"Apa itu?" tanya Wira dengan menatap lekat ke arah wanita yang berada di hadapannya, tatapan penuh rasa penasaran dengan apa yang akan disampaikan.
"Tapi janji kamu tidak boleh kaget ketika mendengarnya!"
"Yah, aku janji." jawab Wira sambil mengangkat dua jarinya menandakan kesungguhan apa yang dia ucapkan.
"Bokongku." jawab Aluna dengan sedikit berbisik, takut terdengar oleh pengunjung lain.
"Bokongmu?" ulang Wira seolah tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Kamu sudah berjanji tidak akan kaget, Kenapa wajahmu terlihat terkejut. memang ada yang salah ketika Aku mengagumi bagian tubuhku sendiri."
"Emangnya secantik apa bokongmu?" tanya Wira yang sudah kembali menguasai keadaan, Bahkan dia mengulum senyum melihat keberanian Aluna.
"Tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan keindahan itu, hanya bisa dilihat oleh kedua mata. namun sayang jarang sekali dan mungkin tidak ada yang pernah melihatnya, sehingga orang-orang lebih mengagumi wajahku dan tubuhku melewatkan tubuh terindah yang aku miliki." jawab Aluna dengan penuh kebanggaan, Bahkan ia pun hendak mengambil kembali minuman anggur yang masih tersisa.
"Sudah jangan terlalu banyak minum, ingat minum anggur itu kalau Sedikit baik untuk kesehatan, tapi kalau kebanyakan nanti kita bukannya menjadi baik tapi menjadi ngaco, seperti orang-orang yang sudah kecanduan." tahan Wira dengan memegang tangan lembut milik alunan, membuat mata Gadis itu yang sudah mulai memerah menatap lekat ke arahnya suara tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Sayang kalau tidak dihabiskan nanti mubazir. Satu tekuk lagi aku tidak akan menambah."
Wira pun dengan berat hati membiarkan Aluna menghabiskan minuman anggur yang berada di gelasnya, mungkin Wira sekarang mulai paham walaupun Aluna kelihatannya sangat tangguh tapi hatinya sangat rapuh, karena tidak mungkin seorang yang memiliki beban berat tidak merasa terbebani oleh keadaannya.
Suasana meja Wira dan Aluna pun menjadi Hening seketika, terlarut mengantar lamunan masing-masing. suara piano terus dimainkan untuk menemani makan malam yang sangat didambakan oleh setiap pasangan baik yang belum menikah ataupun yang sudah berkeluarga, karena di meja Makanlah mereka saling bertukar cerita membahas satu sama lain tentang kebahagiaan-kebahagiaan di mata depan.
"Ini adalah musik favorit ibuku." ujar Wira membuka kembali pembicaraan ketika sang pianis memainkan sebuah musik klasik yang sering didengar oleh ibunya.
"Oh iya, aku dengar dari Aulia kalau ibumu sudah meninggal?"
"Yah benar beliau sudah meninggal. Kadang aku merasa sedih ketika mengenang kembali kehidupan keluarga yang sangat bahagia kala itu. di mana Setiap pagi aku dan Arwi selalu berebut sarapan nasi goreng buatannya, nasi goreng yang dibuat dari sisa nasi hari kemarin ditemani lagu-lagu klasik untuk menyemangati pagi hari yang sangat membutuhkan energi." Jawab Wira mengenang kembali kehidupan masa lalunya.
"Memangnya sekarang kamu tidak bahagia?" tanya Aluna yang ingin mengenal lebih jauh sosok laki-laki yang berada di hadapannya.
"Kehidupanku sangat dipenuhi oleh kebahagiaan, namun kebahagiaan itu tidak aku dapat dari keluarga yang harmonis, kebahagiaan itu hanya aku dapat dengan kerja kerasku."
"Kenapa kamu bilang keluargamu tidak harmonis?"
"Saat aku berumur 7 tahun, mungkin waktu itu aku kelas 2 SD. aku masih mengingat yang kedua orang tuaku bertengkar hebat sampai akhirnya tiba-tiba aku pindah tempat tinggal bersama ayahku, yang terus mencuci Otaku dengan ini keburukan keburukan Ibu, Sampai akhirnya aku sangat membencinya. karena Ibu adalah penyebab keretakan rumah rumah tangga keluargaku. lambat laun aku baru sadar, bahwa bukan hanya ibu lah yang salah melainkan Ayahku juga melakukan kesalahan. namun ketika aku hendak kembali menjalin hubungan baik dengan ibu beliau sudah meninggal, pergi tak akan kembali."
"Jadi Setelah orang tuamu bercerai kamu ikut bapak dan kakakmu ikut ibumu?" tanya Aluna memastikan.
"Benar begitu." jawab Wira yang terlihat menghela nafas dalam, seolah menyembunyikan kesedihan yang sedang dialaminya.
"Sudah jangan terlalu menyalahkan dirimu sendiri dan tidak boleh menyalahkan orang tuamu juga, karena semua yang terjadi di dunia ini adalah kehendaknya. tinggal Bagaimana cara kita mengambil hikmah dari semua kejadian yang dialami."
"Aku merasakan Perkataanmu memang benar Begitu adanya.kalau aku masih tinggal dengan keluarga mungkin aku tidak akan berusaha lebih keras untuk menggapai semua impianku."
"Syukur, kalau kamu sudah paham. Semoga saja kamu tetap bahagia walaupun tidak bersama ibumu."
Malam itu baru pertama kali Wira berkata jujur kepada seorang wanita. perempuan yang hanya duduk di kursi roda yang mampu membuat dirinya merasa nyaman mengobrol banyak tentang masalah pribadi tanpa mengagungkan pekerjaan yang sudah ia gapai.
"Oh ya satu lagi, Aku boleh bertanya tentang hal yang lebih serius?"
"Boleh, kamu mau bertanya tentang apa?" tanya Wira dengan menatap wajah Aluna seolah menantang kalau dirinya sudah siap untuk membuka seluruh rahasia pribadinya.
"Sebelumnya Jangan tersinggung. kenapa sampai saat ini kamu belum menikah, aku aku rasa umurmu sudah terlalu cukup untuk melakukan hal itu?"
Mendengar pertanyaan itu Wira pun hanya mengulum senyum tipis yang menghiasi bibirnya, Mungkin dia sudah tahu apa yang akan ditanyakan oleh gadis cantik yang berada di hadapannya.
"Kalau kamu keberatan, kamu tidak usah menjawab. karena itu hak masing-masing yang harus menentukan Jalan hidupnya sendiri-sendiri."
"Alasan pertama aku tidak menikah, aku takut ketika aku memiliki anak, mereka menjadi korban atas pertikaian orang tuanya. aku masih beruntung Hidupku Masih bisa tertata rapi dengan didikan Ayahku, aku melihat banyak di luar sana anak-anak yang terlantar bahkan sampai harus diadopsi oleh orang lain akibat kegagalan orang tua dalam membina rumah tangga." jawab Wira yang mencurahkan isi di dalam hatinya dan daripada membuat kesalahan yang akan merugikan anak-anaknya nanti, dia lebih memilih mengorbankan dirinya sendiri dengan memacari dan meniduri setiap wanita yang ia temui.
"Benar, makanya ada orang bijak mengatakan. keberhasilan dalam rumah tangga itu adalah menciptakan anak yang berguna bagi bangsa, nusa dan agama. itu semua bisa diwujudkan ketika mereka memiliki Pondasi yang kuat tapi, kalau pondasinya retak bagaimana anak-anak yang membutuhkan figur, mereka akan tumbuh dalam kebaikan, yang ada mereka menjadi korban tidak menutup kemungkinan akan menjadi brutal."
"Nah itulah yang selalu menghantuiku sekarang." jawab Wira yang kembali menghela nafas dalam seolah tidak sanggup untuk melanjutkan kehidupan layaknya kehidupan orang lain yang memiliki keluarga.
"Tapi ada pepatah lain yang mengatakan, ketika kita terpuruk dalam ketakutan maka kehidupan kita tidak akan maju. orang-orang yang sukses mereka bukan tidak pernah melakukan kesalahan, namun mereka terus mencoba menutup kesalahan itu sampai menciptakan kesempurnaan. jadi itu bukan alasan untuk kita tidak hidup sebagai manusia normal pada umumnya yang membutuhkan sebuah keluarga untuk membangun kerajaan kecil di dalam hidupnya."
"Semoga saja aku bisa memiliki kekasih yang saling mengerti, saling memahami, saling membantu satu sama lain. menciptakan keluarga yang sering diinginkan oleh Kebanyakan orang yaitu keluarga yang harmonis penuh kasih sayang di dalamnya."
"Amin, Kenapa kita berbicara sejauh itu Padahal aku hanya menanyakan kamu kenapa belum menikah sampai saat ini?"
"Tidak tahu juga, mungkin kenyamanan yang diberikan membuat kita berani berterus terang." jawab Wira yang mengeluh senyum kemudian dia meneguk air putih yang ada di gelasnya untuk memecah ketegangan yang tepat terjadi.