Gilda tersenyum kecil mendengar pertanyaan mengecewakan dari Edzhar. Akan tetapi, sesudah itu dia tersenyum lebar. "Kalau kau ingin pura-pura, tidak apa, Ed. Berpura-puralah mencintaiku sampai nanti aku melahirkan anak kita. Aku akan bahagia walaupun semua itu hanya kepalsuan dan berlangsung sementara," jelas Gilda masih dengan senyum di wajahnya. Tanpa Gilda duga, penuturannya itu membuat Edzhar membungkam bibirnya dengan bibir lelaki itu. Kali ini Gilda tidak membalas dengan penuh hasrat. Pikirannya seakan meminta untuk waspada, tidak memperbolehkan hati ikut berperan. Sayangnya, setiap sentuhan atau bahkan hangat ciuman Edzhar, membuat dadanya selalu berdebar-debar. Wanita itu sulit membuang perasaan cinta yang tumbuh di hati sejak pagi itu terbangun di ranjang sang sahabat. Alhasil,

