DIBUTAKAN

1081 Kata
Hujan deras yang mengguyur kota tidak mengindahkan kedua insan yang dalam perjalanan pulang, hujan yang cukup dalam  beberapa detik membuat baju basah tak mengurungkan niat Genta untuk segera pulang. Dia bahkan mengabaikan soal Arzeta yang tidak membawa mantol. Jadilah perempuan yang berada di jok belakangnya basah kuyup. Arzeta beberapa kali menutup matanya begitu air hujan beserta angin menimpa matanya beberapa kali. Jika tidak terpejam mungkin air akan masuk dan akan terasa sakit. Ia terus merutuki dirinya dalam perjalanan pulang. Bagaimana bisa ia memaksakan diri untuk ikut pulang meski tidak memakai mantol. Lihat sekarang, hujan deras sampai rupa dan kondisi Arzeta tidak berbentuk pun lelaki di depannya tidak peduli. Sungguh malang nasibmu nak! Perlahan motor menepi begitu sampai di seberang kontrakan Arzeta, biasanya Arzeta akan berlama-lama tapi tidak untuk sekarang. “Makasih Bang!” Ucapnya kemudian bergegas berlari menyeberang begitu tidak ada kendaraan disana. Ia bahkan tidak melihat untuk pertama kalinya Genta membuka kaca helmnya. Genta sedikit tersentak melihat perempuan yang berlari menyeberang, kondisinya benar-benar basah kuyup, rambutnya lepek karena dihajar hujan habis-habisan. Akankah ia merasa bersalah? “Bukan salah gue!” Gumam Genta menancap gas melanjutkan perjalanan pulangnya. “Astaga Zeta!” Pekik Mila melihat Zeta masuk rumah dengan kondisi basah kuyup. Arzeta hanya menampilkan gigi kudanya berlagak tak bersalah, ia segera bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan badannya. Ia keramas, setelah rambutnya benar-benar kotor. Seperti biasa setiap anaknya sudah pulang dari pekerjaan di kantor, sang Mamahnya akan menghangatkan makan malam untuknya. Mamahnya sampai rumah tiga jam lebih dulu dibandingkan Zeta. Sudah cukup waktu untuknya istirahat. Sebenarnya, ada satu sepeda motor untuk transportasi kemanapun. Hanya saja Zeta memilih untuk meminta bantuan kepada Ira, membiarkan Mamahnya saja yang menggunakannya, karena Mamahnya lebih kerap berhenti untuk belanja atau kebutuhan lainnya. Tak berapa lama, Zeta keluar dengan handuk di leher dan rambut yang sudah disisir rapi. Zeta menghampiri mamahnya yang menyiapkan untuk dua porsi. Zeta mencembikkan bibirnya dan duduk di hadapan Mamahnya. “Mamah juga belum makan?” Tanya Zeta meneguk s**u putih di dalam gelas yang dihangatkan Mamahnya. Meski mereka tinggal di kontrakan sederhana tetapi alat-alat dapur yang tersedia cukup mendukung karena Mamahnya hobi membeli alat-alat masak. Berharap suatu hari nanti bisa bekerja dari rumah. “Mamah bikin nasi goreng aja biar bisa makan sama kamu.” Ucap Mila dengan senyumannya membawa penggorengan dengan nasi goreng di dalamnya, asapnya masih mengepul keluar dari sana. Zeta pun tampak menelan air liurnya menatap Mamahnya yang menuangkan nasi goreng ke piringnya. “Pas nih sama cuacanya.” Ucap Zeta dengan senyumannya kemudian mulai mengambil satu suap meniupnya pelan dan memasukkan ke dalam mulutnya. “Iya! Lagipula Mamah pulang tadi udah hujan. Udah nggak keburu mau belanja.” Ucap Mila sambil meniup nasi goreng di atas sendok miliknya. “Ta! Mamah beliin mantol mau? Biar kamu kalau bareng sama temen nggak kehujanan lagi.” Tawar Mila mengingat anaknya yang pulang dengan keadaan basah kuyup. “Nggak ah! Zeta nggak mau!” Tolak Arzeta sambil menggeleng. “Kenapa? Ini musim hujan udah datang lagi lo!” Tanya Mila heran. Semenjak bekerja sendiri anaknya tidak mau meminta apa padahal semasa sekolah ia bergantung pada Mila sepenuhnya. “Kamu tuh minta sama Mamah nggakpapa, kenapa sekarang jadi nggak enakan? Dikit-dikit nggak enakan.” Omel Mila kesal pada perubahan Arzeta yang menurutnya justru terkesan aneh. Arzeta terdiam, benar yang dikatakan Mamahnya semenjak bisa menghasilkan uang sendiri ia cenderung ingin segalanya memakai uangnya padahal seharusnya bukankah hal wajar Mamahnya membelikan apa. Bukankah selamanya ia tetap menjadi putri kecil Mamahnya? Mengapa seakan ingin membuktikkan dia bisa sendiri tanpa Mamahnya? “Nggak! Mending uangnya kita tabung aja buat nambah kalau kita mau holiday, katanya Mamah ma uke Pantai.” Ucap Zeta dengan senyuman yang langsung dibalas anggukan Mila. Anaknya memang sangat mudah membalikkan mood Mamahnya yang sedang tidak terlalu bagus. “Lain kali nunggu hujan reda aja pulangnya! Mamah pasti nungguin kok.” Ucap Mila tampak kesal dengan kecerobohan Zeta. Sepele hanya karena perempuan itu menembus hujan. “Iya deh iya!” Ucap Zeta mulai merasa Mamahnya sedang dalam masa cerewet layaknya emak-emak pada umumnya. “Lagian teman kamu itu apa nggak piker temennya di belakang nggak bawa mantol, apalagi hujan deres kayak tadi. Tetep aja diterjang, emang dia nggak pakai mantol juga?” Tanya Mila pada Zeta dengan wajah yang kesal. “Nggak!” Ucap Zeta dengan senyumannya. “Oh ya pantes! Kalian lagi main apa sih? India-india-an gitu? Kehujanan bareng? Apa justru mengenang masa kecil kamu!” Ketus Mila melihat respon Zeta yang hanya nyengir ketika dia sudah Panjang lebar mengomel. “Mamah udah ah! Ayo makan!” Ucap Zeta dengan nada lembut agar Mamahnya berhenti memarahi dirinya. Mila menghela nafas kemudian tersenyum, ia melanjutkan acara makan malamnya yang tertunda. Zeta berbohong! Genta sangat jelas memakai mantol. Hanya saja karena Genta tidak mau menunggu hujan reda sebentar saja, karena Zeta tidak memakai mantol. Sayangnya, Zeta benar-benar bodoh. Demi bisa menambah data list kenangan Bersama Genta ia rela jadi perempuan bodoh. Bucin tingkat dewa, seperti masa SMA yang mau berkorban demi sang pujaan hati. Ting… Salsa : Ta? Udah sampai rumah? Gue lihat tadi kok lo nggak pake mantol pulang? Sebuah pesan dari sahabatnya, sebenarnya Salsa adalah seniornya di kantor hanya karena meja mereka sebelahan menjadi sangat dekat. Zeta yang membaca pesan Salsa hanya tersenyum senang karena selain Mamahnya ada orang yang mencemaskan dirinya juga. Zeta : Ucah Sa! Barusan nih. Kemudian Zeta mematikan data ponselnya, ia memilih mengingat kenapa hari ini ia sangat bodoh sekali. Mau ditaroh mana mukanya jika besok berangkat bekerja. Pasti ia menjadi gossip para rekan kerja karena terlalu agresif mengejar sosok Genta. “Bodoh!” Umpat Zeta memanyunkan bibirnya entah ia sedang kesal pada siapa. Zeta kembali membuka ponselnya, ia menatap kontak Genta yang masih online. Ratusan pesan yang kirim tidak pernah dibaca dan dibalas oleh lelaki berumur 27 tahun itu. Zeta tersenyum ketir, meratapi nasibnya bagaimana ia bisa terlalu dalam mengagumi seorang bernama lengkap Genta Nugroho. Seorang yang hanya menatap penuh kebencian kepadanya, seseorang yang bersikap dingin hanya dengannya. Benar-benar cinta memang buta. Arzeta : Bang Genta Arzeta membuang rasa malunya ia memberanikan diri mengirim pesan kepada Genta berharap lelaki itu membalasnya. Berubah fikiran, padahal sudah jelas baru saja kemarin ia menyakinkan dirinya bahwa tidak mungkin mendapatkan Genta, bagaikan dua sisi yang dibatasi tembok yang tinggi. Ponselnya tetap menyala, membuka ruang chat dengan Genta namun sang pemilik tangan mulai memejamkan matanya rupanya cuaca sehabis hujan mampu mempengaruhi dirinya untuk terlelap. Terlebih kamarnya yang cukup hangat. “Menunggulah sampai sang fajar tiba, tidak akan ada perubahan” TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN