“Ira!” Panggil Zeta dengan suara yang sedikit bervolume dibandingkan sebelumnya. Membuat sag pemilik nama Ira menghentikan motornya yang baru saja ia akan menancap gas.
“Ini, lupa kan?” Tanya Zeta menyodorkan sebuah kotak bekal yang rupanya berisikan bolu yang ditawarkan.
“Oh iya lupa Ta!” Ucap Ira dengan senyumannya kemudian menerima kotak bekal dari sahabatnya itu.
Setelah Ira pergi Zeta masuk ke kantor, kebetulan sekali ia bertemu dengan Genta yang baru saja tiba di parkiran. Zeta tersenyum meski tak terbalas kemudian menghampiri Genta yang sengaja tidak peduli dengan kedatangan perempuan yang kini sudah berdiri disampingnya.
“Ada apa?” Tanya Genta galak padahal Zeta belum mengatakan sepatah kata pun.
“Kebetulan Bang Genta disini. Mau ngasih bolu bikinan Mamah aku nih.” Ucap Zeta menyodorkan sebuah kotak.
Bukannya segera menerima, Genta memandang kotak berwarna biru itu dan Arzeta secara bergantian. Sedangkan Zeta masih setia memegang kotaknya dan tak lupa senyuman tulusnya yang selalu ia berikan kepada Genta meski tidak pernah mendapat balasan.
“Makasih!” Ucap Genta akhirnya menerima pemberian Zeta meski sangat jelas dari matanya terlihat bahwa ia terpaksa.
“Oke sama sama!” Jawab Zeta dengan jawabannya yang terdengar bersemangat, berbeda dengan mata Genta yang tampak menahan emosi. Mata perempuan itu tampak berbinar karena Genta mengatakan satu kata untuknya.
“Tunggu!” Cegah Genta pada Zeta yang hendak pergi.
Merasa ditahan, Zeta pun menghentikan langkahnya dan memilih kembali berdiri disamping Genta yang wajahnya benar-benar dingin kepadanya. Bahkan untuk sekedar membalas tatapan Genta pun, Zeta tidak kuasa.
“Gue nerima ini karena gue ngehargai elo ya! Nggak lebih! Jadi nggak usah mengharap aneh-aneh. Jijik gue sama tingkah elo lama-lama.” Tegas Genta kemudian beranjak meninggalkan Zeta yang mematung di tempat.
Sekali lagi, sebuah belati menembus dadanya. Jiwanya melayang sebentar dan sarafnya mati tak bisa bergerak, matanya memanas. Mengapa dirasa semakin lama, tingkah Genta semakin menggoreskan luka kepadanya. Padahal menurut Zeta, semua perilaku spesialnya kepada Genta tidak terlalu berlebihan menurutnya bukan.
“Arzeta!” Panggil Salsa dari belakang membuat Zeta tersentak dari lamunannya. Ia menoleh dengan senyum yang ia paksakan terasa hambar tanpa sebuah rasa tulus.
“Kok masih disini?” Tanya Salsa dengan wajahnya yang tidak bisa menutupi bahwa ia sedang terheran.
“Iya! Ambil ini.” Ucap Zeta kemudian menyodorkan sebuah kotak, Salsa memang langsung menerimanya tanpa ingin tahu apa yang ada dalam kotak tersebut.
“Bolu! Lumayan buat sarapan. Bikinan Mamah gue.” Ucap Zeta dengan bangganya memamerkan hasil masakan Mila, sang ibunda. Rasanya tidak pernah mengkhianati hasil selalu memikat beberapa orang yang merasakannya.
Salsa lupa dengan pertanyaan yang tidak mendapatkan sebuah jawaban dari Zeta. Mereka berdua bergegas menuju ruangan kantor. Zeta menghela nafas begitu melintasi ruangan Genta, ia pun menunduk tak berniat untuk menoleh sekedar melihat Genta di dalam ruangan. Kata-kata belati selalu meninggalkan kesan tersendiri bagi dirinya.
Tanpa Zeta sadari, Genta sedang memandangnya bak waktu berhenti sejenak ketika untuk pertama kali Genta memandang Zeta yang melintas di depan ruangannya dengan rasa benci yang hilang entah kemana. Ada gelagat aneh merasukinya begitu mengetahui perempuan itu bisa bertahan tidak menoleh ke ruangannya.
“Kok ada kotak segala? Pasti dapat dari ayang beb ya!” Ledek Dicky melihat sebuah kotak biru di meja kerja sahabat karib sekaligus rekan kerja satu ruangannya.
