Hari berganti. Aku menanti mama pulang hari ini. Aku harus memepersiapkan acting di depan papa sebagaimana seseorang yang baru saja terjadi kecelakaan tapi sekaligus tidak terlalu mengkhawatirkan menurut mama.
Pukul 9.15 ada tanda-tanda kedatangan mobil papa, pasti membawa mama pulang. Aku melihatnya dari balkon di depan kamarku di lantai dua.
Aku lalu turun dan hendak menyambut kepulangan mama. Di depan mama dan papa aku berjalan perlahan dan agak pincang. Hanya sebuah acting.
Untuk pertama kalinya kembali aku merasakan lagi kehadiran mama di rumah ini, bersama papa. Papa menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Mungkin ia merasa aneh tidak ada balutan perban atau tanda-tanda lecet di tubuhku.
Sementara mama memperhatikanku juga, mungkin merasa aneh dengan cara jalanku yag pelan dan sedikit pincang.
“Bimo? Kamu kenapa, Sayang?” tanya mama.
“Oh, ini, Ma.. Emh, Bimo kemarin ikut event olahraga tapi Bimo keseleo, jadi gini deh,” jawabku.
“Event olahraga apa? Kok bisa keseleo? Kamu sudah pergi ke ahli pijat?” tanya mama.
Aku senang dengan pertanyaan beruntun seperti ini. Kesehatan mama telah kembali, lengkap dengan mulut cerewetnya.
“Sudah, Ma. Bimo sudah pandai sendiri itu cari ahli pijat dan sebagainya. Dia kan sudah besar, anak laki-laki lagi. Jadi Mama ga perlu khawatir. Ayo kita ke kamar?” ucap papa.
Papa pun membantu mama kembali ke kamar, lalu sempat menoleh kembali kepadaku. Aku lalu berkomat-kamit di belakang mama.
“Make up!” ucapku tanpa suara dengan disertai ujung jariku mencolek pipiku lalu menunjukkan warna pewarna liquid itu kepada papa. Papa pun mengangguk dan meneruskan langkahnya mengantar mama.
Setelah mereka berlalu, aku pun menghembuskan napas panjang. Aku lega. Sebab, aku tak ingin mereka tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi kepadaku, terutama kejadian pasca aku pulang dari Surabaya waktu itu.
Waktu pun berlalu. Menuju pukul 15 aku bersiap-siap untuk menemui Prof. Nakayama bersama Yudas. Aku pergi satu jam sebelumnya dikarenakan ingin berjaga-jaga siapa tahu terjebak kemacetan lalu lintas. Aku pergi menggunakan kendaraan penjemput online. Sebab, mobilku habis kecelakaan.
Sebenarnya bisa menggunakan motor yang kupunya. Tapi sepertinya menggunakan kendaraan pribadi tidak cukup tepat. Akan ada tempat-tempat yang aku dan Yudas datangi mungkin nanti. Tidak efisien kalau nantinya kami berangkat sendiri-sendiri atau meninggalkan salah satu kendaraan kami untuk pergi bersama.
Aku pergi, lalu beberapa waktu kemudian aku tiba di gedung tempat acara Prof. Nakayama dan Yudas berlangsung. Ternyata itu adalah kegiatan semacam seminar ilmiah yang dihadiri banyak ilmuan. Aku mencoba masuk tapi ternyata acara sudah selesai.
Aku berpapasan dengan Yudas dan Prof. Nakayama di depan lift.
“Bimo! Untung kita bertemu di sini. Sudah sejak kapan kamu berada di sini?” ucap Prof. Nakayama.
“Belum lama, Prof,” jawabku.
“Udah siap, Lu, Bim?” sapa Yudas dengan sumringah. Aku dengan sumringahnya mengangguk kepadanya.
“Ayo, kita langsung ke lab saya. Yudas, kamu sudah tahu lab saya bukan?” ucap Prof. Nakayama.
“Emh, lab... Lab Prof yang di mana ya?” ucap Yudas sembari menggaruk punuknya dengan senyum kikuk.
“Oh belum. Ikuti mobil saya saja nanti. Tempatnya di belakang Rumah Sakit Ibu dan Anak HUJIGFA,” ucap Prof. Nakayama.
“Oke, Prof.”
“Baiklah,” ucapku dan Yudas bersamaan.
Aku dan Yudas pergi bersama dengan mobil Yudas. Kami mengekori laju mobil Prof. Nakayama.
Di dalam mobil, aku dan Yudas bercakap-cakap.
“Ga sia-sia, Bim, gua bisa ngenalin Elu ke Prof. Nakayama,” ucap Yudas.
“Emang kenapa tuh, Bro?” tanyaku.
“Dia bukan sekedar ilmuan bidang ilmu murni. Tahu ga, penemuan-penemuan beliau itu dipakai buat dunia medis. Listrik, medis, pokoknya jago banget deh,” ucap Yudas.
“Masa sih? Penemuan apa aja tuh?” tanyaku.
“Jadi teknologi-teknologi beliau dipakai buat percobaan-percobaan ilmu genetika. Rekayasa genetika, dan... hem...” ucap Yudas.
“Dan? Gimana sih Lu ngomongnya setengah-setengah. Kaga nge-tune gua!” protesku.
“Jangan bilang ke siapa-siapa, ya! Gua mencium penggunaan teknologi untuk percobaan-percobaan ke manusia, Bim. Bagaimana bisa membuat makhluk yang itu pasti banget adalah manusia tapi masih dalam fase bayi, mindahin memori jaringan seseorang yang auto mindahin juga memori kehidupannya ke tubuh baru,” ucap Yudas.
“Hah? Serius Lu? Jadi tadi kalian membahas itu di acara seminar itu?” ucapku terkejut.
“Secara implisit, Bim! Barusan itu adalah hasil terjemahan otak gua. Ya kaga segamblang itu lah, kaga mungkin. Ini Indonesia, Bim. Bahaya. Kita masih punya etika, norma apalah itu yang bisa jadi alat buat mempolitisasi penemuan-penemuan macam itu,” jelas Yudas.
“Bener juga, ya. Tapi, Lu serius, Lu ga salah tangkep?” tegasku.
“Gua yakin, Bim. Tadi sempat ada yang pertanyaannya mengarah ke hasil tangkapan gua ini. Dampak negatif penemuan ini agaknya bentuk-bentuk pertanyaannya bakal mengarah ke situ tapi langsung aja di-cut dan dialihkan ke pertanyaan yang lain,” jawab Yudas.
“Nah, baru nyambung gua. Kenapa lab profesor ada di belakang rumah sakit ibu dan anak yang tadi dia sebutin? Itu nyambung kan sama yang barusan Lu omongin, iya ga?” ucapku.
“Yup, bisa kan? Kita lihat aja nanti, Bim. Tu profesor mau ngelakuin apa sama Lu,” ucap Yudas.
“Iya, kita lihat aja nanti ya. Tapi, by the way dia ahli apaan sih? Masih ahli listrik yang kata Lu tadi kan? Atau udah ganti bidang gara-gara nyerempet-nyerempet sama dunia medis?” tanyaku.
“Dia kalau dibilang spesialis metafisika, gua takutnya salah juga sih, tapi sejenis itu,” jawab Yudas.
“Hah? Metafisika? Bisa menerawang hantu dong?” ucapku terkejut.
“Lu masih ingat pelajaran sekolah tentang sel ga? Ada yang namanya plasma. Inti sel, plasma sel dan lain-lain?” tanya Yudas.
“Masih sih, dikit-dikit ingatlah gua,” jawabku.
“Jadi yang menghubungkan fisik dan metafisik makhluk hidup itu ada di bagian plasmanya, Bim. Listrik di situ yang jadi kajian Prof. Nakayama,” jelas Yudas.
“Terus, hubungannya dengan rekayasa genetika dan dunia medis apaan, Bro?” tanyaku penasaran.
“Nah, jadi nih ya. Selama ini penelitian-penelitian soal buat-buat makhluk hidup kan udah banyak sebenarnya tapi dirahasiain,” ucap Yudas.
“Yup?” sahutku.
“Tapi, belum ada tuh yang benar-benar jadi. Jadi sih jadi, ya. Hidup! Cuma hidupnya ga lama. Hidup berapa jam terus ko’it. Gitu aja terus. Sampai urusan listrik di plasma inilah yang dikaji-kaji terus. Semacam pintunya nyawa orang masuk ke seonggok daging intinya,” jelas Yudas.
“Oh! Paham-paham gua. Ada kan yang buat-buat makhluk dan hidup tapi cuma kambing yang berhasil gua dengar-dengar. Jadi kalau manusia dibuat secara sintetis, itu jadi sih jadi tapi ga ada nyawanya gitu ya? Makanya ko’it-ko’it mulu. Dan si profesor inilah...” tegasku kembali.
“Bener banget, Bim!” ucap Yudas sambil menyentikkan jari.
“Gila! Gila, gila! Gua berurusan sama orang yang...” ucapku.
“Ssst... anggap aja teori konspirasi, Bim. Biar ga meledak kepala Lu mikirinnya,” ucap Yudas.
“Iya, Bro, teori konspirasi! Nyawa manusia jadi udah kaya mainan aja! Bener-bener teori konspirasi ini, Bro!” ucapku.
Beberapa waktu berlalu. Akhirnya aku dan Yudas pun tiba di halaman sebuah bangunan yang ternyata itu adalah lab milik Prof. Nakayama.
Kami turun dari mobil, lalu Prof. Nakayama mempersilahkan aku dan Yudas masuk bersamanya.
Kami melewati ruangan demi ruangan. Sepintas tidak ada yang aneh dari ruangan-ruangan ini. Pemandangan yang disuguhkan hanya serangkaian kabel dan kumparan. Tidak mencerminkan seperti apa yang aku dan Yudas obrolkan selama perjalanan tadi.
Profesor pun mengajak kami masuk ke dalam sebuah ruangan yang paling dalam. Ruangan di dalam ruangan. Kali ini pemandangannya cukup berbeda. Terdapat beberapa kaca dan botol-botol kimia dan mikroskop juga layar monitor komputer.
Prof. Nakayama lalu mempersilahkan kami berdua duduk di kursi. Ia mulai menjelaskan bahwa ia akan memeriksa sekerat sampel bagian tubuhku untuk kemudian dilihat kondisinya secara mikrokskopis, kemudian sampel itu diberikan perlakuan dengan ditambahkan zat kimia tertentu. Setelahnya, ia akan melihat reaksi sampel setelah diberi perlakuan.
Prof. Nakayama lalu menunjukkan simulasinya dan menampilkan macam-macam reaksi normal yang bisa sama-sama dilihat secara realtime pada layar monitor komputer, bagaimana aktivitas reaksinya secara mikroskopis.
Setelah semua dijelaskan, ia lalu menanyakan kepadaku apakah bersedia melakukan pemeriksaan itu. Tentu saja aku menjawab bersedia. Aku sangat ingin tahu apa yang terjadi pada diriku ini. Apalagi resiko dalam melakukan prosedur ini sangat minim tingkat bahayanya.
Selanjutnya, prosedur pun dimulai.