Suaminya Datang

1076 Kata
"Bapak non, bapak." jawab asisten rumah tangga dengan wajah yang sangat ketakutan." "Iya kenapa dengan bapak?" "Anu non, anu." "Kalau ngomong yang jelas, sudah ganggu ketenangan orang laporan tidak jelas." gerutu Angelina yang semakin merasa kesal. "Bapak sedang ada di jalan, sebentar lagi sampai ke sini." "Kenapa gak bilang dari awal, kalau sudah dekat baru ngomong." ujar Angelina dengan raut wajah yang sangat panik. "Sudah non, Bibi sudah telepon. tapi Non tidak mengangkatnya. bahkan Bapak juga sudah menelepon non, tapi Non tidak mengangkatnya." "Halah berabe. Ya sudah jagain pintu gerbang kalau nggak bilang aku minta apa, Biar tua bangka itu tidak cepat sampai ke rumah ini." "Baik non," jawab asisten rumah tangga sambil membalikkan tubuh kemudian melanjutkan perintah atasannya. Angelina yang terlihat sangat panik dia berlari menuju ke arah kamar di mana Wira masih tertidur dengan lelap, gedoran di pintu dan suara deringan HP tidak membuatnya sedikitpun bergeming. "Eh Kebo, bangun...! tidur kok kayak orang mati." ujar Angelina sambil menarik selimut, terlihatlah tubuh Wira yang tidak tertutup helai benang pun. "Malah kejang, bukannya langsung bangun, dasar cowok pemalas!" ujar Angelina tanpa berpikir panjang dia pun mengambil bantal lalu memukul wajah Wira, membuat pria itu tersentak kaget lalu bangkit dari tempat tidurnya. matanya terlihat berkedip-kedip seperti sedang memfokuskan pandangan, kemudian mata itu menatap heran ke arah Angelina yang terlihat seperti orang kesurupan. "Bangun dan buruan pulang! ayo bangun!" bentak Angelina tak selembut tadi malam, dia lebih garang dari komando di camp pelatihan. "Tenang, tenang. ini Ada apa sebenarnya?" jawab Wira dengan menaik turunkan tangan. "Tidak ada waktu lagi untuk berbasa-basi, Ayo buruan pulang!" ujar Angelina sambil melemparkan celana pendek milik Wira. Pria tampan yang masih kebingungan dia tidak bisa bertanya lagi, karena Angelina terus memaksa untuk segera memakai celana. setelah itu anjelina menarik tubuh Wira agar segera keluar dari rumahnya, membuat pria itu terlihat beberapa kali terjatuh karena ruhnya belum terkumpul semua, namun meski begitu dia tetap mengikuti tarikan tuan rumah. "Sebentar, lepaskan...! aku bukan maling, Aku bukan anak kecil yang harus ditarik seperti ini. kalau ada masalah tolong jelaskan Jangan membuatku bingung seperti ini." tahan Wira sambil menarik tangan Angelina membuat wanita itu terhentak ke belakang, dengan segera Wira pun memeluk tubuh Angelina agar tidak terjatuh. Seharusnya momen itu adalah momen romantis ketika seorang pria bisa melindungi wanita, namun kejadian pagi itu sangat berbeda karena Angelina terlihat mengepiskan tangan yang memegangnya kemudian menatap tajam ke arah Wira. "Buruan pulang! Kalau tidak pulang Gua bisa mati sekarang. ayo pulang...!" seru Angelina masih dengan dengan wajah panik. "Baik-baik, aku akan pulang tapi apa masalahnya." "Itu saja, lain waktu gua jelasin. sekarang lu pulang pulang!" teriak Angelina sambil menunjuk ke arah mobil Wira yang terparkir di halaman rumahnya. Melihat wajah Angelina yang pucat membuat Wira merasa kasihan, sehingga dia pun mengangguk lalu berjalan mendekat ke arah mobil, waktu itu dia hanya mengenakan celana pendek seperti seorang maling yang sedang dihakimi oleh Masa ketika ketahuan mencuri. Ketika sampai di mobil Wira menatap ke arah Angelina, dia bingung mau masuk menggunakan apa, sedangkan kuncinya masih tertinggal di dalam. "Eh kenapa kamu malah diam, buruan pulang sana!" Teriak Angelina seperti mengusir seorang pengemis. "Mau pulang bagaimana? kunci mobilku masih ada di dalam." "Haduh merepotkan saja!" Gerutu Angelina sambil berlari masuk ke dalam rumah, Tak lama dia pun kembali dengan melemparkan kunci ke arah Wira. Meski tanpa tahu alasannya Wira pun masuk ke dalam mobil kemudian menyalakan mesinnya lalu dia pun keluar dari halaman rumah yang pintu gerbangnya sudah dibukakan oleh asisten rumah tangga Angelina. Setelah mobil keluar dari halaman rumah Angelina pun masuk kembali ke dalam untuk merapikan sisa-sisa pergulatan tadi malam, agar orang yang dikatakan Bapak tidak curiga dengan apa yang sudah ia kerjakan. sedangkan Wira setelah meninggalkan halaman rumah kekasih semalamnya, dia pun berhenti kemudian mengingat-ingat kembali kejadian apa sebenarnya yang sudah menimpa dirinya, sehingga dirinya diusir seperti yang tidak memiliki harga diri. Bagaimana tidak Wira hanya mengenakan celana kolor pendek berbanding kontrak dengan mobil yang ia kendarai. "Kenapa wanita itu seperti kesetanan, dan dia tiba-tiba membangunkanku lalu mengusir pergi dari rumahnya?: ujar Wira sambil memutar kembali memori otaknya, membayangkan sikap Angelina yang sangat lembut dan begitu perhatian ketika tadi malam, sekarang berubah menjadi Ibu dari bawang merah yang sangat kejam tidak berperikemanusiaan. "Kayaknya akan ada orang yang datang, tapi Siapa orang yang datang itu. Aku jadi penasaran?" Ungkap Wira kemudian dia menyalakan kembali mobilnya lalu mencari belokan agar bisa memantau keadaan rumah Angelina dari arah jauh. Setelah mendapat posisi yang nyaman, Wira pun menatap ke arah gerbang yang masih terbuka menandakan prasangkanya benar, kalau ke rumah itu akan ada orang yang datang. namun beberapa saat memperhatikan tidak ada pergerakan sedikitpun, hanya ada pembantu yang terlihat berjaga di halaman rumah. Kira-kira 10 menit berlalu, ke rumah Angelina ada mobil yang tak kalah mewah dengan mobilnya Masuk ke halaman rumah itu, lalu keluarlah seorang pria yang sudah sangat tua, perutnya buncit, kumisnya sudah bercampur dengan warna putih, di tengah-tengah wajah yang sudah mengeriput. Dari arah dalam terlihat Angelina berlari sambil mengulum senyum, dia menggunakan baju yang sangat seksi memamerkan dua gunung kembar yang tidak bisa ditutupi oleh baju yang tipis, Angelina memeluk pria itu kemudian menciumnya begitu penuh kasih sayang, lalu menggandeng masuk ke dalam rumah dengan senyum yang lebar. "Pantas saja dia tinggal di rumah yang sangat mewah, ternyata dia simpanan buaya tua. kurang ajar banget wanita itu, Awas kalau ketemu lagi akan kubalas semua perlakuannya. Masa Iya aku harus pulang dengan keadaan seperti ini, bagaimana aku melewati lobi apartemen, yang pasti sudah banyak orang yang keluar dari sana. menyusahkan, menyusahkan sekali." ujar Wira sambil meremas setir mobil yang terasa keras. Pintu rumah mewah itu kemudian tertutup, ART yang membukakannya sudah masuk kembali ke dalam, sedangkan Wira masih termenung memikirkan Bagaimana caranya agar dia bisa keluar dari masalah yang begitu berat. "Andi, ya si Andi. aku harus menghubunginya!" ujar Wira mengingat kembali temannya yang selalu hadir dalam setiap kesusahan, dia pun memindai keadaan sekitar mobil untuk mencari sesuatu. "Sial, memang sial hidupku hari ini. handphoneku saja Tertinggal, Bagaimana aku menghubungi Andi kalau sudah begini?" Gerutu Wira sambil memukul stir karena semua benda dan pakaian yang dibawa masuk ke rumah Angelina semuanya Tertinggal, hanya color yang ia kenakan yang bisa Iya bawa pulang Matanya menatap ke arah dasbor mobil yang menunjukkan waktu masih pukul 06.00 pagi, Wira pun mendapat dia akan mengunjungi Andi ke rumahnya, karena dia yakin jam segitu Andi masih berada di rumah. tanpa membuang waktu Wira pun menyalakan kembali mobilnya kemudian pergi meninggalkan rumah yang membuatnya sangat menderita.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN