Carikan Baju Lusuh

1076 Kata
Mendengar permintaan sahabatnya Andi pun bangkit kemudian mendekati istrinya Dia meminta maaf bahwa pagi itu dia tidak bisa mengantar anaknya sekolah. karena biasanya sebelum berangkat kerja Andi akan menyisihkan waktu untuk mengantar anaknya. Istrinya yang baik dan tidak pernah menolak permintaan suaminya, dia pun menyanggupi bahwa hari itu dialah yang akan mengantarkan anaknya, setelah mendapat keputusan Andi pun menemui Wira yang masih duduk di ruang tamu. "Coba ceritakan Bagaimana keadaannya bisa seperti ini?" tanya Andi yang masih penasaran air apa yang membawa sahabatnya datang ke rumah. Dengan menarik nafas dalam Wira pun mulai menceritakan apa yang dialami tadi malam, mulai dari bertemu dengan Angelina sampai melakukan hal yang tidak pantas untuk dibicarakan. namun keadaan Indah itu berubah ketika pagi-pagi dia diusir tanpa mengenakan apapun, Hanya memakai kolor. Awalnya dia akan pulang ke apartemen namun Wira berpikir kalau pulang dia harus melewati lobi apartemen, sedangkan jam segitu orang-orang sudah mulai beraktivitas, sehingga dia yang memiliki rasa malu tidak berani melewatinya. "Hahaha makan tuh Angelina yang cantik." tanggap Andi setelah mendengar semua cerita sahabatnya. "Jangan tertawa, ini tidak lucu. ini kejadian yang mengerikan karena baru kali ini aku dipermainkan oleh seorang wanita." "Makanya kata aku juga apa, kamu tuh harus Insaf dan tobat, kamu seharusnya sekarang memikirkan hal yang lebih serius, tidak usah bermain-main lagi. Aku takut kamu nanti kena karmanya." ujar Andi yang selalu mengingatkan sahabatnya. "Yah Andi Ini juga kan lagi mencari wanita yang serius untuk dinikahi, namun aku selalu menemui kegagalan." "Yah kamu salah tempat mencari wanitanya." "Maksudnya?" "Yah kalau kamu mau mencari wanita untuk dinikahi Kamu tidak usah mencari di klub malam, bukan apa-apa kita sudah mengetahui tentang kejelekan tempat itu. Kamu mencari wanita di rumah ataupun di tempat kerja, karena aku yakin mereka adalah wanita-wanita yang bertanggung jawab." "Berarti wanita baik itu harus bekerja?" tanya Wira menatap lekat ke arah sahabatnya. "Ya bukan begitu maksudnya." "Terus bagaimana?" "Iya kamu cari wanita di tempat lain, jangan di tempat seperti itu. Tidak harus bekerja dan tidak harus tidak bekerja. "Halah kamu ngomong belepotan, Aku Makin pusing nih. oh iya aku kenal seorang wanita yang baru ketemui kemarin sore." Ujar mengalihkan pembicaraan. "Angelina yang peliharaan buaya tua itu?" "Bukanlah, ini beda lagi. dia itu sangat cantik, bodynya mirip gitar Spanyol, kulitnya putih Sebening s**u, kalau tersenyum dia Mengalihkan Duniaku." "Mulai deh ngelanturnya." "Serius Andi, ketika aku melihatnya tidak ada lagi wanita yang lebih cantik darinya, meski dia bukan orang kaya tapi aku lihat dia sangat bertanggung jawab, karena dia bekerja untuk mengurus orang difabel." "Mulai bohong lagi kan." potong Andi mencibir. "Aku tidak pernah berbohong Andi, serius Wanita itu benar-benar sangat cantik." "Kalau wanita itu sangat cantik, Kenapa tadi malam kamu malah berkencan dengan Angelina." "Anu, itu, anu....," jawab Wira tanpa melanjutkan perkataan dia terpojok oleh pembicaraannya sendiri. "Sudah kamu jangan main-main lagi, kita ini sudah tua. kalau umur kita sampai 60 tahun Berarti punya waktu 25 tahun lagi, bayangkan kalau anakmu laki-laki dan menikah di umur yang sama, pasti kamu kalau masih hidup sudah tua bangka dan mungkin tidak akan menyaksikan pernikahan anakmu keburu meninggal." "Iya, iya aku akan serius dengan wanita yang aku temui kemarin." Jawa Wira yang selalu seperti itu, ketika dia bertemu dengan satu wanita dan belum bosan dia akan menyanjungnya setinggi langit. "Syukurlah kalau begitu, Semoga aja pembicaraanmu tidak plin-plan." "Tidak akan, tapi aku butuh bantuanmu." "Bantuan apalagi?" tanya Andi yang sedikit mengerutkan dahi. "Aku sedang menyamar menjadi orang miskin, seperti yang kamu ketahui baju-bajuku semuanya dari brand ternama. aku tidak punya baju butut kayak ini." Ujar Wira sambil mengangkat kerah baju yang ia kenakan, baju yang dipinjam dari Andi. "Halah ngapain baju bagus-bagus segala, yang penting baju itu menutupi tubuh. Lagian kamu Harusnya bersyukur kalau kamu tidak memiliki teman sepertiku, mana mungkin orang lain mau meminjam ini baju seperti ini. "Iya, iya. bagaimana mau bantu atau tidak?" tanya Wira tanpa sedikitpun menurunkan sikap Sombongnya. "Bantu apa?" "Kamu tolong carikan baju yang ada di pasar loak, kalau tidak bisa kamu suruh Lisa aja yang mencari, karena dia sangat tahu baju ukuranku." "Kenapa nggak cari sendiri, ngapain ngerepotin orang?" "Itu gunanya bos yang harus semuanya dipersiapkan oleh bawahannya." jawab Wira sambil mengulum senyum. "Alah lama-lama ngobrol sama kamu, aku bisa TBC. Kemarin kamu tidak mengurus pemakaman ibumu sekarang kamu merepotkanku, entah dari apa sebenarnya kamu dibuat sampai pemikiranmu seperti itu." "Sudah jangan marah, nanti tahun depan aku naikkan jabatanmu menjadi manajer." "Manager apa bukannya semua posisi Manager sudah ada yang ngisi." "Manager yang akan mengurus semua kebutuhanku tentang kontrak, karena rencananya Mulai tahun depan aku akan menjadi artis yang merangkap sebagai CEO, agar orang-orang semakin mudah mengenalku." "Makin ngelantur aja, mendingan sekarang lu pulang dan lu ganti baju, karena hari ini kita akan ada rapat." ujar Andi sambil bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia menarik tubuh Wira agar segera pergi dari rumahnya. "Sebentar s**u gua belum habis, nanti mubazir loh." "Sana pulang buruan, jangan lama-lama di rumahku. nanti energi negatif lo menyebar di sini." ujar Andi tanpa memperdulikan rontaan-rontaan sahabatnya. Dengan terpaksa Wira pun menuruti keinginan sahabatnya, dia pun keluar sambil terus didorong oleh Andi sampai ke depan mobilnya. "Pulang dan jangan kembali lagi ke sini." ungkap Andi sambil membukakan pintu. "Galak amat. Lagian siapa yang mau mengunjungi rumah butut yang banyak debu seperti ini?" jawab Wira setelah masuk ke dalam mobilnya. Andi yang merasa kesal dia pun menarik kembali pintu mobil namun dengan segera Wira menguncinya, kemudian menyalakan starter lalu pergi meninggalkan halaman. "Jangan lupa pesananku nanti setelah rapat harus sudah ada." teriak Wira yang memunculkan kepalanya dari dalam mobil membuat Andi melemparkan sendal ke arah mobilnya. "Hati-hati Bung mobilku bagus, nanti kalau lecet gaji setahun tidak akan mampu menggantinya." Ancam Wira sambil mengangkat ibu jari, di kedua sudut bibirnya terukir senyum merasa bahagia memiliki sahabat sebaik dan pengertian Andi, meski mereka sering bertengkar namun mereka akan cepat baikan. Wira mengendarai mobil mewahnya melalui jalanan Jakarta yang masih sepi di pagi hari. Mesin berdentum halus, menyatu dengan derap langkah kota yang baru terbangun. Cahaya mentari pagi memantulkan kilau metalik pada bodi mobilnya yang mengkilap. Dengan setir kokpit yang elegan, Wira menikmati perjalanannya sambil meresapi keindahan pemandangan kota yang terungkap pelan-pelan. Lampu-lampu lalu lintas merah terlihat sebagai titik-titik warna yang membaur dengan siluet gedung pencakar langit di latar belakang. Di dalam kabin, aroma wangi mobil baru dan kesunyian pagi memberikan suasana tenang. Wira merenung sejenak, menyambut pagi dengan pemikiran positif. Meski kehidupan perkotaan mungkin riuh rendah, mobil mewahnya memberikan sedikit kemewahan dan kenyamanan pribadi di tengah keriuhan Jakarta yang baru saja terbangun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN