Empat

1825 Kata
“Danita? Bangun, kita ada rapat makan siang sama publishing sebentar lagi.” Mata Danita mengerjap, bisa mendengarkan suara ketukan di pintu kamarnya di susul suara langkah kaki yang perlahan menjauh. Di dalam kamar yang gelap gulita itu, satu-satunya benderang cahaya berasal dari jam digital di meja samping tempat tidur Danita. Sudah pukul 9, dan di luar sana suara langkah kaki dan gemerisik air yang sesekali dinyalan mulai terdengar. Tak butuh waktu lama sampai Danita tau siapa orang yang sedang berkelana dengan bebas di apartemennya. Siapa lagi kalau bukan sang asisten pribadi, Rian. Danita memegangi kepalanya yang sakit, efek dari kebanyakan minum semalam. Sebuah keajaiban, ia dengan kesadaran tersisa semili itu berhasil kembali ke apartemen dengan selamat. Perlahan tapi pasti, Danita berjalan lunglaii menuju kamar mandi. Menyalakan air dan membiarkan sekujur tubuhnya langsung basah terkena air hangat yang mengucur dari pancuran. Abai akan fakta bahwa air hangat itu bukan hanya membasahi wajah dan seluruh kulit, namun juga pakaian tidurnya. Setengah jam yang dibutuhkan Danita untuk bersiap, sebelum akhirnya keluar dari kamar. Wajahnya belum tersapu riasan, namun di tangan ada satu buah pouch berukuran besar berisi amunisi untuk mempercantik diri. Rambutnya juga sudah kering dan telah dibuat ikal di tiap ujungnya. Belum mengenakan riasan saja Danita sudah sedemikian cantik, sayang kecantikan itu tidak berpengaruh apa-apa bagi Rian. “Isi kulkas kamu tadi saya bersihin, ada beberapa makanan yang udah kadaluarsa. Jadi sepertinya pulang nanti kamu harus mampir buat belanja.” Seolah sudah terbiasa, Rian mengeringkan tangannya yang basah selepas mencuci piring. Lantas menarik tablet di dekatnya. “Jadwal kamu hari ini gak terlalu padat, jadi kalau kamu mau pulang lebih cepat buat belanja bisa.” “Oke, atur kayak biasanya aja Mas.” Danita mendudukan diri di salah satu meja makan yang dikhususkan untuk 6 orang itu. “Kita berangkat sekitar 10 menit lagi? Soalnya aku belum-“ Mulut Danita kembali terkatup, menatap semangkuk bubur ayam tanpa daun bawang yang baru diletakkan di hadapannya itu. Ia menatap Rian yang hanya tersenyum tipis. “Kata Fadli kemarin kamu minum banyak sekali, jadi saya bawain bubur buat sarapan.” Tangan Rian lantas memegangi dahi perempuan itu. “Tapi gak pusing atau mual kan? Kalau iya, saya ambilin obat.” Danita menelan ludah, lantas menjauhkan tangan Rian dari dahinya. “Gak usah Mas, aku nggak pusing kok.” Pria itu mengangguk kecil, lantas menarik kursi di hadapan Danita. Kemudian kembali sibuk dengan pekerjaannya yang ada di tablet. Sementara itu Danita menghela napas, dan memijat dahinya kecil. Memang setiap beberapa hari sekali Rian akan naik dan memeriksa segala keperluan makanan Danita yang tersimpan di dalam kulkas. Seharusnya itu tugas ART yang akan datang tiap 2 hari sekali, namun mengingat pernah ada kasus sang ART tanpa sengaja membuang makanan dari salah satu brand yang bekerja sama dengan Oneiro. Alhasil urusan isi kulkas dan lemari dapur, Rian lah yang bertanggung jawab. Ini bukan kali pertama Rian membawakannya sarapan tanpa di minta. Namun, rona merah di pipi Danita terus menerus muncul. Pria itu selalu tau apa yang dibutuhkan Danita baik secara fisik maupun mental. Itulah kenapa keberadaan Rian sebagai asisten pribadi jelas sangat membantu dirinya. Ia tidak bisa membayangkan tak ada lagi sosok Rian yang bisa ia andalkan seperti ini. “Mas Rian mau resign bukan karena aku ada salah kan?” Pertanyaan itu sukses menarik atensi Rian seutuhnya. Pria yang biasa memasang ekspresi datar itu terdiam cukup lama, sebelum akhirnya meletakkan tablet di tangan ke atas meja. Menandakan sepenuhnya ia fokus pada sang puan. “Keputusan itu saya buat bukan karena ada hal yang salah antara kita Danita. Murni keadaan.” “Mas nggak bisa kasih tau aku, masalah keluarga apa yang buat Mas harus resign?” tanya Danita tenang. Berusaha sekuat mungkin tidak memperlihatkan kekecewaan dan patah hatinya. “Benar-benar nggak bisa selesai kalau aku kasih Mas cuti panjang?” Hening melanda, sampai akhirnya Rian mulai menggeleng pelan. “Ya, saya harus resign.” Danita menggigit bibir dalamnya, lantas menunduk cukup lama sebelum akhirnya menghela napas. “Boleh gak surat pengunduran diri Mas aku proses, setelah aku nemu aspri yang cocok buat jadi pengganti kamu?” “Memang seperti itu kok, saya juga tidak akan kemana-mana sebelum kamu nemu aspri yang cocok.” “Mas janji?” Mata Rian mengerjap mungkin sedikit kaget karena Danita meminta janji, padahal perempuan itu bisa saja tinggal menyodorkannya kontrak lain yang mengharuskan ia untuk tetap bertahan sampai pengganti pria itu ditemukan. Namun, melihat sorot mata Danita yang terama serius pria itu hanya tersenyum kecil lantas mengangguk. “Saya janji.” *** Suara ketukan di pintu mengalihkan fokus Danita dari layar komputer. Ia menoleh, mendapati seorang perempuan dengan rambut panjang bergelombang memasuki ruangannya dengan begitu terburu-buru dengan sebuah map berwarna hitam di tangan. Sepatu hak tinggi dari sebuah brand ternama beradu dengan lantai, menimbulkan suara ketukan yang nyaring. “Dan, ini seriusan?” tanya perempuan itu seraya meletakkan map yang ia bawa ke atas meja. “Mas Rian? Mas Rian mau resign?” Danita menghela napas, lantas menganggukkan kepala. “Iya lagi El, tolong kamu mulai cari orang buat gantiin dia.” Balasan Danita barusan, sukses membuat Kelly yang merupakan manajer divisi HR semakin menganga. Wajahnya menyiratkan ketidakpercayaan seolah ia baru saja menyaksikan anomali di depan mata. “Lo berdua berantem? Eh kalau lo buat salah, kata gue mending lo minta maaf sama dia.” “Gue nggak berantem,” balas Danita seraya mendengkus. “Ada masalah keluarga gitu, emang dia nggak jelasin apa-apa ke lu?” Kelly mulai berkacak pinggang, lantas menggeleng kecil. “Dia cuman bilang mau resign terus kasih surat pengajuan ke salah satu staff gue. Cuman di surat dia bilang ada kejadian tidak disangka yang buat dia mau gak mau mundur jadi aspri lo. Makanya gue buru-buru ke sini, karena ngira kalian berantem.” Mau tak mau Danita memaksakan diri untuk tersenyum, “Tolong urus aja ya El, jujur gue udah stress duluan bayangin Mas Rian mau resign? Apa gue balik gak usah ada aspri lagi ya?” “Dih udah gila lo ya?” ujar Kelly seraya berdecak kecil. “Lo nggak inget seberantakan apa lo selama nggak ada Mas Rian? Bolak-balik RS karena kecapekan, apalagi sekarang kita ada rencana buat expand ke publishing di wilayah ASEAN lagi? Please, jangan mati dulu karena baik Fadli maupun Reza gak ada yang mau gantiin lu jadi EIC.” Entah Danita harus merasa senang atau miris akan kalimat itu. Bagaimana pun, Oneiro bisa kembali menapaki tangga kesuksesan bukan serta merta hanya karena dirinya. Perubahan besar-besaran di struktur kepemimpinan, membuat para pemimpin divisi di majalah tersebut sebagian besar diisi oleh anak muda. Itu berarti ada begitu banyak anak muda yang mencurahkan begitu banyak waktu, tenaga dan pikirannya bersama Danita. Namun, seperti kata orang generasi muda dan generasi tua ditakdirkan untuk terus bergesekkan ketika bekerja karena perbedaan prinsip kerja dan strategi bisnis yang dianut. Danita dijadikan EIC bukan serta merta karena latar belakang keluarganya yang merupakan seorang pebisnis besar dan kepiawaiannya di dunia publishing. Ada yang jauh lebih penting dari itu, fakta bahwa Danita adalah satu-satunya orang yang bisa menjadi jembatan antara Oneiro dengan publishing yang jelas diisi oleh para tetua. Tidak ada yang bisa melakukan itu, selain Danita. Jadi tumbangnya Danita sama saja seperti tumbangnya Oneiro. “Paling lambat seminggu, gue bakal bawa-“ “Santai aja El, gak usah buru-buru.” Danita menyahut cepat, kini tampak lebih panik. Menyadari bahwa Kelly kini melemparkan tatapan penuh kecurigaan, perempuan itu terkekeh kecil. “Seminggu, dua minggu atau bahkan sebulan? Nggak papa, take your time aja.” “Tapi-“ “Gak usah buru-buru, El. Please?” *** Sebuah mobil berwarna putih mengkilat, memasuki area parkir sebuah kediaman. Untuk sesaat penjaga gerbang mengernyitkan dahi ketika melihat kedatangan mobil tersebut. Bagaimanapun, berbeda dari tamu tuannya yang lain, mobil itu bisa dikatakan terlalu sederhana. Kalau bukan karena kemarin sang tuan memberi instruksi jelas bahwa kendaraan dengan jenis dan plat tersebut harus diperkenankan masuk tanpa hambatan. Sang satpam jelas mau tak mau membukakan gerbang besar yang dikelola secara otomatis itu. Dahinya mengernyit, penasaran setengah mati siapa tamu tuannya yang datang siang bolong seperti ini. “Tamunya Pak Iyan?” tanya salah satu rekan kerjanya ikut melongokkan kepala keluar dari pos. Memandangi mobil yang baru saja terparkir manis di parkiran luas kediaman tersebut. “Pakai sigra gitu? Bawahan beliau di kantor ya? Tumben banget sampai Pak Iyan ajak ke rumah.” “Menurut lo kalau yang datang bawahan Pak Iyan, emang yang bakal nyambut Pak Syarif apa?” bisik sang lawan bicara, melirik ke arah Pak Syarif yang merupakan kepala urusan rumah tangga di kediaman Handoyo yang baru saja keluar dari rumah utama. Saking eksklusifnya pekerja satu itu, Pak Syarif hanya akan turun untuk menyambut tamu yang dinilai teramat penting bagi keluarga Handoyo saja. Selain itu? Maka akan ada pekerja lain yang diturunkan untuk menyambut. Deru suara mesin berhenti, bersamaan dengan pintu pengemudi terbuka. Menampilkan sosok pria berkemeja putih keluar dari sana, seraya menenteng sebuah jas hitam. Dasi yang melilit leher, pria itu tarik hingga tak lagi terasa mencekik. Dari kejauhan dua orang satpam kediaman keluarga Handoyo itu tertegun, yakin sekali bahwa ini kali pertama mereka bertemu dengan sang pria namun ada rasa familiar yang sedemikian terasa saat melihat parasnya. “Selamat datang kembali, Tuan.” Pak Syarif sedikit mengangguk, memberi sambutan. Ia melirik ke arah mobil yang di bawa sang pria. “Pak Syarif, sepertinya anda masih mempertahankan tata krama yang kolot itu.” Pria itu mendengkus kecil. “Memanggil saya dengan tuan, membuatku tidak bisa membandingkan apa kamu berbicara denganku atau si Kolot-“ “Kasar seperti biasanya ya Kak.” Sahutan itu mengalihkan atensi keduanya. Beberapa meter di balik punggung Pak Syarif, ada seorang pria yang berjalan mendekat. Tubuhnya yang sudah terbilang tinggi, untuk pertama kalinya tampak lebih pendek jika dibandingkan dengan orang yang sedang berbicang dengan Pak Syarif. “Kalau Papa dengar Kakak manggil dia dengan sebutan Kolot, yang ada dia bisa marah-“ “Iyan, dia saja kepayahan bangun dari tempat tidurnya dan kamu mau aku percaya dia akan tiba-tiba muncul hanya karena aku menyembutnya Kolot?” Iyan menghela napas, menyerah menasehati sikap keras dan sembarangan berbicara milik sang kakak sulung. “Ayo masuk dulu, kita obrolin sambil minum teh-“ “Langsung aja.” Si sulung keluarga Handoyo itu menolak, kini melirik jam tangannya. “Waktu Mas keluar kantor nggak banyak.” Dahi Iyan naik sebelah, sedikit bingung apa maksud kalimat sang kakak sebelum ia mengerti. Pria itu terkekeh, lantas memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. “Maaf Kak, tapi sepertinya kamu harus ngabarin ‘kantor’mu kalau agenda kamu di luar akan berlangsung lebih lama.” “Iyan-“ “Ini tentang tunangan Mas Ditrian.” Iyan menatap kakak sulungnya itu serius. “Danita Adiyasmara menghubungi keluarga kita karena minta dipertemukan dengan kamu.” Melihat perubahan ekspresi sang kakak, Iyan terkekeh. “Paham kan? Ini bukan sesuatu yang bisa kita obrolin di parkiran? Jadi gimana kalau Mas masuk dan temani aku minum teh yang baru aja aku beli dari Inggris?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN