapa Wira masih berhenti di halaman parkir membuatnya berteriak kembali.
"Lagi ngapain?" tanyanya sambil memperhatikan gerak-gerik Wira.
"Aku sedang menikmati cahaya mentari pagi karena itu bagus untuk tulang, dan kebetulan Mentari Pagi ini sangat indah dan begitu cerah." Jawab Wira sambil menyipitkan mata, menatap ke arah sang mentari pagi yang memberikan kehangatan.
Aulia pun melakukan hal yang sama, melihat langit yang begitu cerah, tak ada awan yang menghalangi sepertinya hari itu akan panas.