Nitya menjenguk putra bungusnya. Sudah setahun tanpa terasa, Arya memilih untuk tinggal sendiri di apartemennya, ketimbang tinggal bersamanya karena Nico memaksa agar Hilda untuk tinggal bersama.
"Kamu beneran gak mau balik ke rumah?" tanya Nitya pada Arya. Berusaha untuk membujuk Arya agar mau kembali ke rumah.
Arya mengegleng.
"Udahlah Ma, aku udha gede juga. Aku udah punya rumah sendiri begini, udah seharusnya aku tinggal di rumah sendiri bukannya sama Papa-Mama lagi" jawab Arya.
"Cepet-cepet deh perempuan itu keluar dair rumah" NItya merutuki kehadiran Hilda di rumahnya.
"Bingung sih aku, kok bisa Mas Nico lebih milih pelcaur itu ketimbang istri sama anak sendiri" ujar Arya.
"Gak nyariin adiknya sendiri lagi. Kayaknya aku keluar dari rumah tuh biasa aja. Bukan masalah besar. Padahal ini semua kan gara-gara dia juga" ujar Arya lagi.
"Maafin kakakmu ya" Nitya mengelus pelan tangan putranya.
Arya menarik tangannya secara perlahana dan membuang pandangannya keluar jendela apartemennya.
"Harus di kasih azab kayak apa supaya diasadar?" Arya mengalihkan pandangannya ke Nitya.
"Apa harus di cerai dulu sama Mbak Maira, terus gak boleh ketemu Arfa seumur hidup?" tanya Arya.
Nitya hanya bisa merutuki perbuatan putranya itu.
"Di abisin dong Ma kopinya, itu aku bikin sendiri loh, pake mesin kopi baru. Tuh mesinnya" Arya menunjuk ke sebuah mesin kopi berwarna hijau muda.
Nitya hanya tertawa kecil.
"Kamu buka cafe aja deh. Udah bisa bikin kopi begini, kamu bisa bikin pastry juga" usul Nitya.
"Tapi kalo temen-temen arisan Mama dateng, jangan minta diskon apalagi minta gratis ya. Bisnis adalah bisnis" canda Arya.
"Arfa apa kabar Ma?" tanya Arya tentang keponakannya.
"Baik, udah mau setahun aja anak itu. Perasaan itu baru lahir deh kemarin. Sekarang tau-tau udah mau setahun aja, lagi belajar jalan sekarang" ujar Nitya mengingat cucunya itu.
"Iya, perasaan kemarin bentukannya masih bayi merah, sekarang udah mau setahun aja. Udah mau ulang tahun aja" tambah Arya.
"Kayanya kakak iparmu itu gak mau bikin pesta besar-besaran deh, Dia kayaknya lebih milih untuk pesta kecil-kecilan aja. Kemarin coba-coba bikin kue di rumah" ujar Nitya.
"Oh ya? Aku di undang kan?" tanya Arya.
"Ya tanya sama Maira dong. Yang punya hajat dia, kok nanya Mama"
****
Sebenter lagi ulang tahun Arfa, Maira berencana untuk membuat pesta kecil-kecilan di rumah.
Maira memutuskan untuk mampir ke sebuah toko buku untuk mencari resep kue yang aman bagi bayi.
Saat tengah asyik mencari buku, tiba-tiba seseorang memanggilnya.
"Maira ya?" tanya suara tersebut.
"Iya, siapa ya?" tanya Maira pada pria yang terasa asing di matanya.
"Gue Edric, inget gak? Kita temen satu kelas waktu masih les matematika" ujar Edric.
Miara mencoba untuk mengingat temannya itu.
"Ohh Edric! Yang setiap les selalu baw atisu segepok itu ya? Soalnya ingusan meulu?" tanya Maira bersemangat.
Edric tersenyum sambil meringis mendengar ucapan Maira. Tetapi ucapan Maira itu memang benar adanya. Ia memang bocah ingusan semasa kecil.
"Apa kabar Ric?" tanya Mair riang.
Baik, lu sendiri gimana?" tanya Edric balik.
"Gue juga baik, lu sekarang ngantor dimana?" tanya Maira.
"Gue baru resign dari kantor, sekarang mau persiapan berangkat ke New York" ujar Edric.
"Oh ya? Dapet kerjaan di sana?" tanya Maira antusias.
"Gak, gue lanjut S2 di sana" jawab Edric. "Wah! keren dong!" ujar Maira.
Edric hanya tertawa kecil saja.
"Lu sendiri gimana?" tanya Edric bersandar pada rak buku.
"Biasa, gue nerusin perusahaan bokap. F&B business" jawab Maira.
"Eh Ra, gue duluan ya. Gue harus belanja lagi sebelum pergi" ujar Edric, bersiap untuk pergi.
"Oh iya iya. Good luck ya! Safe flight and safe trip. Baik-baik di sana belajar yang bener ya" ujar Maira.
"Eh, can I have your number?"
"Sure!"
"Pokoknya saya mau venue di situ. Tema juga yang udah saya tentuin! Princess! Saya gak mau tau pokoknya harus sesuai sama yang saya kasih tau tadi" omel Hilda di telfon.
Suara omelan itu membuat telinga pengasuh putrinya sakit karena terlalu sering mendengar Hilda mengomel.
"Mbak, Bianca di bawa ke kamar aja. Ajakin main kek apa kek" ujar Hilda karena EO yang di sewanya untuk ulang tahun pertama Bianca memilihkan opsi yang lain untuknya.
Pengasuh tersebut menurut saja apa kata majikannya.
"Gimana? Apa kata EO?" tanya Nico menchampirinya.
"Mereka malah ngasih aku tema lain. EO itu mustinya kan dengerin keinginan client. Bukannya malah bikin tema sendiri" ujar Hilda kesal.
Nico hanya mangut-mangut mendengar omelan Hilda.
"By the way, Maira gak mau ngerayain ulang tahun Arfa?" tanya Hilda sok tidka pedui padahal ia kepo setengah mati.
"Gak, dia gamau bikin acara gituan. She wants a simple birthday lunch at home" ujar Nico.
Hilda terbelakak mendengar jawaban Nico.
PPadahal Maira bisa saja menggolontorkan ratusan juta untuk merayakan ulang tahun putranya. Namun wanita itu malah memilih untuk merayakannya secara sederhana.
"Kenapa? Gak tau ya mau ngerayain ulang tahun anaknya kayak gimana? Kehabisan Ide? DUh kasian banget" Hilda mengibaskan tangannya.
Nico hanya diam saja istrinya di remehkan seperti itu.
"Oh kalo gak ngerayain gede-gedean itu artinya keabisan ide ya?" tiba-tiba Gita dengan sewotnya datang dari arah belakang.
"Lebih baik ngerayain di rumah sendiri tapi sederhana, tapi ngerayain besar-besaran, terus numpang!" kecam Gita yang langsung pergi meninggalkan Hilda dan Nico.
Nico yang kaget mendapati kakak iparnya datang, langsung buru-buru menghampiri Gita.
"Mbak, kapan sampe?" Nico berbasa basi pada Gita. "Baru" sahut Gita singkat.
"Mama belom pulang Mbak. Tunggu aja di taman belakang" ujar Nico.
"Maira mana?" tanya Gita.
"Kan masih di kantor Mbak dia" ujar Nico.
"Terus kamu gak ngantor apa gimana? Perasaan Dennis hari ini ada meeting deh" ujar Gita.
"Iya, itu emang urusannya Mas Dennis. Bukan bagian aku" jawab Nico.
"Mau sampai kapan Nico?" tanya Hilda saat Nico hendak pergi meninggalkannya.
"Mau sampai kapan perempuan itu numpang di rumah ini? Dia buka istri kamu, anaknya bukan anak kamu. Kenapa kamu begitu perhatian sama mereka?" tanya Gita tidak percaya.
"Kamu seharusnya ngerti kan alasan Papa-Mama gak pernah setuju hubungan kamu sama Hilda? Terus kenapa kamu terus ngotot untuk tetep sama Hilda?" tanya Gita lagi.
"Okay, Mbak memang ngerti, ini bukan kapasitas Mbak untuk ikut campur. Tapi kamu liat gak dampaknya? Bayangin, adik kamu sendiri sampe pergi dari rumah. Gak mau tinggal di sini, karena kakaknya lebih milih perempuan itu di banding sama adiknya sendiri" ujar Gita.
Nico hanya terdiam mendengar ucapan Gita.
"Cinta sih boleh, tapi jangan kebanyakan" lanjut Gita.
"Apa harus Maira ceraikan kamu baru kamu menyesal seumur hidup? Apa harus tunggu Arfa benci kamu seumur hidup dan gak pernah mau menganggap kamu ayahnya sendiri karena kamu terlalu fokus dengan anak orang lain?" tanya Gita.
"Apa harus itu semua terjadi? Gak kan? Istri kamu itu Maira, anak kamu itu Arfa. Inget itu Nico. Sebelum semuanya terlambat, mendingna kamu stop semua hal konyol ini" ujar Gita meninggalkan Nico.
****
Maira memperhatikan perkembangan perusahaannya. Perusahaannya semakin hari semakin mengalami kenaikan.
Perusahaannya mulai mendapatkan kepercayaan kembali dari pada konsumennya. Beberapa cabang yang sempat tutup, kembali buka dan mendapatkan pembeli yang jauh lebih banyak dari sebelumnya.
"Kalo kayak begini, kayaknya kita bisa sisihkan sedikit demi sedikit untuk bayar hutang perusahaan ke Papa mertuaku" ujar Maira.
Dito pun mengangguk setuju dengan ide Maira.
"Bener juga Pa. Kita bisa sisihkan sedikit demi sedikit buat bayar hutang perusahaan. Gimana pun itu hutang. Gak bisa cuman kelar dengan kakak menikah sama anaknya itu" ujar Dito yang ogah menyebut nama Nico.