Setelah membayar ongkos angkutan umum Aulia berjalan sedikit gontai menuju ke halama apartemen akibat rasa lelah setelah seharian bekerja. Sinar senja memeluk langit dengan warna jingga yang lembut, menandakan sebentar lagi akan perpisahan hari. Halaman apartemen dipenuhi dengan cahaya keemasan yang menyoroti paving block yang penuh lumut. Sampah dedaunan berserakan di sekitar pepohonan dan pot-pot tanaman yang tak terurus menari-nari dengan gemerlap cahaya senja.
Suara riuh kicau burung mengisi udara, menciptakan musik alam yang menenangkan di tengah hiruk pikuk kehidupan apartemen kumuh yang lebih layak disebut rumah susun. Burung-burung kecil terbang dari cabang ke cabang, mencari tempat yang nyaman untuk bersarang. Kicauan mereka memberikan sentuhan hidup pada suasana senja yang tenang.
Di sudut halaman, beberapa anak-anak tertawa riang, bermain dengan sepeda dan bola. Gaya rambut mereka yang berantakan dan senyuman yang ceria mencerminkan kebahagiaan sederhana yang hanya bisa ditemui di tengah-tengah kepolosannya.
"Rasanya hari ini sangat lelah sekali, padahal pekerjaan tidak terlalu berat seperti hari-hari sebelumnya, karena orang yang diurus tidak terlalu banyak." gumam hati Aulia sambil terus berjalan menyusuri lorong hingga dia pun tiba di lift.
"Beruntung meski Apartemen ini sangat kumuh, ada lift yang masih bisa digunakan sehingga aku tidak harus menaiki tangga di tengah kelelahanku." lanjut gumam hati Aulia setelah berada di dalam, namun dia sedikit menahan nafas karena baunya tidak ramah di hidung.
Ketika tiba di lantai 4, pintu lift pun terbuka. keluarlah Aulia mendekat ke salah satu pintu, tanpa ada yang dipikirkan dia pun membuka kuncinya lalu melepaskan sepatu cats yang ia kenakan.
"Sebelum mandi Kayaknya aku harus merebahkan tubuh terlebih dahulu, agar tenagaku pulih kembali." ujarnya sambil membaringkan tubuh di sofa yang berada di ruang tamu, tangannya merogoh tas yang ada di meja kemudian memutar musik mellow kesukaannya.
Sesekali Aulia terlihat mengikuti lirik yang ia hafal, sesekali dia hanya memanggut-manggutkan kepala mengikuti alunan musik yang ia putar melalui handphonenya. Aulia nampak sangat menikmati momen itu sambil mengistirahatkan tubuh selepas seharian bekerja.
Lama-kelamaan matanya yang semula terbuka dan bibirnya yang terus bergumam, tiba-tiba mata itu mulai tertutup tidak kuat menahan kantuk yang mulai menghinggapi.
Truk! truk! truk!
Namun Baru beberapa saat saja Aulia beristirahat terdengar suara ketukan dari arah pintu, membuat Gadis itu terperanjat kaget. dengan segera dia pun merapikan bajunya yang tadi dibuka kancingnya, kemudian dengan gontai dia pun berjalan menuju ke arah pintu.
Setelah dibuka terlihatlah ada seorang pria yang sedang duduk di kursi roda, dia tersenyum ramah bahkan terlihat manggut memberi hormat.
"Eh ada Pak Wira, Ada apa Pak?" tanya Aulia yang terlihat mengerutkan dahi namun tidak mengurangi kecantikannya.
"Mohon maaf mengganggu, baru pulang kerja ya?" jawab Wira balik bertanya.
"Iya Pak, Saya baru saja sampai ke apartemen. tidak, tidak mengganggu kok." Jawab Aulia dengan seutas senyum di bibirnya, membuat jantung Wira kembali bergejolak.
"Terima kasih kalau tidak mengganggu, saya datang ke sini ingin mengajak Aulia untuk ngopi bersama."
"Di mana?" tanya Aulia sambil sambil menatap penuh penasaran.
"Di rumah saja, karena kalau keluar nanti takut aulianya capek dan minder."
"Minder kenapa?"
"Karena teman ngopinya orang yang disabilitas, orang yang hanya berjalan menggunakan kursi roda."
"Jangan berpikiran seperti itu karena saya tidak pernah membeda-bedakan orang. memang benar kalau kita ngopi di luar bukan karena saya malu memiliki teman yang disabilitas, melainkan saya masih merasa lelah."
"Terus bagaimana, apakah kita bisa ngopi bersama?" Ujar Wira mengulang kembali pertanyaannya, hatinya berdegup takut wanita yang selalu mengganggu pikirannya menolak.
"Boleh, tapi sebentar saya mandi dulu. barusan saya ketiduran."
"Oh tidak apa-apa, saya tunggu di rumah." jawab Wira dengan hati yang berbunga-bunga karena rencananya berjalan dengan sangat mulus
Setelah itu dia pun berpamitan kemudian memutarkan roda untuk pergi meninggalkan depan pintu apartemen wanita pujaannya, sedangkan Aulia dia pun masuk kemudian masuk ke kamar mandi untuk mengembalikan lagi kesegaran tubuhnya.
Sesampainya di ruang tamu apartemen ibunya. Wira pun mengulum senyum membayangkan Bagaimana Aulia sedang mandi, tubuhnya yang begitu bagus tidak terlepas dari lamunannya, sehingga membuat kedua sudut bibir pria itu terangkat.
"Sekarang kamu mandi sendiri, nanti ketika kita sudah sah menjalin hubungan kita akan mandi berdua." ujar Wira yang selalu seperti itu, Dia mendekati perempuan hanya untuk menikmati saripati bunganya.
Wira terus tertegun di ruang tamu, sampai Dia teringat bahwa dia mengundang Aulia untuk ngopi bersama. dia terlihat panik karena dia menawarkan hal yang belum ia ketahui keadaannya.
"Aduh kenapa aku sampai lupa, Bagaimana kalau di rumah ini tidak ada kop,i mana tidak ada warung dekat sini. bodoh, bodoh. kenapa aku bodoh seperti ini?" gumam Wira sambil menjalankan kembali roda kursinya untuk menuju ke dapur.
Setibanya di tempat masak, dia pun memindai keadaan sekitar yang terlihat masih tersusun rapi, karena ibunya sangat mencintai kebersihan. Wira mulai membuka toples satu persatu Berharap ada benda yang dicari, namun beberapa saat mencari dia tidak menemukan, dia hanya melihat bumbu-bumbu dapur saja, mulai dari garam penyedap rasa, lada dan lain-lainnya.
"Benar kan aku selalu tidak memperhitungkan hal sekecil ini, kenapa tadi aku ngajak ngopi di rumah sedangkan kopinya tidak ada?" gumam Wira, dengan wajah Sedikit panik terus memindai seisi dapur berharap ada kopi yang bisa diseduh.
"Kayaknya ada di kabinet atas, karena Ibu jarang sekali ngopi." ujarnya setelah membuka seluruh kabin bawah yang di dalamnya hanya ada perabotan masak.
"Tapi bagaimana aku mengeceknya soalnya aku kan tidak bisa berdiri?" tanya Wira kepada dirinya.
"Ah tidak apa-apa, aku berdiri saja. Lagian aku bukan orang yang lumpuh, aku hanya pura-pura." gumam Wira sambil bangkit dari kursi rodanya kemudian dia pun membuka satu persatu kabin atas.
Benar saja di lemari bagian atas kompor terlihat ada gula dan kopi yang berada di toples, membuat Wira tersenyum lega ah soalnya apa yang ditakutkan tidak terjadi.
Ceklek!
Tiba-tiba pintu rumah terbuka, membuat jantung Wira terasa mau copot .dengan segera dia pun mendudukkan tubuhnya ke atas kursi roda, Namun sayang kursi yang tidak dikunci membuatnya menjauh ketika ditekan. Tak aya lagi tubuh Wira pun terjungkal ke belakang.
Blugh!
Mendengar keributan di dapur, Aulia yang baru saja masuk dengan segera berlari menuju ke arah datangnya suara, terlihatlah Wira yang sedang terlentang sambil meringis menahan sakit di sekitar area pinggang.
"Pak Wira, Pak Wira, Pak Wira kenapa?" tanya Aulia dengan sedikit histeris karena melihat tuan rumah yang memprihatinkan.
"Aduh, aduh, sakit...!" jawab Wira yang sangat pandai memanfaatkan situasi, meski tubuhnya terbentur ke lantai namun itu tidak akan membuat Cedera yang parah, karena masih tertahan oleh kursi roda.