Mendengar pertanyaan Gilda yang dianggap sebagai bualan tidak mutu, Edzhar tak ragu untuk menabrakkan punggung sang istri ke dinding putih lorong penghubung ruang makan. Meski tidak kencang, Gilda sampai terkejut dan menatap Edzhar dalam nan tajam. Edzhar tampak melotot menatap Gilda yang sedikit meringis itu. “Ed!” pekik Gilda sembari melirik lengannya yang dicengkeram cukup kuat oleh Edzhar. “Apa yang kau bicarakan?! Kau tahu, kau sudah melebihi batas, Gil?!” tanya Edzhar penuh penekanan di setiap katanya. “Aku cuma bertanya, tapi mengapa responsmu terlalu berlebihan begini?” “Kau bilang aku berlebihan? Carla kekasihku!” “Dia kekasihmu, tapi aku istrimu!” sentak Gilda tak kalah kencang. Suaranya sudah terdengar bergetar, sama seperti dadanya bergetar, sakit. “Dia wanitaku!” Kepal