“Ayang beb siapa?” Tanya Genta mulai kesal jika Dicky selalu melantur ketika bercanda dengannya.
“IYa Zeta, siapa lagi. Lagipula kalau elu nggak mungkin deh bawa bekal sendiri ya nggak? Bener kan gue.” Ucap Dicky dengan senyumannya seolah ia menang.
“Berisik lu! Mau lu?” Tawar Genta menawarkan kotak biru yang ia tidak tahu seperti apa dalam isinya.
“Emang isinya apa sih Ta?” Tanya Dicky beranjak dari tempat duduknya menerima uluran tangan Genta.
Dicky mengeryitkan keningnya begitu membuka kotak tersebut yang rupanya berisikan bolu yang rasanya kombinasi rasa pandan dan rasa cokelat. Ia mengambil satu potong kemudian menggigit satu gigitan.
“Eh! Ini beneran yang bikin Zeta sendiri?” Tanya Dicky begitu satu gigitan masuk kerongkongannya.
“Lebih tepatnya nyokap dia katanya.” Ucap Genta kemudian memandang raut wajah Dicky yang sangat jelas jika lelaki itu sedang terkejut.
“Serius? Tapi bener Ta enak banget deh!” Ucap Dicky menyodorkan bolu kepada Genta yang diam.
“Coba dulu! Kalau nggak enak gue yang habisin.” Ucap Dicky begitu tidak ada tanggapan dari Genta.
Genta akhirnya mengalah, toh ini diberikan kepadanya. Seharusnya ia tidak mencampurkan rasa bencinya kepada Zeta. Satu gigitan masuk, Genta mengunyahnya pelan, merasakan sensasi yang ia rasakan.
“Lumayan sih!” Ucap Genta menghabiskan satu potong.
“Gue baru sadar, udah dua hari Zeta kok nggak beliin kopi sih?” Tanya Dicky tersadar sudah dua hari terhitung dari kemarin, perempuan bernama Arzeta Maharani itu tidak membelikan kopi untuk rekan kerjanya.
Awalnya hanya sesuatu yang harusnya dianggap sebagai sebuah bantuan yang kini sudah berubah menjadi sebuah langganan yang seharusnya ada. Perasaan Zeta akhir-akhir ini sedikit memburuk terlebih dengan kedatangan Ayu, karyawan baru yang mampu menggoyahkan hati Genta.
Zeta pun bisa melihat perubahan sikap Genta diantara kepadanya dengan Ayu sungguh berbeda. Zeta tidak bisa berbuat banyak, hanya bisa terus berjalan dengan seiring waktu. Menahan belati yang semakin hari semakin memperlebar luka di hatinya.
Memberikan goresan demi goresan tanpa rasa ampun, sesekali air matanya akan mengalir begitu saja tanpa bisa ditahan kembali. Dengan perubahan ini, Genta begitu menantikan hari itu hari dimana zeta tak lagi menaruh harap kepadanya, dan semua berjalan seperti biasanya. Di hidup masing-masing.
“Terus? Bisa bikin sendiri sih di kantor.” Ucap Genta dengan sangat ketus, seolah tidak mempermasalahkan seperti yang diresahkan Dicky. Baginya hari demi hari jika kontak dengan Zeta semakin hilang, itu artinya Tuhan mendengar doanya.
Mendengar jika ia berharap Zeta akan berhenti menyimpan rasa kepadanya. Sebenarnya tidak ada niatan untuk membenci perempuan muda itu hanya saja. Tingkahnya yang menyebalkan, mengambil inisiatif sendiri yang membuat Genta mulai kesal dengan sendirinya.
“Ini elo nggak lagi bela si Zeta kan Ta?” Tanya Dicky dengan senyuman ambigunya menanyakan pada Genta yang justru sekarang memandangnya dengan kesal.
“Maksud elo? Ngapain gue bela dia.” Ucap Genta kembali ketus.
“Itu cuman menandakan kalau ada dan tidak ada dia di hidup gue itu nggak ngaruh apapun. Nggak bakal ada lebih apalagi merasa ada yang kurang. “ Tandas Genta dengan nada lumayan galak membuat Dicky membungkam mulutnya rapat-rapat.
“Hati-hati deh Ta kalau ngomong tuh!” Ucap Dicky tak habis fikir karena masalah sepele saja sahabatnya membenci seorang perempuan segitunya.
TBC