JANGAN MENGHINDAR UNTUK DIRINDUKAN II

442 Kata
Ting… Ayu : Genta lembur ya? Sebuah pesan masuk, menampilkan nama Ayu di pesan pop-up, hanya membaca kemudian mengunci layarnya lagi. Ia tidak berniat untuk membalasnya. Ia kembali memandang layer monitornya tetapi pandangannya kosong, ia teringat kini Zeta tak pernah mengirimkan sebuah pesan barang mengucapkan terimakasih atau menanyakan posisinya. Kini sebisa mungkin perempuan itu juga menghindar darinya, Genta tersenyum remeh. Seolah ia percaya bahwa perempuan itu tidak akan pernah terlepas dari dirinya, Genta yakin jika perasaan Zeta kepadanya begitu dalam. “Bang!” “Bang!” Suara Zeta membangunkannya dari lamunannya, perempuan itu sudah berdiri disampingnya dengan membawa secangkir the untuknya. “Kenapa sih lo nggak pulang sana!” Hardik Genta, lebih tepatnya ia sedang tergugup karena ketahuan Zeta sedang melamun. “Gue lagi nunggu Ira!” Jawab Zeta kembali duduk di mejanya. “Beneran nungguin Ira, lo nggak nungguin gue kan?” Tanya Genta dengan senyuman sinisnya menatap Zeta yang rupanya sedang duduk menghadap dirinya dengan sedikit merenggangkan otot pinggangnya. “Nggak kok!” Ucap Zeta dengan wajah polosnya menggeleng-geleng, senyum sinis Genta hilang melihat wajah Zeta yang sama sekali tidak ada respon yang berlebihan. “Emang dia lembur jam berapa?” Tanya Genta sambil melanjutkan pekerjaannya. “Nanti jam 9 kelar.” Jawab Zeta memainkan ponselnya. Genta menghentikkan lagi memandang monitornya, ia menatap waktu yang ditunjukkan jam dinding di ruangan, masih satu setengah jam lagi. “Kenapa nggak bareng Salsa aja?” Tanya Genta menghentikan pekerjaannya, mematikan latopnya. “Salsa rumahnya kan beda arah Bang.” Ucap Zeta pada Genta begitu Genta tidak memandangnya Zeta menarik senyumnya. Apakah Genta sudah bisa menerima keberadaan Zeta? Atau hanya terjadi di bawah alam sadar saja. Genta akhirnya diam, ia memandang tajam pada Zeta yang sejak tadi tersenyum kepadanya. “Lo Kenapa?” Tanya Genta sinis membuat Zeta tersentak, senyum itu hilang ia kembali menyadarkan dirinya bahwa ia tidak boleh terlena. “Seneng ya Bang, setidaknya gue bisa ngobrol tanpa masalah kayak gini sama elo!”  Ucap Zeta dengan senyumannya berbeda dengan Genta memutar bola matanya panas. “Usaha yang elo lakukan selama ini tuh cuman sia-sia.” Ucap Genta kembali dengan wajah dinginnya membuat Zeta tercengang, bak memiliki dua kepribadian lelaki di hadapannya ini. “Jangan menghindar berharap dirindukan. Nggak akan pernah!” Sarkas Genta menambah Zeta semakin membeku di tempat dengan d**a yang kembali terasa perih kembali. Zeta hanya tertawa getir mendengar ucapan pedas Genta, baru saja ia mengharapkan akan membaik hubungannya dengan Genta secara perlahan. Namun justru kembali seperti dulu lagi, bak diterbangkan kemudian dijatuhkan ke jurang yang gelap. Zeta berfikir menghindar untuk tidak kembali lagi, sedangkan Genta berfikir menghindar berharap dirindukan. Ada perubahan sekarang dalam diri keduanya, tanpa disadari. TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN