Majalah Oneiro adalah majalah yang sudah beroperasi selama 30 tahun lebih. Menjadi majalah trendi, di mana para remaja dan penggiat mode pasti menikmati setiap lembar halamannya. Namun, semenjak teknologi semakin berkembang seiring dengan menurunnya minat orang yang masih membaca majalah bentuk cetak. Majalah Oneiro mengalami kemunduran, dan tiap bulannya harus menghadapi jumlah penjualan yang terus menerus menurun.
Seolah belum cukup dibuat kesusahan atas persaingan bisnis dengan media digital lainnya, korupsi yang dilakukan oleh para petinggi membuat kondisi internal Oneiro menjadi semakin babak belur. Saat itulah, demi melakukan usaha terakhir untuk menyelamatkan mantan majalah terkemuka itu. Pihak petinggi dan para investor bertaruh pada keberuntungan, menunjuk satu-satunya pimpinan editorial yang dianggap mampu menjungkirbalikkan keadaan.
Pertaruhan, selembar kontrak dan perempuan muda berusia 28 tahun menjadi apa yang dibutuhkan untuk membangkitkan kembali Oneiro dari kehancuran.
“Damn, lagi-lagi hashtag buat issue kita bulan ini viral di X.”
Danita tersenyum kecil, sebenarnya sudah menduga kalau ini akan terjadi. Sudah 2 tahun sejak ia membawa kembali kejayaan majalah Oneiro, namun timnya terus saja merasa takjub setiap issue majalah mereka menjadi perbincangan di dunia maya. “Bagus dong? Itu berarti gak sia-sia kita selama seminggu ini lembur di kantor.”
Melihat Danita yang tampak gembira, meski penampilannya cukup mengenaskan akibat tidak tidur selama beberapa hari ini. Fadli, sang Senior Managing Editor yang berada tepat di bawah Danita tak kuasa berpangku dagu lantas menyeringai. “Kenapa lo masih di sini Danita? Bukannya lo paling malas ngawasin printing majalah? Kenapa masih di sini?”
Mendengar itu Danita tidak kuasa mengerucutkan bibir. “Wow, jadi sekarang gue dilarang buat datang ke ruangan editorial.”
“Ih Bang Fadli, gila ya masa Kak Danita diusir sih!”
Sahutan itu datang dari salah satu bilik meja kantor. Menampakkan sosok perempuan muda berpakaian teramat modis, menyembulkan kepala dair biliknya. Irene, salah satu leader editor divisi mode langsung menghujamkan tatapan tajam pada atasannya itu. Disusul, teman-temannya sesama leader yang ikut menyembulkan kepala dan menatap tajam Fadli.
“Lihat?” gumam Fadli malas, menunjuk ke arah leader editornya. “Mereka bawahan gue, tapi semuanya fans lo.”
“Ya sorry deh, kalau ternyata gue memang sememikat itu.” Dengan jahil Danita menyibakkan rambutnya, berpura-pura bersikap sombong sebelum meraih tas mahal dan paper bag dari sebuah brand mewah yang sedari tadi teronggok begitu saja di atas meja. “Gue bakal di ruangan ya, kalau ada apa-apa langsung kabarin gue aja.”
Dahi Fadli mengernyit. “Bukannya lo ada acara hari ini?”
Danita melambaikan tangannya seraya menuju ruangannya. “Gak mau dateng gue.”
Selepas kepergian editor in chief satu itu, Fadli bisa merasakan ada tatapan-tatapan yang langsung tertuju padanya. Benar saja, tepat sebelum ia memutuskan kembali ke ruangan para bawahannya itu langsung menggeser kursi. Membuat 5 leader editornya itu sudah duduk berderet di hadapannya. “Kenapa jadi ngalangin jalan gini sih?”
“Sst, Bang Fadli bukannya Kak Danita ada acara publishing? Kok malah ke kantor sih?”
Fadli menggelengkan kepala. “Gue juga heran kenapa dia tiba-tiba nongol tadi,” balas pria itu malas sampai ia tiba-tiba teringat sesuatu. “Hari ini tanggal berapa ya?”
“Tanggal 21 Bang.” Jawaban itu datang dari Niko yang berpose malas di kursinya itu. “Nanti kita bakal ditraktir sama Mas Rian loh Bang. Kan dia ulang tahun.”
Mendengar itu Fadli jadi menghela napas, lantas bergumam kecil. Sangat kecil hingga kalimat itu hanya bisa didengar olehnya. “Pantas aja dia ke kantor.
Sementara itu, tepat di depan ruangan editor in chief Oneiro. Tampak Danita baru saja meletakkan paper bag yang ia bawa ke atas meja. Sukses membuat pria yang duduk manis di depan meja tersebut mengalihkan pandang dari layar komputer. “Ini apa?”
“Mas Rian ulang tahun kan?” tanya Danita seraya tersenyum lebar. “Ini hadiah dari aku, please diterima jangan ditolak. Tanda terima kasih aku loh karena Mas udah bantuin aku selama 2 tahun terakhir.”
Rian mengerjapkan mata, menatap paper bag itu sebelum akhirnya tersenyum tipis. “Oke yang ini saya terima. Lain kali selain makanan, saya gak mau terima.” Paper bag tersebut diraih, dan diletakkan di pangkuan sang pria. Rian untuk kali kedua mengembangkan senyum yang lebih lebar nan hangat. Jenis senyuman yang jarang sekali terlihat terukir di para rupawannya. “Terima kasih Danita.”
Melihat itu Danita terdiam sesaat, sebelum akhirnya ikut tersenyum, dan menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tak terasa gatal. “Sama-sama Mas Rian,” balas Danita seraya mengalihkan pandang. Jelas tak mau ketahuan kalau pipinya jadi memerah hanya karena ucapan terima kasih sederhana itu. Namun, tepat sebelum tangan Danita meraih gagang pintu ruangannya. Suara sang asisten pribadi kembali terdengar.
“Hari ini kamu ikut makan malam bareng anak editorial kan?”
Danita terdiam cukup lama, lantas menunjuk dirinya sendiri. “Aku diajak?”
Rian terkekeh pelan. “Ya pasti saya ajak dong, kamu kan bagian dari editorial apalagi kamu atasan saya kan?” Dahi pria itu lantas mengernyit, lantas bergegas melirik kalender yang terpasang di sebelah layar komputernya. Menyadari ada jadwal Danita yang tertulis di sana. “Oh, saya baru inget kamu ada acara publishing malam-“
“Aku nggak dateng Mas,” potong Danita. “Aku mau ikut kamu aja? Boleh kan?”
Hening menyeruak, sampai Rian akhirnya mengangguk mengerti. “Oke, kalau gitu saya kabarin pihak acaranya kalau kamu nggak jadi dateng. Kita kirim karangan bunga aja ke sana?” jawab Rian dengan nada profesionalnya, sukses membuat Danita menghela napas karena begitu cepat pria itu kembali masuk dalam mode ‘bekerja’nya.
“Atur aja Mas.”
Danita masuk ke dalam ruangannya, lantas mengusap wajahnya. Pipinya masih bersemu merah, namun di satu sisi ia merasa lelah. Hah, dua tahun Rian menjadi asisten pribadinya namun selama itu pula Danita tidak bisa melangkahkan kaki melewati garis hubungan antara atasan – asisten pribadi.
Bagaimana ini? Danita sudah terlanjur jatuh hati, namun nampaknya segala perhatian yang membuatnya jatuh cinta itu hanyalah bentuk perhatian Rian sebagai asisten pribadinya saja.