Dara kesal pada Akriel yang terus membicarakan Karan. Dara berjanji saat itu juga kalau dia bakal ngambek dan tidak akan menemui Akriel lagi. Dara juga kesal pasal Akriel yang ikut-ikut campur ke dalam masalahnya soal persidangan itu. Sok-sok-an mau jadi saksi pula. Memang sih niatnya benar mau membantu Dara mengungkapkan kebenaran, tapi sungguh Dara tidak ingin Akriel terlibat lebih jauh lagi. Dia takut kejadian yang sama seperti Karan akan terulang dan menimpa Akriel.
Mendadak kepala Dara pening sendiri.
Setelah dirasa Akriel tidak mengikutinya lagi, Dara berniat kembali ke rumahnya. Tapi, dia agak penasaran terhadap Akriel yang berhenti mengejarnya. Apakah cowok itu sudah kembali lagi ke sekolah atau justru malah tersesat? Dara jadi overthinking. Entah bagaimana, kaki Dara malah berbalik melangkahkan kaki ke tempat Akriel membuat Dara kebingungan sendiri karena kakinya dirasa tak sinkron dengan isi otaknya. Seolah otaknya menyuruhnya untuk masa bodoh saja, tapi kakinya malah memaksa untuk kembali. Dan pada akhirnya, Dara putar arah dan berlari sekuat tenaga. Benar saja, dari jarak sepuluh meter Dara bisa melihat seorang cowok tengah terkapar di pinggir jalan. Setelah ditelisik ternyata itu adalah Akriel yang sudah tak sadarkan diri.
"Akriel!" Dara panik. Berkali-kali cewek itu menggoyahkan tubuh Akriel namun cowok itu tetap tak merespon sama sekali.
Sebelumnya Dara bisa melihat ada segerombolan orang berkaca mata hitam dan bersetelan suit rapi baru saja masuk ke dalam mobil dan langsung tancap gas begitu saja ketika Dara baru sampai di sana. Dara merasa déja vu.
"Akriel!" Cewek itu semakin panik dan khawatir ketika Akriel tak kunjung sadar. Mungkinkah orang-orang itu yang telah membuat Akriel pingsan?
Dara benar-benar déja vu dengan kejadian barusan. Dan ingatan masa lalu itu pun kembali terngiang seolah memaksa Dara untuk kembali mengingatnya.
"Karan!!!"
Dara berteriak sekuat tenaga sampai suaranya nyaris habis ketika laki-laki yang diteriakinya tersebut baru saja dibawa ke ruang Unit Gawat Darurat. Ada banyak darah yang bercucuran dari sekujur tubuhnya. Siapa pun akan dibuat ngeri karenanya. Dara tak bisa melihat kondisi temannya yang sudah sekarat begitu. Air matanya yang sederas air terjun saling berkejaran untuk keluar dari pelupuk matanya.
Dara terus menggenggam tangan Karan yang berlumuran darah bersemoga laki-laki itu bisa bertahan dengan kondisinya. Karan mengalami kecelakaan di rel kereta, hal itu terus terngiang di kepala Dara waktu itu. Dara tidak pernah menyangka Karan akan mengalami hal semacam itu. Saat mendengar kabar kalau Karan baru saja dibawa ke ruang UGD, Dara nyaris gemetar apalagi ketika melihat Karan yang berlumuran darah begitu. Kalau bisa, seluruh tulangnya nyaris lemas sampai dia tidak sanggup untuk berdiri lagi. Dara tidak ingin kehilangan Karan sekarang.
"Da... ra." Karan lirih dengan tidak berdayanya di atas ranjang bangsal. Suaranya amat pelan sampai siapa pun tidak ada yang bisa mendengarnya kecuali dirinya sendiri. Dengan pandangan yang samar-samar, dia masih bisa melihat Dara yang tengah menangis histeris di sisinya. Semakin lama, pandangannya kian memudar dan suara tangisan dan jeritan Dara kala itu semakin tak terdengar. Dara berteriak sekuat tenaga saat itu juga tapi Karan tak bisa mendengar apa-apa lagi dan napasnya kian sesak.
Dan saat itu juga, Dara harus rela kehilangan Karan Sabintang untuk selama-lamanya dan tidak akan pernah melihatnya lagi di lain hari.
***
"Kenapa Mama ceroboh banget sih?"
Cewek bernama Sheryl Bianca tersebut tampak emosi pada mamanya, Renita. Dia tidak pernah mengira kalau mamanya bisa bertindak sebodoh itu. Sidang pertama terpaksa dihentikan dan rencananya akan dibuka lagi dalam waktu dekat. Baru saja ada beberapa guru sekolah Sheryl yang mendatangi rumahmya dan mengintrogasi pada Renita. Beruntung, Renita bisa menyangkal hal itu kalau dirinya sama sekali tidak melakukan penyuapan pada Mira.
Renita berdecak lantas mendelikkan mata mendengarkan Sheryl yang terus mengoceh di sampingnya.
"Kalo emang Mama mau menyocok mereka, Mama harus tau situasinya. Mama teledor, tau gak?" Sheryl menohok. "Pokoknya aku gak mau tau. Sidang itu harus berhasil dan Dara harus dikeluarkan dari sekolah dan diblacklist dari sekolah mana pun."
"Kamu gak liat Mama udah berusaha? Kita hampir berhasil. Cuma gara-gara anak laki-laki itu semuanya jadi kacau. Memangnya siapa dia berani-beraninya berurusan dengan masalah ini?"
Renita memang terlalu menurut pada keinginan putri semata wayangnya tersebut. Apa pun yang Sheryl inginkan tak peduli baik atau buruk hal itu, Renita rela melakukan apa saja. Renita terlalu memanjakannya.
Siapa pun tahu kalau Dara adalah musuh terbesar Sheryl sejak dulu. Cewek itu selalu tidak mau kalah darinya baik dari segi prestasi, pertemanan bahkan cinta. Sheryl selalu merampas apa yang Dara punya.
Tak lama, perhatian Renita maupun Sheryl teralihkan oleh kedatangan keempat anak buahnya yang menghampiri mereka.
"Permisi, Nyonya." Ucap salah satu anak buahnya.
Renita meletakkan gelas tehnya ke atas meja. Siap mendengarkan laporan dari para anak buahnya atas misi suruhannya.
"Kami telah melakukan apa yang Anda suruh untuk mencelakai anak laki-laki bernama Akriel."
Renita tersenyum miring. Wanita itu mengambil sebuah tas yang berisi beberapa gepok uang lalu memberikannya pada keempat anak buahnya tersebut. "Kerja bagus. Sekarang silakan kalian pergi."
Keempat anak buahnya kompak membungkuk sebagai tanda hormat lalu segera pergi meninggalkan rumah Renita setelah mengambil uang bayaran mereka.
"Mama sampai melakukan hal itu?" Sheryl terbengong.
"Kenapa? Itu ganjaran buat dia karena udah berurusan sama kita. Dia udah berani ngehancurin sidang itu dan bikin Mama kesusahan menyangkal tuduhan suap tadi." Renita melirik Sheryl. "Ingat, apa pun yang mengganggu jalan kita, kita harus menyingkirkannya."
Sheryl masih tertegun. Mamanya benar-benar bertindak sekejam itu. Tapi, apa pun yang dia lakukan adalah untuk kebaikan Sheryl sendiri, kan?
Sheryl memalingkan wajahnya. "Aku mau ke kamarku dulu." Kata Sheryl lalu segera pergi meninggalkan mamanya di ruang tamu.
Saat berjalan melewati tangga, Sheryl tidak sengaja melihat papa tirinya, Dimas, yang sedang duduk di ruangan kerjanya. Sheryl masuk ke ruangan itu dan mendapati papa tirinya tengah fokus pada komputernya.
Dimas yang menyadari Sheryl tengah di ambang pintu pun menoleh.
"Sheryl?!" Dimas berseru.
Sheryl diam saja. Pikirannya bergelut. Dipikir-pikir, dia sudah terlalu banyak merebut apa pun dari Dara. Mulai dari teman-temannya, kekasihnya bahkan sekarang ayahnya Dara, Dimas, yang kini telah sah menjadi ayah tiri Sheryl alias suami dari Renita. Apakah Sheryl bisa disebut kejam?
Tapi semua telah berlalu, Sheryl adalah pemenangnya. Dia lebih unggul dari Dara. Dia sudah berdamai dengan Dimas yang mana adalah papa tirinya meskipun butuh waktu cukup lama bagi Sheryl untuk menerima Dimas dalam hidupnya.
Tidak ada seorang pun di sekolahnya selain Dara yang tahu kalau Sheryl dan Dara sebetulnya adalah saudara tiri. Sebisa mungkin, Sheryl akan merahasiakan hal itu dari semua orang kalau ibunyalah, Renita, yang telah merebut suami dari ibunya Dara.
Sheryl dan Dara adalah saudara tiri. Meskipun begitu, Dara tetaplah musuh terbesar Sheryl. Musuh abadinya dalam segala hal apa pun. Dan Sheryl tidak akan pernah kalah sedikit pun.
***
"Gue mau liat dong nama Instagramnya."
"Ogah, lu kepo banget dah anjir."
"Pelit amat lu, Astagfirullah."
Saka spontan melotot ketika mendengar Kisa beristighfar. "Heh, lu Kristen."
Kisa membekap mulutnya dengan dramatis. "Yesus Kristus."
Memang sih, Kisa itu suka banget keceplosan. Ya mau bagaimana lagi, toh sehari-hari dia bareng sama dua temannya Kasa dan Saka yang Muslim. Jadi terkadang Kisa suka tanpa sengaja keceplosan seperti barusan beristighfar.
Kisa kepo sama Dewi Aphrodite yang dimaksud Saka. Soalnya Saka sendiri tak kunjung membongkar siapa sosok aslinya. Boro-boro dibongkar, ngasih tahu nama Instagramnya aja dia ogah. Kisa sampai dibikin mati penasaran. Berbeda dengan Kasa, cewek itu malah bersikap bodo amat. Dari tadi dia cuma jadi penonton pergelutan Saka dan Kisa yang berebut hp.
