Edzhar hanya menggeleng. Gilda pun memilih keluar setelah pertanyaannya tak dijawab Edzhar. “Kau sendiri, kenapa memakai masker di dalam kamar?”
“Ada bekas tamparan, aku tidak mungkin memperlihatkannya pada kakek,” sahut Gilda yang langsung membuka pintu kamar. Edzhar yang terkejut lantas mengikuti Gilda. Membiarkan pintu kamar mereka terbuka.
Keduanya turun tangga dengan Gilda jalan di depan. Sampai di ruang keluarga, Mateo ditemani oleh Lexa. Mertua dan menantu itu tampak berjarak. Gilda yang tak ingin ambil pusing lantas duduk di sofa yang berhadap-hadapan dengan Mateo dan Lexa, begitu juga dengan Edzhar.
“Karena kalian semua sudah turun, Kakek ingin menyampaikan bahwa Lexa tidak akan tinggal di rumahku lagi.” Gilda dan Edzhar yang sama-sama kaget itu menatap ke arah Lexa yang tampak diam tak membantah. “Ibumu hampir menyakiti Gilda, oleh karena itu Kakek ingin dia keluar dari rumah,” sambung Mateo kala melihat Edzhar melemparkan tatapan padanya.
“Akulah yang menjadi orang baru di sini, Kakek. Aku bisa keluar dari sini.”
“Kau mengandung penerus keluarga, sudah menjadi tanggung jawabku juga menjaga kandunganmu dari apa pun dan siapa pun, termasuk anggota keluarga lama di sini.”
Gilda menatap Lexa yang masih diam. Kemudian kembali bersuara, “Aku tidak bermaksud membela Nyonya Lexa, tetapi aku tidak ingin keluarga ini terpecah hanya karena kejadian di dapur pagi tadi. Aku tidak terluka sama sekali dan bisa menjaga diriku, Kakek. Jadi, aku tetap ingin Nyonya Lexa tinggal di rumah ini.”
Edzhar yang duduk berhadapan pada Lexa, menyentuh tangan wanita itu dengan lembut. “Ibu tidak ingin meminta maaf pada Gilda? Perbuatan Ibu keterlaluan, aku sendiri tidak menyangka kalau Ibu akan melakukan itu pada Gilda.”
Lexa melirik Gilda sekilas. “Aku melakukannya karena tidak tahan melihatnya di sini. Dari awal aku hanya menyukai Carla, bukan dia.”
“Aku tidak ingin Ibu keluar dari sini. Jadi, biarkan aku dan Gilda yang angkat kaki dari rumah ini.” Gilda mendelik ke arah samping, di mana Edzhar duduk sambil menatap Mateo. Mateo pun ikut menatap sang cucu. “Kebetulan aku akan memeriksa villa yang aku kelola mulai besok. Jadi, bagaimana kalau aku dan Gilda tinggal di sana, Kakek? Kami juga belum berbulan madu,” ucapnya yang membuat Mateo berpikir.
“Tidak! Pasti jaraknya jauh dari toko roti milikku, aku masih ingin bekerja!”
“Baiklah, aku terpaksa mengizinkan kalian tinggal di sana.” Gilda semakin tidak percaya dengan jawaban Mateo yang dengan mudah mengabulkan ucapan Edzhar. “Sering-seringlah kalian datang kemari untuk menjengukku,” jawab Mateo seraya berdiri dibantu pelayan pria yang biasa mendampingi jika Mateo pergi keluar rumah. Lexa pun ikut berdiri, dan angkat kaki lebih dulu.
“Aku tidak mau, Kakek!" Sayangnya, Mateo lebih pilih meneruskan langkah kakinya daripada mendengar suara Gilda. "Aku masih ingin kerja di toko! Kau saja yang pergi ke villa, Ed!”
Edzhar tiba-tiba menarik tangan Gilda saat wanita itu hendak pergi, dan mengakibatkan tubuh Gilda ambruk di sofa. Gilda yang kaget, terlebih saat Edzhar melepas masker penutup bekas tamparan Carla dan mendekatkan wajahnya, refleks mundur sampai dirinya telentang. Edzhar membuang masker itu sembarangan.
“Ingat, kau masih istriku sampai tahun depan ...,” bisik Edzhar dengan tangan yang sudah merayap ke pinggang Gilda. “Tidak ada alasan untuk tidak menuruti keputusanku, aku suamimu.”
Diusapnya perut rata Gilda, yang mampu meningkatkan debaran jantung wanita itu. Gilda yang masih memakai akalnya, menahan bibir Edzhar dengan tangan secepat mungkin. “Aku memang istrimu, tapi aku tidak mau diperlakukan layaknya selingkuhan, Ed.” Setelah itu Gilda mendorong kuat bahu Edzhar.
Baru beberapa langkah Gilda menjauh dari ruang keluarga, dirinya tiba-tiba sudah diangkat Edzhar. “Malam itu aku tidak sadar jika yang kusentuh adalah dirimu.” Gilda mengalungkan tangannya ke leher Edzhar dengan tampang yang mulai marah. “Bagaimana kalau kita mengulang malam itu? Jangan lupa juga tugasmu untuk melayaniku,” lanjut lelaki itu sembari menatap lebih dalam netra Gilda yang mengarah padanya.
“Kau punya Carla, kau juga mencintainya, kenapa harus aku?!” Mendengar Gilda membongkar rahasianya dengan lantang, Edzhar lantas menyumpal mulut Gilda dengan bibirnya. Di tangga menuju lantai dua itu Edzhar melumat bibir sang istri sampai tak terasa mereka sudah sampai di depan kamar. “Kau benar-benar sudah gila, Ed! Turunkan aku!”
Edzhar masuk ke kamarnya yang pintunya belum sempat ditutup saat ia turun ke ruang keluarga bersama Gilda. “Aku akan menurunkanmu, tapi di atas ranjang.” Setelah itu Edzhar kembali menyerang bibir Gilda dengan kaki kiri menutup kamar. “Ingatkan aku pada malam itu, agar aku bisa mencintaimu,” bujuk Edzhar setelah mencicipi betapa manisnya bibir Gilda.
Dibaringkannya Gilda ke atas ranjang. Edzhar menopang badannya sendiri dengan dua siku. Ditatapnya perempuan yang kini tengah mengandung bibitnya. Diciumnya leher Gilda. Dengan tangan yang sudah menyibak gaun rumah istrinya, Edzhar makin meraba tubuh ramping itu.
“Kau menyakiti perasaanku kalau bersikap begini, Ed ...,” bisik Gilda yang otaknya masih bekerja. “Aku tidak mau kau memperlakukanku seperti ini.”
Seperti disumpal earphone di kedua telinganya, Edzhar semakin bermain dengan ciuman dan sentuhan. Mengabaikan ucapan Gilda, Edzhar terus menjalankan aksinya yang semakin membuat wanita itu murka. Tak sampai satu menit ia disentuh, Gilda akhirnya mendorong paha Edzhar dengan kekuatan lututnya.
Edzhar yang sudah berkabut itu dengan geram menatap Gilda. “Ini sudah tugasmu,” tekan Edzhar. Wajahnya persis di depan muka Gilda. “Status kita sudah jelas.”
“Putuskan Carla kalau kau ingin tubuhku ...,” ucap Gilda yang ikut menyorot ke dalam netra Edzhar. “Apa kau bisa?”
Edzhar tidak menjawab. Ia justru membuka paha Gilda lebar-lebar, dan memposisikan dirinya tepat di atas Gilda lagi tanpa menekan perutnya. Edzhar mengambil paksa bibir Gilda dan lagi-lagi mencium wanita itu penuh gairah.
Dorongan dalam tubuhnya membuat Edzhar benar-benar ingin menerkam Gilda malam ini. Tak peduli dengan nama yang disebut istrinya, lelaki itu semakin meraba liar. Membelai ke dalam kain yang melapisi tubuh bagian bawah Gilda.
“Aku mohon berhenti, Ed ...,” lirih Gilda yang sudah mendongakkan kepala kala ciuman Edzhar semakin turun dari leher. “Berhenti atau ... atau aku akan, akan mengatakan yang sebenarnya pada kakek Mateo,” ancamnya yang tak membuat Edzhar berhenti menggali hasrat Gilda. “Ed ....” Gilda mencoba menarik rambut Edzhar kala bibir pria itu sudah bermain di dadanya.
“Apa yang kau lakukan?!” bentak Edzhar murka, begitu rambutnya dijambak sangat kuat.
“Seharusnya aku yang bertanya!” jerit Gilda yang tiba-tiba menangis. “Kau tidak mencintaiku, tapi menginginkan tubuhku! Aku bukan selingkuhanmu, Ed ... kenapa kau jahat padaku? Kau bukan Edzhar yang aku kenal, Ed.”
Melihat Gilda yang menangis kencang itu, membuat kesadaran Edzhar kembali. Akan tetapi, bukannya menenangkan istrinya, Edzhar justru turun dari ranjang dan pergi ke kamar mandi. Sementara Gilda yang syok dan sudah sangat marah dengan Edzhar, memilih bangun dari kasur dan segera masuk ke walk in closet.
Tak butuh waktu lama untuk Gilda mengganti gaun rumahannya menjadi celana legging dan atasan kemeja panjang. Malam ini ia memutuskan keluar dari rumah Mateo. Mengambil tasnya di atas meja belajar milik Edzhar, Gilda juga meraih ponsel di nakas dan memasukkannya ke dalam tas. Memantapkan tekadnya, Gilda menarik gagang pintu kamar dan segera keluar kamar.
"Semoga saja Mona sedang tidak ada di belakang ...," gumam Gilda seraya menuruni tangga.
Matanya terus waspada menjelajahi sekitarnya sampai ia berhasil menginjak lantai dapur. Dengan jantung yang berdegup cukup kencang, Gilda terus jalan mengendap-endap menuju pintu belakang. Jalan satu-satunya yang paling aman di rumah Mateo adalah pintu belakang, karena petugas keamanan hanya ada di depan. Perihal CCTV di halaman belakang, Gilda berharap bisa menghadapinya dengan berlari kencang setelah melewati pintu belakang.
Begitu pintu itu sudah di depan mata, Gilda membukanya, lalu buru-buru melewati dan kembali menutup sambil mengambil oksigen banyak-banyak. "Maafkan aku, Kek. Aku tetap ingin merawat calon bayiku sendiri. Aku tidak akan tahan bersama suami yang tidak akan bisa mencintaiku," ujar Gilda sebelum kakinya melangkah lebar cukup cepat.
Gilda yang sudah berhasil keluar dari kediaman Mateo itu meraba perutnya sambil terus berlari. Langit yang gelap, dan jalanan perumahan elite yang sepi membuat kaki Gilda makin cepat menjauhi kawasan rumah Mateo. Kepalanya mendongak sekilas dan tersenyum. "Kalau dulu mama sangat berjuang untuk Gilda yang masih berada di dalam perut mama, sekarang Gildalah yang berjuang untuk calon bayi Gilda. Sama seperti mama, Gilda berjuang demi buah hati."
Di tengah aksi melarikan dirinya ini, Gilda jadi teringat kisah mama dan papanya. Bedanya, sang mama hamil di luar nikah dengan kekasih hati, yang tidak lain papa kandungnya sendiri. Meski Gilda hasil dari hubungan di luar pernikahan, namun orang tuanya menikah karena murni cinta, bukan seperti dirinya sekarang. Hanya saja, dulu sang papa ditentang keluarganya karena mencintai sang mama yang tidak dari keluarga berada. Ya, orang tua Gilda menikah tanpa restu orang tuanya hingga Gilda sampai sekarang belum pernah tahu keluarga besar papanya sampai ajal menjemput mama dan papanya.
Beberapa menit berlari, Gilda yang mulai terengah-engah perlahan kakinya melemah. Sambil menengok ke belakang, ia harap-harap cemas. Beruntung, tidak ada mobil atau seseorang yang mengikutinya. "Sepertinya penjaga di rumah kakek tidak sedang memeriksa kamera," ujarnya yang sesekali menoleh ke belakang.
Cukup lama berjalan, sampai akhirnya Gilda bisa keluar dari kawasan elite tersebut dan bertemu dengan jalan raya. Sambil terus berjalan, Gilda mengeluarkan ponselnya. Ia membuka aplikasi taksi online untuk mencari transportasi umum. "Tujuan satu-satunya yang paling aman untukku saat ini adalah rumah lama mama."
Begitu sudah dirasa cukup jauh dari rumah Mateo, Gilda berhenti di dekat tempat parkir sebuah rumah makan dan mulai mencari taksi online. Gilda menimbang-nimbang waktu tempuhnya jika ke rumah lama, karena jaraknya tidak dekat dari sini. "Tapi, untuk sementara ini memang cuma rumah itu yang bisa aku tempati dan jauh dari kakek, dan walaupun aku harus melepaskan toko rotiku juga ... tidak apa, demi hidup tenang dari Edzhar, aku yakin aku bisa melewati ini."
Gilda berharap penuh pada pemilik alam semesta agar menyertainya. Sangat mengharapkan rencana kaburnya ini diindahkan Sang Kuasa. Sambil menunggu ojek online, Gilda berdoa di dalam hati agar belum ada yang sadar akan kepergiannya dan dirinya tidak tertangkap oleh anak buah Mateo maupun Edzhar.
Sedangkan di rumah mewah Mateo, Edzhar sudah kebingungan mencari Gilda. Mulai mencari di balkon kamar, walk in closet, ruang kerjanya, sampai dapur pun dia tidak menemukan Gilda. "Apa yang harus aku katakan pada kakek, Gilda?!" pekiknya sebelum kembali masuk.
Baru saja dia hendak keluar dari dapur, sosok Mona datang dan memanggilnya. "Tuan! Nyonya Gilda keluar rumah sejak lima belas menit lalu!" ungkap Mona dengan ekspresi cemasnya.
"Semoga saja masih sempat," gumam Edzhar yang sudah berjalan ke arah depan rumah. "Apa kakek tahu informasi ini?"
"Beliau sedang bersiap mencari, Tuan." Mona mengekori Edzhar.
Edzhar yang sudah berada di dekat tempat penyimpanan di samping pintu rumah, segera mengambil kunci motor sport. "Jangan biarkan kakek keluar, ini sudah malam. Biarkan aku dan sopir pribadi Gilda saja yang mencari. Kau awasi kakek," perintahnya yang diangguki Mona.
Mona sangat setuju, karena kondisi Mateo akhir-akhir ini memang kurang baik. Mateo tidak sesehat minggu-minggu sebelumnya. "Baik, Tuan. Hati-hati dan semoga Tuan bisa membawa nyonya Gilda kembali." Edzhar menggapai helm full face miliknya di dalam lemari, dan buru-buru melewati pintu yang sudah dibukakan oleh Mona.
Bergegas mendatangi garasi, Edzhar mendekati motor sport dan lekas menaikinya. "Baru beberapa jam lalu kau menandatangani surat pernikahan kontrak, tapi dengan mudah melupakannya, Gil. Aku tidak akan membiarkanmu lari dariku," bisik Edzhar yang sudah menyalakan motor besar hitam miliknya dan lekas mengendarainya keluar dari garasi dan melewati pagar besar rumah sang kakek.
Kendaraan roda dua besar itu pun mulai menyusuri jalanan perumahan. Tentu saja dengan kecepatan di atas rata-rata, dan Edzhar melirik kanan-kiri bergantian. Sampai motornya keluar dari kawasan perumahan, Edzhar memelankan laju motornya dan memilih berhenti sejenak.
Sementara Gilda yang sudah mendapatkan taksi online, buru-buru masuk. Kala itu, Gilda tidak sadar bahwa pengendara motor tengah memerhatikannya. "Tolong cepat, ya, Pak," pinta Gilda setelah duduk di kursi belakang. Sopir di depan itu pun mengiyakan.
Masih dengan dadanya yang berdegup kencang, Gilda meremas -remas jemarinya sendiri. Gilda melirik perutnya sekilas sebelum melemparkan pandangannya ke samping kiri, ke jendela. Semoga keputusanku ini menjadi jalan terbaik, maafkan aku karena harus menjauhkanmu dari papamu. Menyandarkan kepalanya di sana, lalu meraba perut ratanya sebelum memejamkan mata sejenak.
Sedangkan pria yang kini mulai mengikuti sebuah mobil hitam dari jarak cukup jauh, tengah tersenyum miring. Ia sudah tahu siapa yang baru masuk ke dalam. "Ternyata mudah sekali menemukanmu, Gil ...," lirihnya lalu menutup kaca helm, motornya dengan kecepatan rata-rata masih mengikuti ke mana mobil yang ditumpangi sang istri berjalan.