Sesuai dengan janjinya, Rafael pun kembali ke rumahnya hari ini. Saat ia baru menjejakkan kakinya ke dalam rumah, tiba-tiba saja Ansel berlari dengan wajah bahagia. "Ayaaaah!" Ansel berhenti berlari saat tubuhnya sudah berada di depan Rafael. Dengan cepat, tangan Rafael sudah menarik Ansel ke dalam gendongannya. "Hei, anak pintar, apa kabarmu? Ayah sangat rindu," ucap Rafael sambil mencium pipi Ansel berkali-kali. "Aku juga rindu, Ayah." "Apa kau sudah makan?" tanya Rafael sambil membawa Ansel yang masih dalam gendongannya ke kamar. "Sudah, Yah. Tapi,,," Tiba-tiba wajah Ansel berubah sedih. "Tapi apa, Nak?" tanya Rafael heran melihat reaksi yang ditunjukkan anaknya itu. "Ayah, apa mie itu jahat?" tanya Ansel pelan. "Mie? Siapa yang bilang begitu?" "Bibi pelayan. Tadi aku meminta

