SEBELAS

1200 Kata
Jim menahan rasa kesalnya melihat Nico datang bersama Hilda. Ia tidak bisa menahan ekspresi tidak sukanya terhadap Hilda.  "Hey!" sapa Nico riang melihat temannya itu. Jim menenggak Tequilla miliknya dengan kasar.  Nico membiarkan Hilda pergi bersama temannya, sedangkan Nico tetap berada bersama Jim. "Gue gak abis pikir sih, lu masih jalan sama Hilda begini" ujar Jim tanpa melihat Nico. "I'm happy with her" jawab Nico singkat. "Lu sadar gak sih, kebahagian lu ini sementara?" ujar Jim sambil mengalihkan pandangannya ke temannya ini. "Sementara?" tanya Nico sambil mengenggak minumannya. "Iya, sementara" ulang Jim.  "Gue gak tau ya, si Hilda pake pelet apaan sampe lu nempel banget sama dia. You gave her literally everything" ujar Jim kesal. "Paling gak, kalo lu gak bisa nerima Maira, tolong hargai dia. Percaya deh, dia pun gak mau ada di situasi ini" ujar Jim. "You have feeling for my wife?" tanya Nico tanpa mengalihkan pandangannya ke Jim. "Khawatir banget sama Maira. Silahkan aja sih kalo lu mau" tambah Nico lagi. Jim kesal sendiri mendengar ucapan Nico.  "You know she's not my type. Tapi lu mikir gak sih? Lu jahat banget sebagai suami? I can understand that you don't love her.  Sebelum semuanya terlambat" sahut Jim. "Gue kasih tau ya, stop being irritating like this. My wife was okay with this" jawab Nico. "WIFE ?!" pekik Hilda dari belakang Nico. Baik Nico maupun Jim langsung menoleh ke belakang, dna menemukan Hilda yang terkjeut setenga hmati mengetahui bahwa pacarnya itu sudah memiliki istri. "Jadi kamu udha menikah dan gak bilang sama aku?Seriously Nico?" ujar Hilda tidak percaya. Tanpa berpikir panjang, Hilda langsung meninggalkan Nico.  Ia sudah tidak peduli degan acara yang semakin meriah, yang ia tahu adalah ia kecewa dengan Nico yang menyembunyikan pernikahannya. Hilda sangat kecewa.  Nico mencoba untuk mengejar Hilda. Menerobos kerumunan manusia yang larut dalam euforia lantunan musik malam itu.  Sayang, Hilda dengan gesit langsung masuk ke dalam taksi dan meninggalkan Nico yang mencoba untuk mengejarnya.                                                                                                  *** Nico kembali ke rumah dengan kesal. Entah sudah berapa missed call darinya untuk Hilda malam itu. Ia benar-benar tidak bisa berpikir jernih karena Hilda tidak kunjung mengangkat telfonnya. "Sialan si Jim! Ngapain sih ngomongin si Maira?! Hilda jadi tau kan" rutuk Nico sambil masuk ke dalam rumah.  Ia membuka kulkasnya dan mengambil air dingin. Berharap segelas air dingin yang ia teguk mampu mendinginkan otaknya karena Hilda yang belum kunjung memberi kabar.  Nico bergegas ke kamarnya karena ia sudah sangat lelah. Begitu masuk ke dalam kamar, ia menemukan Maira tengah menonton televisi. Dengan kasar, Nico mematikan televisi yang tengah di tonton oleh Maira.  "Kamu kenapa main di matiin sih? Aku kan lagi nonton!" ujar Maira kesal pada suaminya. Nico hanya menatap Maira dengan tatapan kekesalan. "Seharusnya tuh kita gak nikah tau gak!" ujar Nico kasar. "Gara-gara kamu aku harus kehilangan Hilda!" tambah Nico lagi. "Aku lagi yang salah?" sahut MAira ketus, tak ingin di salahkan.  "Ya iyalah! Kalo Papa kamu gak minjem duit sebanyaka itu sama Papa aku gak perlu kita nikah! Mau minjem duit tuh mikir! Sanggup balikin apa gak!" teriak Nico pada Maira.  Ucapan Nico kali ini sangat menyakitinya. Secara langsung Nico menyalahkan ayahnya karena semua ini. Maira tidak dapat berkata apa-apa karena ia sudah terlanjur sakit hati.  Ia membiarkan Nico masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.                                                                                     *** Nico semakin gusar karena Hilda tidak kunjung memberinya kabar. Sudah seribu kali ia memeriksa ponselnya, apa Hilda sudah memberinya kabar atau belum. Namun kekasihnya itu tidak kunjung memberikan kabar padanya.  "Lu kenapa sih gelisah daritadi?" tanya Dennis pada Nico. "Hilda gak ngabarin dari semalem" Nico keceplosan mengutarakan kegusarannya. "Ngapain lu mikirin dia kemana?" tanya Dennis ketus. "Udah bagus dia gak ngabarin. Udah sadar diri kali" tambah Dennis lagi. Nico hanya bisa menahan amarahnya mendengar ucapan itu. Nico berusaha untuk menghubungi salah sayu teman Hilda, namun nampaknya temannya ini sudha bersekongkol dengan Hilda agar tidak memberi tahu Nico dimana keberadaannya saat ini. "Ayo dong Hilda please angkat telfon aku. Pleasee" Nico berbicara sendiri pada ponselnya.                                                                                      *** Beberapa hari kemudian  Maira sibuk membersihkan kamarnya di Minggu pagi ini. Setelah mengganti sprei tempat tidurnya, kali ini ia akan menyapu sekaligus mengepel kamarnya. Nico yang sudah bangun daritadi memilih untuk olahraga sekitar komplek rumah dengan ayah dan adiknya, sembari menunggu Maira yang membereskan kamar. Alunan lagu jazz favorit Maira mengalun dengan indah menemaninya yang sibuk membersihkan kamarnya.  Membuat mood-nya lebih baik dan semakin semangat untuk membenahi kamarnya ini. Saat tengah membenahi bantal dan guling di atas tempat tidur, denting notifikasi dari ponsel membuatnya menghentikan aktifitasnya sejenak.  Maira langsung beralih ke atas meja naks dan mengambil ponselnya. Namun saat ia buka, ia tidak menemukan adanya pesan masuk. Namun saatia melihat ada kedipan lampu notifikasi di ponsle Nico, ia langsung menyentuh layar ponsle suaminya itu. Hilda I'm back today. Can we talk? Perasaan Maira seketika tidak tenang sendiri membaca pesan itu.   "Emangnya Hilda darimana?" tanya Maira pada dirinya sendiri. "Apa jangan-jangan mereka berantem terus Hilda ngilang? Nico kemarin sempet uring-uringan sih" Maira semakin gusar. Ia berusaha untuk menerka-nerka apa yang terjadi di antara Hilda dan Nico. Sedikit berharap keduanya memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka. Akhir-akhir ini pikirannya tidak jernih. Entah mengapa ia mulai mengkhawatirkan Nico dan tidak suka dengan keberadaan Hilda di antara dirinya dan Nico. Maira yang awalnya hanya menganggap kehadiran sebagai perusak nama baiknya dan keluarganya, kini tidak menyukai Hilda karena wanita itu masih menjalin hubungan dengan Nico. Beberapa saat kemudian, Nico kembali dan langsung masuk ke kamar. Maira bingung apa ia harus memberi tahu Nico ada pesan yang masuk atau tidak. Ia berusaha untuk mengalihkan wajahnya dari Nico, agar suaminya tidak menangkap ekspresi tidak nyaman Maira. "Nico" panggil Maira saat suaminya hendak membuka lemari pakaiannya. Suaminya itu menoleh dengan wajah datar sambil mengangkat dagunya. Keringat yang menetes dari pelipis Nico membuat Miara jadi konsentrasi sendiri.Entha mengapa suaminya jadi terlihat sangat seksi sehabis olahraga pagi. Pikirannya mulai tidak jernih lagi, membayangkan hal-hal yang tidak-tidak. "Tadi ada pesan masuk ke hape kamu" ujar sambil mengalihkan matanya ke sapu yang bersandar di lemari pakaian. "Cek aja, siapa tahu penting" tambah Maira berusaha tidak peduli. Nico menutup lemari pakaiannya dan langsung mengambil ponselnya dan memeriksa dari siapa pesan tersebut masuk. Alih-alih menyapu kamarnya, Maira memperhatikan ekspresi suaminya diam-diam.  Melihat ekspresi bahagia Nico menerima pesan dari Hilda, Maira tidak bisa membendung rasa kecewanya.  "Ra, tolong siapin baju. Aku mau pergi abis ini" ujar Nico bersemangat sambil merampas handuk di tepi tempat tidur dan masuk ke kamar mandi, melewati Maira begitu saja. Maira langsung mengambil pakaian suaminya dari lemari, sambil menahan kekecawaannya melihat antusiasme Nico. Dengan malas Maira memilihkan pakaian untuk Nico yang akan bertemu dengan Hilda setelah ini.  Ia bingun apa yang terjadi pada dirinya. Ia tidak pernah berharap akan berakhir seperti ini. Perasaan gusar ini membuatnya tidak nyaman.  Apa ini namanya jatuh cinta?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN