Renita akhirnya memutuskan untuk mengakui semua kesalahannya. Dengan terpaksa dia harus mengatakannya di depan publik di hadapan para wartawan dan reporter yang akan merekam pernyataan Renita saat itu. Jelas nama baik yang dia bangun selama bertahun-tahun akan hancur dalam benerapa detik lagi. Serta nama keluarganya pun akan ikut tercoreng karena kesalahan fatal yang dibuat Renita. Renita juga telah rela kalau Sheryl akan balik membencinya nanti karena mengetahui bahwa ibunya adalah seorang pembunuh yang kejam.
Sorot kamera dan berbagai alat perekam suara kini tertuju pada Renita ketika wanita itu baru sampai di atas mimbar. Renita menghela napasnya dalam-dalam.
"Pertama-tama, saya atas nama Renita Adinatya ingin mengucapkan ribuan kata maaf sebesar-besarnya kepada semua orang karena saya telah membuat kesalahan yang sangat besar. Terutama saya ingin meminta maaf dengan tulus dari dalam lubuk hati saya kepada pihak keluarga Karan Sabintang. Saya sangat menyesal dan mengakui kalau saya telah dengan sengaja menghabisi putra kalian sampai tak bernyawa." Ujar Renita dan tanpa dia sadari air mata baru saja menetes melalui pipinya. "Saya sangat meminta maaf sebesar-besarnya kepada pihak keluarga Karan Sabintang atas kesalahan yang saya buat. Saya benar-benar menyesal dan saya tahu kalian tidak akan pernah memaafkan kesalahan saya."
Kasa bisa melihat ibunya di sampingnya yang tengah menyaksikan pernyataan Renita secara langsung di aula itu, wanita itu sedang menangis. Kasa seolah bisa merasakan betapa sakitnya hati ibunya ketika tahu kalau putranya, Karan Sabintang, telah dibunuh dengan sengaja dan secara tragis oleh Renita. Kasa memeluk ibunya. Ia harap ibunya bisa kuat menghadapi kebengisan dunia yang tengah menimpa mereka.
Renita melanjutkan bicaranya. Dia pun tak kalah histerisnya dengan deraian air mata yang saling berkejaran turun di pipinya. Kali ini, Renita benar-benar menangis dan bukan sandiwara lagi. Dia merasa hidupnya telah hancur karena perbuatan yang dia lakukan sendiri. Renita benar-benar kecewa pada dirinya.
"Saya juga ingin mengakui satu kesalahan lagi. Bahwa saya juga yang telah menghabisi seorang gadis bernama Stefany Ghinnara alias Fany. Saya yang telah menceburkannya ke sebuah sungai hingga dia kehilangan nyawanya. Lalu, saya juga yang telah memalsukan kematiannya dengan menulis surat yang mengatas-namakan Fany di surat itu agar semua orang mengira kalau kematiannya karena bunuh diri."
Sontak perkataan Renita selanjutnya membuat semua orang di sana kompak terkejut. Mereka semua saling tak menyangka oleh seorang Renita Adinatya yang dikenal publik sebagai orang yang pekerja keras dengan karir yang cemerlang ternyata punya sisi gelap yang sangat mengerikan dalam hidupnya.
Renita sembari menundukkan wajah tak kuat menampakkannya di hadapan semua orang. Wanita itu terus berusaha menghentikan tangisnya dan terus mengusap air matanya dengan punggung tangan, namun air matanya seolah tak mau berhenti keluar. Selama lebih dari 8 bulan, Renita baru bisa mengungkapkan kalau dia yang telah membunuh Karan sekarang. Renita merasa bersalah karena hal itu. Dia baru menyadari kesalahannya setelah sekian lama.
"Maka dari itu, saya ingin meminta maaf sebesar-besarnya dan permintaan maaf ini benar-benar tulus dati lubuk hati saya yang paling dalam, kepada pihak keluarga yang menjadi korban dari kesalahan saya, saya memohon maaf atas perbuatan saya dan saya hanya bisa berharap kalian dengan tulus memaafkan." Ujar Renita kemudian wanita itu membungkuk hingga 90° di hadapan semua orang terutama pada Kasa dan ibunya yang hadir kala itu menyaksikan Renita.
***
Sheryl rasanya tak kuat menopang badannya lagi. Bahkan tulang-tulangnya bak mau rontok dari seluruh tubuhnya. Dia begitu lemas setelah mengetahui kalau ibunya yang telah membunuh Karan serta Fany. Rasanya jantung Sheryl nyaris berhenti berdetak saat tahu hal itu. Dia tidak pernah menyangka kalau ibunya adalah seorang pembunuh. Seorang ibu yang telah melahirkannya dan membesarkannya hingga ia tumbuh besar adalah seorang pembunuh. Sheryl adalah anak dari seorang pembunuh.
Sheryl berjalan sempoyongan dengan tatapan kosong menuju kamarnya. Langkahnya sangat ringkih bahkan dia tidak kuat untuk memindahkan langkahnya saja menuju tempat lain. Akhirnya, Sheryl sampai di kamarnya. Dia menangis seusai menutup pintu kamarnya. Wajahnya menunduk dan air matanya dibiarkan membasahi pipinya begitu saja. Lalu, gadis itu bersandar ke pintu dan jatuh meluruh begitu saja. Dia memeluk kedua lututnya dan menyembunyikan wajah menangisnya di sana. Sheryl merasa hidup ini sangat berat. Dia tidak bisa hidup seperti ini lagi. Dia berharap ada seseorang yang memberinya sandaran di saat dia lemah begini. Tapi ternyata, tidak ada seorang pun. Baik ayahnya maupun teman-temannya. Semua orang menjauh ketika dia kesusahan.
Sheryl menangis semakin keras. Dia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Dia sangat tidak kuat dengan masalah yang harus ia hadapi sendirian. Sheryl adalah anak yang lemah. Lalu, gadis itu melirik sebuaf foto bingkai di atas lemari. Foto-foto yang menampilkan dia dengan Renita. Sheryl beranjak dan menghampiri foto-foto itu. Sheryl mengambilnya dan memperhatikan potret kebersamaannya bersama Renita maupun Herman. Sheryl merasa emosinya telah tersulut sampai ke ujung nadinya. Gadis itu membanting foto-foto itu sampai kacanya pecah dan bingkainya hancur. Lalu, dia mengambil foto bingkai lain dan melakukan hal yang sama seperti bingkai yang pertama.
Dia membanting semua bingkai foto yang ada di lemari sampai tak tersisa. Dia juga mencopoti fotonya yang terpampang jelas di dinding dan menghancurkannya sampai benar-benar hancur. Sheryl lalu mengambil tongkat base ball besi dari pojok kamarnya. Lalu, gadis itu memukulkan tongkat itu pada kaca lemarinya hingga kaca itu pecah dan pecahannya berserakan di lantai bahkan tangannya sampai terluka dan mengeluarkan darah karena terkena serpihannya. Sheryl tak sampai di situ saja, dia juga memecahkan kaca jendela dengan tongkat base ball besinya. Dia menghancurkan kamarnya sendiri dan menarik gorden kamarnya sampai tak terpasang lagi. Dia juga membanting bantal dan boneka di atas tempat tidurnya dan menghancurkannya sampai kapuknya bertebaran di udara.
Sheryl sangat hancur.
Sheryl berteriak. Gadis itu menutupi telinganya dengan telapak tangan. Tangisannya semakin histeris. Dia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Dia membenci Renita. Dia membenci semua orang. Dia membenci dirinya sendiri. Dia tidak menyangka ibunya-lah yang telah membunuh orang yang Sheryl cintai. Karan adalah cinta pertama Sheryl dan ibunya telah tega menghabisinya. Sheryl sangat kecewa. Sheryl sangat membenci ibunya sendiri.
Gadis itu kini bersimpuh di lantai masih dengan tangisannya yang semakin menjadi-jadi. Dia begitu terkejut ketika ibu yang dia cintai selama ini telah membunuh orang yang merupakan laki-laki yang Sheryl sukai pertama kali, Karan Sabintang. Sheryl merasa hidupnya semakin berat. Dia sangat kecewa dan ingin memutar balikkan keadaan. Dia merasa bersalah kepada Karan. Sheryl sangat malu. Namun, semuanya telah terlambat. Semuanya telah berlalu.
Lalu, dari arah pintu Herman masuk ke kamar putrinya dan mendapati kamar Sheryl sangat berantakan dengan pecahan kaca yang berserakan di lantai. Herman semakin tercekat ketika melihat kondisi Sheryl. Pria itu langsung menghampiri putrinya yang tengah bersimpuh di atas lantai sambil menangis.
"Sheryl!" Herman panik dan mencoba melihat wajah putrinya yang menangis. "Kamu kenapa, Nak?!"
Sheryl tak kunjung menjawab dan tangisannya malah semakin tak terkendali. Herman memeluk putrinya dan membiarkannya menangis di dalam dekapannya. "Tenang, Nak. Masih ada Papa di sini. Papa ada di samping kamu."
Namun, Sheryl terus menangis dan apa yang Herman ucapkan kala itu tak bisa ia dengar dengan jelas.
***
Renita tengah berada di ruangan sidang. Dia sangat pasrah dan berserah diri. Wajah wanita itu pun kini pucat dan tatapannya begitu sayu dan lemah. Sejujurnya, dia belum sepenuhnya pulih dari kondisinya setelah menjalani operasi lambung dadakan beberapa hari lalu. Terkadang, Renita pun merasa perutnya sakit dan kram.
"Saudara Renita Adinatya telah mengakui kesalahannya di depan publik dan meminta maaf secara langsung pada keluarga korban bahwa dia telah membunuh Karan Sabintang dan Stefany Ghinnara. Dengan ini saya menyatakan bahwa Saudara Renita Adinatya terjerat kasus Pasal 338 KUHP yaitu perbuatan tindak pidana terkait dengan pembunuhan. Pelaku terancam dengan hukuman penjara paling lama 15 tahun. Namun, karena keluarga korban dengan tulus memaafkan dan meminta agar hukumannya diringankan, maka Saudara Renita Adinatya mendapat hukuman 7,5 tahun penjara."
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan palu dari hakim sebagai tanda keputusan untuk menentukan hukuman yang pantas Renita dapatkan. Renita rasanya ingin menangis. Dia telah berbuat kejahatan hingga mengakibatkan nyawa seseorang hilang di tangannya. Dan bisa-bisanya keluarga korban dengan rela memberinya keringanan atas hukumannya. Renita baru pertama kali menjumpai orang sebaik mereka.
Renita kembali diboyong oleh dua orang polisi dan dijaga dengan ketat untuk kembali ke kantor polisi setelah sidang itu usai. Namun, di tengah perjalanan tepatnya saat di lorong, dia tidak sengaja menjumpai seseorang yang merupakan ibu dari Karan Sabintang. Renita tercekat saat melihatnya. Dia sangat merasa bersalah pada wanita itu.
Ibu dari Karan, sebut saja namanya Kasih, menghampiri Renita yang tengah dijaga ketat oleh beberapa polisi bahkan kedua tangannya diborgol. Kasih menatap mata Renita dengan teduh dan sayu. Dia juga merasa kasihan pada wanita itu ketika tahu kalau Renita sama-sama mempunyai anak seusia Karan, maka dari itu Kasih dengan rela membantu Renita untuk meminta agar hukuman penjaranya sedikit diringankan.
Renita bersimpuh begitu saja di hadapan Kasih. Dia memegangi kaki wanita itu seraya terus memohon ampun padanya. Baru pertama kali, Renita bersujud di hadapan seseorang, yaitu Kasih. Berkali-kali juga wanita itu merapatkan kedua tangannya seraya memohon ampunan. "Tolong maafkan saya. Saya sangat bersalah. Saya menyesali perbuatan saya. Tolong maafkan saya, Nyonya."
Kasih yang melihat Renita bersimpuh di hadapannya, mencoba memerintahkan Renita untuk berhenti. Namun, wanita itu seperti tak terkendali. Kasih lalu mensejajarkan posisinya dengan Renita. Dua wanita saling berhadapan sekarang.
"Kamu tidak perlu meminta ampun kepada saya. Saya hanya berhak memaafkan dan mengikhlaskan kepergiaan putra saya. Tapi, meminta maaflah pada Tuhan. Hanya Dia yang bisa mengampuni semua dosa-dosa kamu." Ujar Kasih pada Renita.
Mendengar perkataan Kasih, Renita kini menangis lagi. Wanita itu sama sekali tidak menaruh benci pada Renita yang telah membunuh putranya. Renita terus menyalahkan dirinya sendiri karena telah membuat orang sebaik Kasih kehilangan anaknya. Harusnya Renita malu.
"Saya telah mengikhlaskan kepergian putra saya dan saya juga ingin berterima kasih kepada kamu karena telah mau mengakui kesalahan kamu selama ini. Saya tahu kamu juga seorang ibu. Kamu juga punya anak sama seperti saya. Dan saya tahu rasanya berada jauh dari anak sendiri. Maka dari itu, saya merasa kasihan kalau kamu harus dipenjara selama 15 tahun. Oleh karena itu, saya meminta agar hukuman kamu diringankan dan lebih singkat dari tadinya agar kamu punya lebih banyak kesempatan bersama anak kamu." Ujar Kasih lagi dan entah kenapa membuat batin Renita semakin teremat.
Rasanya seperti ada yang menusuk dadanya hingga sesakit itu ketika mendengar perkataan Kasih. Renita seharusnya iri dengan kebaikan Kasih yang dengan relanya masih mau memaafkan kesalahannya.
"Kenapa Anda masih mau membantu saya? Apa Anda tidak membenci saya yang telah membunuh putra Anda?" Ucap Renita seraya menangis.
"Saya tidak berhak membenci kamu. Kita sama-sama manusia. Dan saya sebagai manusia tidak berhak menaruh kebencian begitu lama pada manusia lain. Saya telah tulus memaafkan kamu, Renita."
Renita hanya mengangguk pelan mendengarnya. "Terima kasih banyak."