Di tengah itu, tiba-tiba saja ada seorang anak laki-laki seangkatan mereka menghampiri meja ketiganya. Saka, Kasa dan Kisa kompak keheranan karena kedatangannya.
Anak itu berkata, "Temen kalian yang namanya Akriel baru aja dibawa ke UKS."
"UKS?" Kasa kebingungan.
"Iya, dia pingsan."
Ketiganya kompak mengernyitkan kening. Lalu mereka saling pandang dan tanpa diperintah, Saka, Kasa maupun Kisa langsung bergegas menuju ke UKS di mana Akriel berada. Ketiganya lari ngibrit.
Tak sampai 1 menit, mereka tiba di tempat tujuan dan langsung mendapati Akriel tengah terbaring di atas bangsal. Mereka bingung dengan apa yang terjadi dan bagaimana Akriel bisa pingsan.
Akriel tak sendiri di sana, sebelumnya ada Dara dan juga Pak Bondan.
"Mermed?!" Saka mencoba menggebrak Akriel namun cowok itu masih pingsan meski sudah diberi beberapa aroma terapi untuk menyadarkannya. "Dia masih hidup, kan?"
PLAK
Kasa baru saja menggeplak kepala Saka pelan tapi mampu membuat cowok itu mengaduh.
"Kenapa Akriel bisa pingsan?" Tanya Kasa sambil melirik Dara yang terlihat khawatir melihat kondisi Akriel.
"Tadi pas saya mau ke sini gak sengaja liat Akriel pingsan di pinggir jalan. Ternyata ada Dara juga di sana." Malah Pak Bondan yang menjawab. "Saya pun gak tahu kenapa Nak Akriel bisa pingsan begitu."
Kasa masih menyipit pada Dara. "Gak ada yang tau kenapa Akriel bisa pingsan?"
Dara yang sadar dia tengah ditatap Kasa akhirnya menoleh.
"Dara?" seru Kasa seolah meminta penjelasan dari Dara.
"Gue gak tau." Jawab Dara kemudian. "Akriel ngikutin gue pas gue mau pulang dan saat gue noleh ke belakang dia udah pingsan."
Saat kejadian tadi, beruntung ada Pak Bondan yang kebetulan lagi lewat di jalan waktu itu bersama mobilnya. Jadilah Akriel diangkut ke sekolah pakai mobil Pak Bondan. Kalau tidak ada Pak Bondan, entah Dara harus mencari bantuan ke mana saat itu.
Di tengah kekhawatiran mereka semua, Akriel pun tersadar dan perlahan membuka matanya sambil mencoba untuk duduk dengan kesakitan. Punggungnya terasa panas. Dia masih bisa merasakan sakitnya pukulan dari lonjoran besi tadi yang makin menjalar ke seluruh punggungnya. Sehebat itu pukulannya sampai membuat Akriel jatuh pingsan.
"Akriel!" Kasa paling dulu berseru.
Laki-laki itu masih mati-matian menahan rasa sakit di punggungnya. Rasa nyerinya kian tak terkendali dan mungkin saja ada beberapa tulangnya yang nyaris remuk.
"Lo kenapa mermed?" Tanya Kisa.
Akriel tidak tahu kenapa dia bisa tiba-tiba ada di sini. Laki-laki itu tidak setengah ingat kejadian yang naru saja dialaminya. "Ada beberapa orang yang menghampiri saya tadi dan mereka langsung memukuli punggung saya dengan besi." Ujar Akriel.
"Orang seperti apa?" Tanya Pak Bondan.
Akriel menggeleng. "Saya tidak mengenal mereka."
Pak Bondan berpikir keras. Kenapa ada orang yang berusaha mencelakai Akriel padahal setahunya Akriel anak baik-baik dan tidak suka kegaduhan. Atau mungkinkah Akriel habis dihajar preman jalanan? Memangnya apa yang telah dilakukan Akriel sampai membuatnya digrebek preman? Tidak masuk akal.
"Orangnya gimana aja? Masa tiba-tiba mereka mukul lu gitu? Gak ada sebabnya lagi. Janggal amat." Tanya Saka membombardir Akriel.
"Mereka berempat. Bahkan pakaian mereka rapi. Mereka tidak terlihat berandalan. Dan dengan tiba-tiba mereka memukul punggung saya. Setelah itu saya tidak ingat apa-apa lagi."
"Lo gak bikin kesalahan ke orang lain, kan?" Kisa ikut bertanya.
"Kesalahan seperti apa? Saya hanya sedang berusaha mengikuti langkah Dara tadi dan di tengah jalan mereka tiba-tiba datang di depan saya. Saya tidak tahu mereka siapa saja. Saya tidak mengenalnya." Akriel berujar lagi.
Sementara Kasa sibuk melirik tidak suka pada Dara yang masih terdiam di sana.