Insiden Di Depan Mata

1058 Kata
Shena baru saja ingin pergi bekerja. Baru beberapa langkah, ia mendengar suara kegaduhan tak jauh darinya. "Aaaaa, sakiiiit, aku mohon ampuni aku!" Shena melihat seorang wanita hamil sedang meraung sambil memegangi kaki seorang pria yang diduga suaminya. "Dasar istri tidak berguna! Merepotkan saja! Membuat beban hidup semakin bertambah karena kau tidak boleh bekerja lagi di kehamilan mu yang semakin besar. Kalau begini, darimana aku bisa dapat uang untuk bersenang-senang!" Pria itu menarik rambut istrinya yang masih betah memegangi kakinya. "Aku mohon, jangan siksa aku lagi, aku sudah tidak tahan!!" Tampak wanita itu menjerit semakin keras. Beberapa orang yang lalu lalang hanya diam menyaksikan hal yang sangat tidak manusiawi itu. Ah, Shena baru ingat jika di desa ini ada peraturan dilarang mencampuri urusan orang lain terlebih masalah rumah tangga. Tapi, di sini Shena tidak tega melihat penderitaan wanita itu. Ia dapat melihat wajah ketakutan dan keputusasaan dari wanita itu. "Kalau kau tidak tahan, kenapa tidak menyusul orang tuamu saja?" tanya pria itu seenaknya. Istrinya yang tadinya menangis kencang tiba-tiba saja terdiam. Ia melepaskan pegangan tangannya pada pria itu dan berdiri dengan susah payah. "Kau, kau yang sudah menghancurkan hidupku! Kau menipu orang tuaku hingga mereka kehilangan harta benda dan meninggal karena sakit memikirkannya. Lalu kau menikahiku secara paksa dan membawaku ke desa terkutuk ini untuk menjadi b***k! Dan sekarang kau ingin aku menyusul orang tuaku? Lakukanlah, lakukan!" Wanita itu mengambil sebuah batu dan memberikannya pada suaminya. "Sekarang pukul aku! Pukul! Bunuh saja aku! Aku lebih baik mati daripada menderita menjadi istrimu!" "Kau sudah membuat kesabaran ku habis!" Pria itu membuang batu di tangannya. Ia lantas kembali menarik rambut istrinya dengan kasar. "Mari aku beri kau hukuman yang lebih menyakitkan lagi! Bagaimana kalau dicambuk lagi?" Pria itu menyeret paksa istrinya yang kini tengah meronta-ronta sepanjang jalan meminta pertolongan. Diam-diam, Shena mengikuti mereka sampai ke rumah yang lebih bagus dari rumahnya. Ia bersembunyi di semak-semak samping rumah itu sambil terus melihat gerak-gerik suami si wanita tadi yang seperti sedang mencari cambuk. Ia memikirkan bagaimana cara menolong wanita hamil tadi tanpa diketahui. Seketika, ia mendapat ide yang bagus ketika melihat cambuk yang berada di belakang rumah itu. Setelah memastikan suami si wanita mencari di depan rumahnya, Shena langsung mengambil cambuk itu. Ia memaku gagang cambuk dengan paku-paku berukuran kecil yang sudah karatan. Paku yang menembus gagang cambuk pasti akan melukai tangan pria tadi. Ia juga melumuri gagang tersebut dengan getah dari daun keladi yang pasti akan membuat kulitnya gatal. Setelah itu, Shena pun kembali ke tempat persembunyiannya dan memerhatikan cambuk yang tadi sudah ia modifikasi. Pria tadi akhirnya datang ke belakang rumah dan menemukan cambuknya tergeletak di antara rerumputan yang menutupinya. Saat ia sudah memegang daun tersebut, ia pun langsung mengaduh saat telapak tangannya terluka akibat menggenggam cambuk yang berpaku. Ia segera melepaskan gagang cambuk dan fokus ke tangannya yang terluka di beberapa bagian. Namun, tak berselang lama, ia terlihat menggaruk telapak tangannya yang mulai terasa gatal. Ia mencuci tangan yang terluka bahkan dengan sabun, namun rasa gatalnya tidak kunjung hilang, yang ada hanyalah rasa sakit yang semakin menjadi. Lama-lama, rasa sakit yang kian menyiksa membuat pria itu menjerit kuat sambil memaki-maki istrinya. Beberapa menit kemudian, pria itu terlihat keluar sambil menggaruk telapak tangannya yang semakin gatal. Sepertinya pria itu akan pergi ke tabib di desa itu. Shena menghembuskan nafas lega. Wanita hamil tadi, akhirnya selamat. Namun ia masih merasa ragu karena bisa jadi, di hari berikutnya, suami si wanita akan melakukan hal yang lebih nekat lagi. Krussuk!! Shena menoleh ke sumber suara yang berada di belakang rumah. Ia memerhatikan semak-semak yang tadi mengeluarkan suara dan gerakan. Ia takut jika ada yang mengetahui tentang perbuatannya, ia pun memilih pergi saja. Shena tiba di peternakan tepat waktu karena ia tidak sarapan terlebih dahulu. Ia tidak mau mendapatkan hukuman lagi hanya karena terlambat. Terpaksa, ia menahan lapar sampai nanti siang. Ia segera melakukan pekerjaannya dengan sedikit lebih lambat karena energi yang tidak banyak. "Ini!" Terlihat Mira memberikan sepotong roti pada Shena. "Darimana kau dapat?" tanya Shena. "Aku tidak melihat mu sarapan, jadi aku hanya makan separuh milikku dan menyimpan separuhnya lagi untukmu." "Tapi kau pasti masih lapar." "Tidak, makanlah, aku tidak suka melihat orang lain kelaparan." Shena dengan senang hati menerima dan melahapnya hingga habis. Setelah itu, ia tentu dapat melakukan pekerjaannya dengan sedikit lebih cepat dari yang tadi. ***** Pekerjaan sudah selesai, waktunya Shena pulang. Ia menyusuri sepanjang jalan namun dengan cara memutar. Ia memiliki maksud yang tak lain adalah ingin melihat kondisi wanita hamil yang tadi. Saat melewati rumah pasutri tadi, ia mendengar suara erangan dan makian dari pria tadi. "Arrrrghhh, dasar tidak berguna, oleskan yang benar, ini sakit sekali, aaaarrrrghhhh!!!" Shena merasa puas mendengarnya. Akhirnya si jahat mendapatkan ganjarannya. Ia sangat yakin, paku yang sudah karatan itu yang menyebabkan tangan pria itu berdenyut nyeri, ditambah rasa gatal yang yang apabila digaruk akan membuat luka tangan iblisnya semakin parah. Sesampainya di rumah, Shena langsung menyegarkan dirinya. Ia memilih duduk di dalam rumahnya saja. Ia mengambil buku dan pena yang ia bawa. Ia menuliskan semua curahan hatinya ke dalam buku itu. Dear buku, hari ini, lagi-lagi aku harus melihat penyiksaan yang keji terhadap wanita dan orang-orang hanya bisa menontonnya. Suaminya marah karena istrinya tidak bekerja lagi sehingga dia tidak bisa bersenang-senang. Apa mereka memang sengaja mencari istri dari daerah lain agar bisa dijadikan b***k di sini? Pemikiran gila macam apa itu? Aku sungguh tidak paham dengan penduduk di desa ini. Jika suatu hari aku menjadi orang sukses, aku akan membuat perubahan terhadap desa ini. Dimana para pria harus menghargai wanita. Mereka juga harus bekerja, bukan malah memperbudak istrinya. Aku berjanji, akan menghapus peraturan tidak manusiawi yang ada di desa ini. Aku juga ingin desa ini dialiri listrik agar semakin maju. Tertanda, Shena. Setelah menuliskan keluh kesahnya, ia pun menyimpan kembali bukunya ke dalam kotak berwarna hitam pekat. Suasana yang semakin gelap mendorongnya untuk memasang obor dan lilin. Ia menaruh dengan sangat hati-hati. Ia tidak ingin rumah yang ia tempati terbakar dan ia harus tinggal di jalanan. Selesai dengan itu, ia pun bermaksud menutup jendela rumahnya. Namun, saat hendak menutup, ia melihat seorang wanita muda berdiri memerhatikan rumahnya tanpa henti. Terlihat wajah wanita itu begitu cemas dan khawatir. "Siapa dia? Ah, tutup sajalah, aku tidak ingin mengambil risiko jika ternyata dia memiliki gangguan jiwa." Shena segera menutup dan mengunci jendela rumah itu. Ia melanjutkan dengan melaksanakan sholat setelah melihat jam yang sudah menunjukkan waktunya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN