Dua Kursi Roda

1076 Kata
"Bergabung untuk apa?" tanya Wira yang terlihat mengerutkan dahi. "Bergabung dengan musik orkestra, supaya kepercayaan diri kita semakin tumbuh tinggi, tidak minder berhubungan dengan orang lain." "Kayaknya tidak, karena kita sudah memiliki profesi masing-masing." "Aku tahu pasti jawabannya kamu akan menolak." jawab Aluna yang terlihat mengukir senyum indah membuat Wira sedikit tertegun, terpesona oleh kecantikan gadis berkursi roda malam itu. "Oh ya, kamu mau langsung pulang atau mampir terlebih dahulu ke restoran untuk makan malam?" tanya Wira mulai mengalihkan pembicaraan ke tujuan awal. "Kamu mengajakku untuk dinner malam ini?" jawab Aluna seolah tidak percaya. "Ya Itupun kalau kamu memiliki waktu, tapi kalau tidak kita harus menjadwal ulang. Mendapat pertanyaan seperti itu Aluna pun terlihat terdiam sebentar, seolah mempertimbangkan tawaran yang diberikan, namun itu tidak lama karena seutas senyum mengisyaratkan bahwa dirinya akan memberikan jawaban yang diinginkan. "Baiklah kalau kamu mengajakku dinner malam ini tapi aku tidak bisa memakai make up, aku akan tampil begini adanya. Soalnya semua make up ku ada di dalam tas." Jawab Aluna layaknya kebanyakan wanita pada umumnya yang merasa minder kalau wajahnya tidak di rias. "Kamu sangat cantik walaupun, wajahmu tidak dipoles dengan bedak." "Ya sudah kalau begitu, kita mau makan malam di mana?" "Tapi sebelum kita pergi ke restoran aku memiliki satu permintaan." "Permintaan tentang?" tanya Aluna dengan menatap lembut ke arah wajah Wira. "Untuk dinner malam ini aku berharap hanya kita berdua saja yang makan, karena aku ingin berduaan bersamamu, ingin mengenal, mengenalkan lebih jauh tentang siapa diri kita masing-masing." "Baiklah, kalau itu tidak akan sulit karena Sekarang aku tidak memiliki janji dengan siapapun. malam minggu kemarin aku memiliki janji bersama teman-teman untuk merayakan kemenangan, aku tidak bisa menolak karena tidak mau menyakiti perasaan mereka." "Terima kasih sebelumnya. "Ya sudah ayo berangkat, Nanti keburu malam." Wira pun menekan tombol mundur kursi rodanya kemudian menekan tombol sebelah kiri untuk Berputar Ke sebelah kanan, tangannya melebar mempersilahkan Aluna untuk berjalan di depan. Aluna hanya mengulum senyum tipis melihat kelakuan Wira, dengan segera dia pun mendorong kursi roda untuk meninggalkan Gedung Teater. namun ketika baru saja berjalan beberapa meter dengan penuh perhatian Wira mulai mendorong kursi roda milik Aluna, sehingga pertunjukan yang sangat aneh pun mulai terlihat, di mana ada dua orang yang sedang Kasmaran dan memiliki satu kesamaan yang sama. berbeda dengan Aluna yang merasa bahagia melihat perlakuan-perlakuan Wira yang begitu memperhatikannya. Kedua orang itu terus berjalan melewati trotoar khusus yang digunakan untuk disabilitas. mencari restoran yang masih buka. pertunjukan yang dilakukan oleh Aluna tidak terlalu malam sehingga masih banyak restoran-restoran yang melayani para pengunjung. "Sebenarnya kita mau ke restoran yang mana?" tanya Aluna yang menoleh ke arah belakang. "Menurut sepengetahuanku di dekat Gedung Teater ada restoran yang enak." "Masa sih, padahal aku sering melakukan pentas di auditorium ini, tapi aku belum tahu kalau di sini ada restoran yang enak atau mungkin akunya yang tidak pernah pergi makan di tempat yang mewah, karena menurutku makan di tempat mewah ataupun tempat biasa itu sama saja, sama-sama menjadi kotoran hanya gengsi dan egolah yang tinggi." "Jadi, kamu menginginkan kita makan di tempat seperti apa?" tanya Wira yang mendahului Aluna ya terlihat menatap Gadis itu seolah ingin menyelami perasaan. "Kalau kamu mengajakku ke restoran yang mewah, aku akan ikut hitung-hitung pengalaman pertamaku." "Jadi, kamu setuju?" Aluna pun menganggukan kepala, kemudian Wira pun kembali lagi ke posisi semula berada di belakang wanita cantik itu, lalu mendorong kursi rodanya untuk melanjutkan petualangan mencari makan. Tak lama diantaranya, akhirnya mereka pun tiba di depan salah satu restoran, lampu-lampu tepi jalan memberikan sentuhan sinar ke empat sudut gedung bergaya arsitektur yang menawan. Papan nama restoran, bergaya elegan dan terang, menyoroti pintu masuk utama yang dikelilingi oleh tanaman hias yang terawat rapi. Area depan restoran ini disulap menjadi ruang terbuka yang memikat dengan meja-meja outdoor yang dilengkapi kursi-kursi empuk. Payung-payung besar dengan nuansa warna netral melindungi tamu dari embusan angin malam. Paving yang bersih dan rapi memberikan kesan kesederhanaan dan keanggunan sekaligus. Pelayan-pelayan berpakaian seragam resmi berdiri di pintu masuk dengan sikap ramah, siap menyambut tamu-tamu yang tiba. Mereka membantu tamu dalam masuk ke dalam restoran dengan penuh keramahan. "Kita duduk di dalam saja, supaya tidak terkena hembusan angin." ajak Wira sambil terus mendorong kursi roda milik Aluna, namun ketika tiba di depan pintu gerbang yang terbuat dari kaca. satpam yang melihat dengan segera mengambil alih tugasnya, sehingga mereka berdua pun diantar ke kursi kosong yang berada di dalam. Di malam yang gemilang, pintu masuk restoran mewah terbuka lebar, menyambut tamu-tamu dengan sinar cahaya hangat. Seiring langkah memasuki ruang utama, langit-langit tinggi dan lampu-lampu gantung yang anggun menciptakan Harmoni yang penuh keanggunan. Meja-meja yang tertata rapi di bagian depan restoran dipercantik dengan lilin-lilin berwarna lembut, memantulkan cahaya mereka di atas permukaan meja yang bersih dan berkilau. Aksen-aksen emas dan perak pada furnitur memberikan sentuhan kemewahan, sedangkan tirai-tirai tipis menambah nuansa privasi di antara meja-meja yang diatur dengan teliti. Para tamu yang duduk dengan pakaian serba rapi saling berbicara dengan senyum lembut, menciptakan suasana hangat di antara dinding-dinding restoran yang dilapisi dengan dekorasi elegan. Deretan botol anggur yang terpajang di rak memberikan tampilan yang mengesankan, menawarkan pilihan yang melimpah untuk menemani pengalaman kuliner malam mereka. Membuat mata Aluna terus terkagum-kagum melihat keindahan tempat makan yang baru ia kunjungi. "Terima kasih!" ujar Wira kepada satpam yang mendorong kursi rodanya ketika mereka berdua selalu dah sampai di salah satu meja yang kosong. Seerginya satpam, terlihat ada waiter menghampiri dengan satu nampan berisi 2 gelas besar berleher tinggi dan sebuah wine yang masih disegel. "Segelas Wain untuk pembuka?" tanya pelayan itu dengan manggut memberi hormat. "Tidak, aku minta air putih saja." ujar Wira menolak. "Kalau kamu mau minum tidak apa-apa, aku juga suka minum tapi tidak banyak." sahut Aluna yang memberikan keluasan, agar dirinya tidak Canggung. "Baiklah!" jawab Wira sambil melirik ke arah waiter memberikan isyarat bahwa dirinya menginginkan minuman yang dibawa Waiter itu terlihat menaruh gelas di hadapan Mereka, kemudian membuka penutup botol minumnya menggunakan corkscrew, lalu menuangkan ke gelas milik Aluna. sebelum menuangkan ke gelas milik Wira itu terlihat mengelap terlebih dahulu ujung botolnya menggunakan kain yang dibawa, dia terlihat begitu piawai dan menawan memamerkan keindahan seni minum anggur. Setelah menuangkan minuman whiter itu mulai mencatat Makanan apa yang akan dipesan oleh kedua pelanggannya, Wira dan Aluna pun mulai menyebutkan makanan masing-masing telah membaca menu yang berada di restoran itu. "Sedikit itu baik untuk kesehatan." ujar Wira sambil mengangkat anggurnya diikuti Aluna yang melakukan hal yang sama, Kemudian mereka pun mengadukan gelas layaknya para Sultan ketika makan malam di restoran yang mewah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN