37. We're Siblings

1742 Kata
Akriel masih di rumah sakit. Tidak ada siapa pun yang mengetahui keberadaannya selain Herman. Tidak dengan Kasa, Kisa, Saka ataupun Pak Bondan, mereka semua sama sekali tidak tahu. Akriel menurut saja untuk bersembunyi di rumah sakit sampai menunggu waktu paling tepat kata Herman. Meskipun beberapa luka Akriel sudah mulai sembuh, tetapi Herman masih belum menjelaskan mengapa dia menyembunyikan Akriel di tempat yang tidak diketahui orang-orang. "Kapan saya boleh pergi dari sini?" Tanya Akriel yang masih duduk di ranjang bangsalnya, sementara Herman baru saja datang ke sana dan langsung dibombardir dengan pertanyaan Akriel. "Besok." Jawab Herman singkat. "Apa kalau sekarang belum juga? Kenapa harus besok?" Akriel terus bertanya. "Kamu akan lihat nanti." Akriel pun terdiam. Suasana sempat senyap dan canggung selama beberapa saat. Namun, Akriel berhasil mencairkannya dengan pertanyaannya lagi. "Sebenarnya Anda ini sedang berusaha melindungi saya atau apa? Kenapa Anda membawa saya ke sini dan tidak memberi tahu siapa-siapa soal keberadaan saya?" Herman tak langsung menjawab. Pria itu menghela napasnya. "Menurut kamu apa saya sedang berbuat jahat? Saya mencoba menyelamatkan kamu." "Saya tahu. Tapi kenapa?" "Renita sedang mencoba membunuh kamu. Dia berusaha untuk menyingkirkan kamu. Mungkin kamu juga sudah tahu kenapa alasannya." Kata Herman. "Maka sebisa mungkin, saya harus bisa menghindarkan kamu sejauh mungkin dari dia." Akriel terdiam sejenak. "Dari mana Anda tahu kalau Renita sedang berusaha membunuh saya?" "Karena kamu adalah Karan Sabintang yang kedua." Perkataan Herman membuat Akriel tercekat. Laki-laki itu nyaris membulatkan kedua bola matanya lebar-lebar. "Kamu tidak boleh berakhir seperti Karan. Meskipun kamu senekat dia untuk melawan Renita, kamu tidak boleh berakhir seperti dia." Akriel semakin tercekat. "Jadi, Anda tahu soal Karan?" Tanya Akriel penasaran. Herman mengangguk. "Saya tahu semuanya. Dia tidak mati dalam keadaan kecelakaan kereta seperti yang dikatakan semua orang, melainkan Renita yang telah membunuhnya." Akriel lagi-lagi terkejut. Dia dibuat sesak napas dengan perkataan Herman. Jadi, apa yang dikatakan Fany memang benar, kematian Karan itu palsu. Dan fakta yang sebenarnya adalah Renita yang dengan sengaja membunuh Karan. "Jadi, Karan memang benar dibunuh?" Akriel nyaris memekik. Herman lantas mengernyitkan kening. "Kamu tahu?" Akriel mengangguk tegas. "Saya tahu karena Fany yang menceritakannya pada saya. Dia mengatakan kalau penyebab kematian Karan itu sebenarnya dipalsukan." "Fany?" "Dia teman sekelas saya." "Kalau begitu, dia bisa membantu saya untuk mengungkit kembali kasus itu dan mengatakan kalau Renitalah yang telah membunuh Karan. Dengan begitu, saya punya cukup bukti untuk mengungkap kebenaran." Kata Herman dengan leganya. Sejak lama dia memang sudah tahu kalau mantan istrinya kerap berbuat hal keji seperti itu. Tapi, Herman diam saja dan menutup mulut. Namun kali ini, Herman tak bisa untuk berdiam diri. Dia akan mengungkapkan kebenaran dan menghancurkan Renita secepatnya dan membongkar semua kebusukan wanita itu. "Lalu apa rencana Anda?" Tanya Akriel. "Saya bisa meminta bantuan Fany untuk mengatakan kalau dia juga tahu Renitalah yang telah membunuh Karan. Dan kamu juga bisa membantu saya dengan mengatakan kalau Renita telah mencoba membunuh kamu. Tolong bantu saya untuk menghancurkan Renita. Hanya kamu harapan saya satu-satunya." Kata Herman sambil memohon. Akriel terdiam beberapa saat. Entah apa tujuan Herman yang begitu ingin menghancurkan mantan istrinya tersebut, tapi Akriel setuju saja untuk mengikuti rencananya. "Saya setuju." *** Hari ini hari libur. Kasa tiba-tiba menghubungi Fany dan memintanya untuk menemuinya di sebuah cafe terdekat sekarang juga. Katanya ada hal penting yang harus dibicarakannya sampai meminta Fany untuk cepat-cepat datang. Kasa tidak memberi tahu Kisa terlebih dahulu, soalnya dia berangkat cukup pagi dan saat itu Kisa masih molor di kamarnya. Dan setelah ditunggu-tunggu, akhirnya Fany datang juga. Cewek itu segera duduk di salah satu meja cafe bersama Kasa. "Ada apa nyuruh gue ke sini?" Fany langsung bertanya. "Gue mau ngomong sesuatu." "Apa?" "Beberapa hari lalu, Akriel tanpa henti nanyain tentang Karan baik ke gue, Kisa ataupun Saka." Kata Kasa membuat Fany langsung tercekat di sana. "Jadi?" Fany agak mengernyit. "Apa lo yang bilang ke Akriel kalo lo tau kenapa Karan meninggal? Dan lo tau soal kematian Karan yang sebenarnya. Jadi, dia dibunuh atau emang kecelakaan?" Fany nyaris tersedak saat dia meminum minumannya. Mendengar pertanyaan Kasa yang membombardirnya, entah kenapa membuat Fany ragu untuk menjawab. Sejauh ini, dia memang hanya menceritakan soal fakta di balik kematian Karan pada Akriel dan hanya Akriel tidak pada siapa pun lagi. Fany merahasiakan kebenaran itu sendirian karena dia takut untuk mengungkapkannya pada semua orang apalagi Renita. "Kenapa lo nuduh gue?" Ucap Fany datar. "Karena gue tau itu lo. Lo orang yang pernah berkomunikasi sama Akriel dan Akriel gak bakal tau kalo dia gak dikasih tau soal kematian Karan. Gue tau itu lo yang ngasih tau dia." Kata Kasa dengan ekspresi yang cukup mengintimidasi. "Iya, gue yang ngasih tau Akriel." Ucap Fany kemudian sontak membuat jantung Kasa nyaris melorot. Kasa sempat kesulitan bernapas saat itu. "Jadi, lo tau kenapa Karan meninggal?" "Gue tau secara detail, karena gue yang ngeliat dengan mata kepala gue sendiri saat di mana Renita ngebunuh Karan dengan sadisnya." Tutur Fany selanjutnya dan saat itu juga Kasa semakin kesulitan bernapas. Rasanya seluruh oksigen di sekitarnya kian menipis bahkan mungkin sudah tidak ada oksigen lagi di sana. Kasa mati-matian mencoba menahan dirinya sendiri. Dan secara diam-diam, cewek itu mengaktifkan fitur perekam suara dari smart watchnya. "Bisa lo jelasin lebih detail lagi?" Pinta Kasa. "Kalo lo gak keberatan." Awalnya Fany enggan, tapi dengan menceritakannya pada Kasa mungkin akan membantunya untuk tidak memendam kebenaran itu sendirian. Di satu sisi, Fany juga bersalah karena menyembunyikan fakta itu dan membuat semua orang percaya kalau Karan meninggal karena insiden kecelakaan, bukan dibunuh. "Kejadian itu delapan bulan lalu. Saat itu, satu sekolah tau kalo Dara dan Sheryl lagi berselisih besar. Sheryl suka sama Karan, tapi Karan malah suka sama Dara. Hal itu yang ngebuat Sheryl begitu benci sama Dara. Sheryl selalu kalah dari Dara. Dan saat itu, peringkat paralel semester 4 kelas 12 di nomor satu adalah Sheryl meskipun seharusnya itu adalah posisi Dara. Dara nyoba nyari bukti kalo Sheryl memanipulasi ranking saat itu. Dan Karan ikut terlibat dengan ngebantu Dara buat nyari bukti itu. Dan karena Sheryl suka sama Karan, dia cemburu karena Karan ngebantuin Dara dan ngebela dia. Tapi Renita salah paham karena mengira Karan udah nyakitin Sheryl." Fany menuturkan. "Lanjutin," kata Kasa. "Malam itu, gue kebetulan lagi di sekolah buat ngambil buku di perpustakaan sekolah. Dan tanpa sengaja gue denger suara berisik tepatnya di samping perpustakaan yaitu lab komputer. Gue sempet ngecek secara diam-diam dan ternyata itu Renita dan anak buahnya yang lagi ngehajar Karan. Dan selanjutnya, gue trauma kalo inget kejadian itu lagi di mana Renita ngedorong Karan dari lantai dua di lab komputer. Gue ketakutan saat itu dan gue bingung mau ngelakuin apa-apa. Dan payahnya gue gak bawa handphone buat ngerekam kejadian itu." Kasa yang mendengarnya semakin tak kuat menahan dirinya sendiri. Jantungnya kian berdebar saking hancurnya dia mendengar kesaksian Fany menceritakan soal Karan. "Setelah itu, Renita dan anak buahnya ngebawa Karan yang udah gak sadarin diri. Gue ngikutin secara diam-diam tanpa mereka tau. Mereka ninggalin Karan di rel kereta gitu aja. Setelah itu, gue pun segera pergi dari sana dengan sangat ketakutan. Dan besoknya, muncul kabar kalo Karan telah meninggal dunia karena tertabrak kereta api. Saat itu, gue bingung harus gimana buat bilang kalo sebetulnya Karan gak mati karena itu. Gue terlalu trauma. Jadi gue cuma bisa diam dan tutup mulut. Dan setelah gue liat lokasi kejadian di mana Renita dan anak buahnya ngehajar Karan berkali-kali di depan lab komputer, sama sekali gak ada darah yang berceceran di sana keesokan harinya padahal saat gue liat malam itu ada banyak darah di lantai. Mungkin Renita sendiri yang udah ngehapus bukti di sana." "Kenapa lo diam aja?" "Lo tau karena gue takut. Cuma lo sama Akriel yang gua kasih tau soal ini. Gue tau gue salah. Gue diam selama ini dan ngebiarin semua orang percaya kalo kematian Karan itu karena kecelakaan di rel kereta padahal kenyataannya bukan gitu." Detik itu juga Kasa tak mampu menahan air matanya lagi. Cewek itu menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan dan menangis. Kasa tidak kuat untuk mengingatnya lagi. Fany yang melihatnya hanya diam saja. Dia tidak tahu kenapa Kasa bisa seemosi itu sampai menangis setelah mendengar ceritanya soal kematian Karan. Kasa mencoba menghentikan tangisannya namun perasaannya masih teremat amat dalam. Kasa tidak mampu menahan dirinya sendiri. Detik berikutnya cewek itu menatap Fany di depannya. "Makasih udah ceritain ke gue soal apa yang lo ketahui tentang Karan." Fany tersenyum tipis. "Gue ga tau kenapa lo bisa nangis denger cerita soal Karan. Padahal pas kejadian, lo belum bersekolah di sekolah itu. Mungkin lo punya rasa simpati yang sebesar itu sampe lo nangis. Atau lo udah kenal Karan?" Kata Fany. "Tapi, akhirnya gue lega karena gue gak pendam masalah ini lagi sendirian. Setidaknya udah ada orang lain yang tau soal masalah itu selain gue." Kasa diam saja. Terlihat cewek itu menarik senyumnya tipis. Air matanya masih sesekali menetes di pipinya dan belum reda. "Gue pengen ngomong sesuatu juga ke lo." Fany mengernyit cukup penasaran. "Lo mau ngomong apa?" "Gue mau bilang kalo gue sama Karan itu saudara. Kami saudara. Gue adiknya Karan Sabintang." Saat itu juga, Fany tercekat sampai dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya seinci pun. *** Dalam hidup ini, kadang kita tidak tahu kapan kita akan kembali atau berpulang. Karena katanya kemarin itu sejarah, besok itu misteri dan hari ini adalah hadiah. Kalau kita masih bisa bertemu di hari esok artinya kita masih diberi kesempatan. Dan kalau di hari esok kita sudah berpisah berarti hari ini adalah hari terakhir untuk kita bisa bersama-sama. Takdir itu paling misteri. Kita tidak tahu kapan Dia akan menjemput. Entah itu saat kita sedang bahagia, sedih, marah, bimbang atau di saat kita sedang dalam momen berharga bersama orang-orang tersayang. Kita tidak bisa mengelak. Sekuat apa pun, kalau takdir sudah berkehendak kita tidak akan bisa menyangkalnya. Tapi, bisakah kalau suatu hari kita berpisah, kita meminta kepada Tuhan agar dipersatukan lagi di surga kelak. Mungkin bisa. Itu namanya nawar. Nawar harga cabe di pasar aja bisa, masa nawar sama Tuhan gak bisa. Iya gak? Hahahaha... Semoga aja kita bisa bareng-bareng di surga kelak. Doain aja ya. Untuk adikku tersayang, Kasalira Sabina, selamat ulang tahun. Kamu bisa gembira atau sedih di hari ulang tahunmu sekaligus. Gembira karena kamu masih diberi kesempatan untuk tinggal di dunia hingga detik ini. Dan sedih karena waktumu di dunia semakin berkurang seiring bertambahnya usia. Bahagialah terus tanpa henti. Karena dengan bahagia, hidupmu selama di dunia akan lebih banyak berwarna. Jangan terlalu sedih karena itu hanya membuang-buang waktumu selama di dunia. Ingat, kita di dunia itu terlalu singkat dan sementara. Sampai jumpa, semoga kita lekas bertemu di hari esok. —Karan Sabintang
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN