31. Anggota SPY

1812 Kata
Atmosfer diantara mereka rasanya kian menipis. Keduanya makin canggung setelah Liura menceritakan hal yang membuatnya tampak sedih. Tak tahan dengan itu, Saka pun segera mengalihkan suasana agar kembali seperti semula. "Eh iya, lo mau gak makan mie ayam j****y abis ini?" Liura menaikkan alis. "Itu makanan juga?" "Iya, temen gue ada tuh yang demen banget sama makanan itu. Kalo lo coba juga pasti lo bakal suka deh. Dijamin." Kata Saka membuat Liura tertarik untuk memakan mie ayam j****y tersebut. "Boleh." Kata gadis itu sambil menyeringai. "Oh iya, makanan orang kaya tuh setiap harinya apa sih?" Saka bertanya random. "Makanan manusia yang dimasak sambil dibumbui." Saka berdecak. Jadi, barusan itu Liura habis ngelawak atau apa? Ceilah, lawakan orang kaya segaring itu ternyata. Lawakan bapak-bapak pos ronda dekat rumahnya Saka rupanya lebih lucu dibanding lawakan Liura. "Ya tau makanan tuh dimasak. Semua orang juga makan makanan yang dimasak sama dibumbui dulu." Saka memasang wajah masam. "Maksudnya tuh kayak makanan yang lo makan sejenis makanan yang bertabur emas 24 karat atau berlian barangkali." "Gak juga. Gue tetep makan nasi gak pake emas 24 karat atau berlian. Malah kadang kalo lagi diet gue cuma makan salad atau buah-buahan doang." "Lo orang kaya banyak duitnya cuma makan salad? Lo makan daun doang gitu?" Liura ngangguk-ngangguk aja sambil asyik memakan pecel lelenya dari tadi. "Sia-sia aja." Liura mengernyit. "Sia-sia kenapa?" "Gue pikir orang kaya tuh tiap hari makannya makanan yang bertabur emas 24 karat gitu. Ternyata gak semuanya." "Emang ada yang kayak gitu?" "Ada." "Siapa?" "Sisca Kohl." Liura menaikkan sebelah alisnya. "Siapa?" "Sisca Kohl tuh yang terkenal di t****k. Kontennya tiap hari makan makanan yang harganya berpuluh-puluh juta. Kalo gue sih mending pake beli Tesla Pegasus atau gak Lamborghini daripada dipake buat beli makanan doang." Liura menyimak saja mendengar celotehan Saka. Dia gak kenal siapa Sisca Kohl soalnya Liura gak main t****k. "Terus?" "Ya gitu, ternyata gak semua orang yang punya banyak duitnya makan makanan bertabur emas semua. Buktinya lo makan dedaunan sama buah doang." Liura hampir tertawa dan tersedak. Baru kali ini dia sebahagia itu mendengar orang bercerita sampai membuatnya berkali-kali terkekeh. Sehari-hari, Liura menjalani kehidupannya dengan monoton. Di dekat Saka, Liura bisa merasakan kalau dunia itu bebas. Meskipun hubungannya dengan Saka masih sebatas orang asing yang belum begitu dekat. "Gue mau ngomong sesuatu juga." Kata Liura bikin Saka menoleh sampai menghentikan acara makannya demi mendengarkan perkataan Liura. "Kayaknya ini hari terakhir gue di Jakarta." Saka hampir tercekat. "Terakhir? Jadi, lo gak bakal balik lagi ke Jakarta sampe kapan pun?" Liura tersenyum pasi. "Gue harus balik ke Amerika buat sekolah. Terlebih, urusan gue di Jakarta juga udah gak ada lagi karena pacar gue juga udah balik ke Amerika sekarang." Iya, kedatangan Liura ke Jakarta semata-mata untuk mengikuti Rangga yang sempat bersekolah di sekolah yang sama dengan Saka. Tapi sekarang, Rangga pun sudah kembali bersekolah di Middlesex School. Jadi untuk apa Liura berlama-lama di Jakarta. Dia sudah tidak punya urusan lagi. Meskipun sejujurnya, Liura masih mau bersenang-senang lebih lama di Jakarta apalagi buat mencicipi satu per satu makanan di warung lesehan. Tak peduli berat badannya akan naik sekalipun. Saka agak sedih mendengarnya. Baru saja dia dekat dengan Liura, tapi cewek itu malah harus pergi. Tapi, mau bagaimana lagi kalau itu sudah jadi keputusan dia sendiri. Saka pun tidak berhak melarangnya. Saka terkekeh kecil. "Kalo gitu seneng-seneng deh lo di Amerika." Liura hanya membalas dengan senyuman yang amat manis. Setelah acara makan mereka selesai, mereka hendak membayar. Kelakuan Liura bikin semua orang tercengang saat itu termasuk si tukang pecel lelenya. Bagaimana tidak, soalnya Liura kedapatan mau membayar tagihannya pakai Black Card. Saka yang ada di sana pun sampai dibuat melotot. "Liura, di sini tuh bayarnya tunai bukan pakai kartu." Kata Saka. Liura tampak sedih. "Tapi, gue gak bawa uang tunai." Saka geleng-geleng kepala. "Ya udah, biar gue aja yang bayar semuanya. Gimana?" "Nanti gue ganti uang lo kalo gitu." "Gak usah diganti kali. Gak pa-pa." Akhirnya, Saka yang menanggung semua biayanya. Lalu, Liura dibuat penasaran dengan uang kembalian yang Saka pegang. "Boleh aku liat itu?" Izin Liura pada Saka. "Ini?" Saka melirik koin seribuan di tangannya. Lalu, cowok itu memberikannya pada Liura. "What the hell! Ini lucu banget. Baru pertama kali gue liat uang koin selucu ini. Boleh gue simpen gak?" Saat itu juga, Saka benar-benar tidak menyangka Liura bisa seheboh itu melihat koin seribuan. Ternyata ada ya orang yang sehari-harinya pegang dollar bisa segirang itu ketika menjumpai uang koin seribu perak. *** "Kenapa lo ngikutin Dara waktu itu?" Akriel tak habis pikir ketika Kasa tak henti-hentinya bersungut-sungut membombardirnya dengan pertanyaan yang sama. Akriel sampai pening kepalanya. Belum lagi punggungnya yang masih nyeri, Kasa benar-benar tidak respect dengan keadaan Akriel. "Kamu membuat telinga saya sakit. Tolong pelankan suara kamu." Protes Akriel dengan polosnya bikin Kasa melotot. "Coba kalo lo gak ngikutin Dara waktu itu, lo gak bakal dihajar sama orang-orang itu, b**o!" Kasa mencercanya. Akriel malas mendengarkannya. "Itu terserah saya." "Kok lo nyolot sih?" Kasa sambil berkacak pinggang. Akriel mendengkus malah mengalihkan pandangannya dari Kasa. Akriel kini berada di rumah sakit, Pak Bondan yang membawanya kemari untuk diobati lebih lanjut. "Kamu jangan mengganggu orang sakit." Kata Akriel lagi-lagi bikin Kasa pengin menggeplaknya. Berbeda dengan Kisa, dia lagi duduk di pojokan. Cewek itu terlihat galau akhir-akhir ini. Sudah beberapa hari Rangga menghilang tanpa kabar. Dichat gak dibales, ditelepon gak diangkat. Kisa jadi bingung sebenarnya Rangga ke mana. Bertanya pada Liura, cewek itu hanya menjawab kalau Rangga sedang di Amerika. Dan katanya sih, Liura juga berencana untuk kembali ke Amerika. Tapi kenapa Rangga tidak menghubunginya sekalipun. Atau mungkinkah Rangga kehilangan nomor ponsel Kisa? Kasa menyipit melirik sinis ke arah Akriel. "Lo masih mau jadi saksi buat Dara?" Akriel pun menoleh. "Kalau iya, kamu mau apa?" "Loncat dari puncak gedung Burj Khalifa. Puas?" Kasa mendelik. "Lagian kenapa sih lo masih mau buang-buang waktu jadi saksi segala?" "Kenapa kamu mengatur? Itu terserah saya." "Iya itu terserah lo. Urusan lo dan bukan urusan gue." Kasa menohok. "Lo suka sama Dara?" Akriel hampir melotot. "Kenapa saya harus? Saya tidak bisa melanggar peraturan kalau saya tidak diperbolehkan menyukai seorang manusia." "Buktinya lo sebegitu pedulinya sama dia." "Apa peduli itu berarti cinta?" Mendadak Kasa membisu. Lidahnya pun terasa gagu. "Justru cinta itu berawal dari saling peduli. Lo gak ngerti rupanya." "Bagaimanapun saya tidak akan mencintai Dara atau manusia yang lain. Itu sama saja melanggar." Tiba-tiba, Pak Bondan datang ke ruangan itu. Baik Akriel, Kasa maupun Kisa yang masih menggalau di ujung sana ikut menoleh. Terlihat pria itu sambil membawa bingkisan berupa buah-buahan. Pak Bondan memang selalu bersifat ke-bapak-an. "Kamu udah mendingan, kan?" Tanyanya pada Akriel setelah meletakkan bingkisan itu ke atas nakas. Akriel mengangguk saja. Pak Bondan benar-benar memperlakukan Akriel seolah anaknya sendiri. "Kalau begitu, sebaiknya kita siap-siap pulang saja. Nanti keburu malem." Perintah Pak Bondan. "Kasa, kamu bisa bantu Akriel beresin barang-barang, kan?" "Bisa, Pak. Itu mah kecil." Jawab Kasa enteng. "Kalo gitu saya mau atur pembayaran dulu." Pak Bondan pun melangkah ke luar ruangan, namun Kisa diam-diam mengikutinya dari belakang. "Pak Bondan." Seru Kisa lalu pria itu pun menoleh. "Saya boleh nanya sesuatu?" Pak Bondan mengernyit. "Nanya apa?" "Apa Rangga gak menghubungi Bapak sebelumnya kalo dia ke mana? Kenapa dia tiba-tiba hilang dari sekolah tanpa kabar?" Pak Bondan tampak berpikir-pikir sesaat. "Maksud kamu Rangga anaknya Lee Soo-man itu?" Kisa mengangguk cepat. "Seingat saya Rangga itu masuk ke sekolah dengan cara yang tidak biasa. Dia memaksa saya untuk menerimanya bersekolah di sana. Aslinya dia bersekolah di Amerika yaitu Middlesex School." Ujar Pak Bondan. "Maksud Bapak apa Rangga masuk dengan cara yang gak biasa?" Kening Kisa mengernyit. "Kehadirannya di sekolah itu hanya untuk memata-matai seseorang." Saat itu juga, Kisa tercekat. Apa maksudnya memata-matai? Jadi, Rangga itu anggota SPY? Begitu? "Mata-mata?" Kisa ngeri sekarang. "Mata-mata buat apaan?" "Saya dilarang menceritakannya pada siapa pun termasuk kamu." Oke, sekarang Kisa sangat penasaran dengan latar belakang Rangga yang sebenarnya. *** Keesokan harinya di kelas yang baru saja usai itu, Saka, Kasa dan Kisa main batu gunting kertas. Seperti biasa, siapa yang kalah dialah yang harus membelikan makanan di kantin. Kala itu, Kasa yang kalah dan terpaksa dia harus membeli makanan buat Saka maupun Kisa. Kasa sempat mendengkus namun akhirnya cewek itu pergi juga ke kantin. Sembari menunggu indomie yang dia pesan matang, Kasa duduk di salah satu meja. Dari ujung sana, Kasa bisa melihat Badrol muncul di balik belokan sana. Sesuai firasat Kasa, dalam beberapa detik lagi Badrol pasti akan menghampiri Kasa di meja itu. Dan benar saja, Badrol tengah berlari menuju ke arahnya. "Kasalira!" Ekspresi Badrol tampak serius ketika berseru. Tidak seperti biasanya di mana cowok itu selalu sumringah ketika menyapa Kasa, kini Badrol malah memasang wajah yang agak kecewa. Kasa sampai keheranan melihatnya. "Napa?" "Mantan lo siapa namanya?" Kasa nyaris terjengkang ketika Badrol bertanya lantang dengan suara yang lumayan keras. Beberapa orang di sebelahnya sampai melirik karena kehadiran Badrol yang tiba-tiba dan dengan randomnya bertanya hal itu. "Ngapain lo nanyain itu?" "Gue kepo." "Gak usah kepo ngestalk mantan gue." Badrol berdecak. "Siapa sih namanya?" Kasa benar-benar keheranan. Kesurupan apa Badrol sampai tiba-tiba menanyakan siapa mantannya. Apa tidak ada pertanyaan lain yang lebih berbobot? Kalau saja di tempat itu tidak ada orang, Kasa mungkin sudah menjitak kepala Badrol dari tadi. "Lo ngapain nanyain mantan gue, Anjing?" Kasa mulai emosi. "Ya Allah, bisa gak sih lo ngomongnya difilter dulu. Bikin istighfar aja denger omongan lo. Lo tuh cewek, Anjing." "Lo juga ngomong kasar barusan!" Kasa mau menjitak kepala Badrol sekarang juga rasanya. Dia emosi. "Ngapain lo nanyain mantan gue hah?" "Gue cuma pengen tau aja. Lo punya mantan gak sih sebenernya? Atau jangan-jangan lo gak pernah pacaran lagi." Kasa berdecak. "Gue punya, jangan ngehina ya lo." "Gantengan mantan lo atau gue?" "Gantengan mantan guelah. Lo najis banget." Kasa agak kasar. Untung Badrol bukan tipe orang yang gampang kena mental meski telah dicerca dengan mulut boncabenya Kasa. Cowok itu seolah punya mental baja. Coba kalau Badrol punya mental yupi, mungkin dia sudah depresi sejak dulu karena suka dimaki oleh Kasalira Sabina. Di tengah itu, Kasa tak sengaja melihat Sheryl yang sedang berjalan. Dia dan teman-temannya langsung duduk di salah satu meja. Tak lupa, Sheryl tampak bersolek sambil memakaikan lip gloss ke bibirnya. Kasa hanya bisa memperhatikannya dari kejauhan. "Udahlah gue mau cabut dulu." Kata Badrol sekaligus mengalihkan perhatian Kasa dari Sheryl. "Pergi aja sana. Gak peduli mau lu pergi ke surga atau ke neraka sekalipun gue gak peduli." Kata Kasa sambil beranjak mau mengambil pesanan indomie-nya yang ternyata sudah siap. Badrol pun akhirnya pergi dari sana sambil bersungut-sungut. Dia sudah maklum dengan kelakuan Kasa yang seperti itu. Setelah mengambil pesanannya dan Kasa pun hendak kembali ke kelas, rupanya Sheryl dan teman-temannya sudah tidak ada lagi di sana. Meja itu kosong. Mereka sudah pergi. Kasa sengaja berjalan pulang melewati meja itu. Dan ternyata lip gloss yang dipakai Sheryl beberapa waktu lalu tertinggal di sana. Kasa pun mengambilnya diam-diam dan dengan segera memasukkannya ke sakunya. Cewek itu pun segera pergi dari sana menuju kelas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN