Sepuluh

1544 Kata

Danita sedikit mengernyitkan dahi, kala lampu yang berada tepat di atas kepalanya memancarkan cahaya teramat terang. Membuat dia harus mengerjap-ngerjap beberapa kali sampai matanya terbiasa oleh cahaya yang ada. Mualnya sudah berangsur-angsur menghilang, namun rasa pening masih tersisa. Perlahan ia mulai mengingat apa yang terjadi sebelum ia jatuh pingsan lantas menghela napas. Danita mengangkat tangan kirinya, mendapati ada selang infus terpasang di sana. “Sudah enakan?” Salah satu tirai yang mengelilingi ranjangnya disibak terbuka, menampilkan sosok Melvin yang notabene dokter internisnya. Pria yang berusia beberapa tahun lebih tua darinya itu memang tersenyum, namun Danita tau betul kalau kakak dari sahabatnya Kiki itu sedang setengah menahan kekesalan. “Sebagai orang yang punya cata

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN