48. Cinta Sejati

1809 Kata
Liura menghubungi Rangga beberapa kali dan setelah ratusan panggilan yang cewek itu lalukan, akhirnya Rangga mau menjawab teleponnya dan bersedia untuk menemui Liura di aula sekolah. Keduanya berada di Amerika sekarang. Meskipun Rangga agak malas karena Liura terlalu memaksanya untuk segera menemui cewek itu, tapi kalau dia terus mengabaikannya, handphone Rangga tidak akan kunjung berhenti karena Liura terus meneleponnya. Sampailah Rangga di aula sekolah dan tampak Liura sudah ada di sana lebih dulu. Liura lantas berbalik ketika menyadari kehadiran Rangga di sana. "Kenapa kamu terus menelepon? Kamu gak tau aku paling benci kalo ada orang yang ganggu waktuku?" Rangga terlihat kesal. Liura berdecak ketika mendengar perkataan Rangga yang membombardirnya. "Kenapa kamu berubah sekarang? Don't you like me? Atau hanya aku yang ngerasa kalo kamu gak menyukaiku sekarang?" "Bicara dengan jelas, Liura." "That girl... do you like her?" Tanya Liura dengan nada datar. "If it's true, I'm jealous." Rangga mengernyit. Dia tahu gadis yang dimaksudnya tak lain dan tak bukan adalah Kisa. "You should not to do this. Gak ada hak buat lo cemburu sama dia. At first, hubungan kita cuma buat nyenengin orang tua kita masing-masing dan gak ada hubungan serius. Jadi, gak usah berlebihan." Liura mencoba merogoh tangan Rangga tapi buru-buru cowok itu mengibaskannya. "No, Rangga! I think we are couple." "Who's says? Kita berpacaran cuma karena paksaan. Ingat? Itu karena kedua orang tua kita bekerja sama dalam bisnis. Gak usah anggap serius sama hubungan kita. Dan sejak awal, gue memang gak suka sama lo." Ucapan Rangga membuat Liura lagi-lagi merasa teriris hatinya. Tentu gadis itu sakit hati sekarang Tak bisa dipungkiri, di balik status pacaran mereka, rupanya hubungan itu hanyalah sebatas paksaan. Semua karena kedua orang tua mereka yang sama-sama akrab dan dekat karena bisnis yang dijalani sehingga hubungan Rangga maupun Liura diharapkan bisa sedekat kedua orang tua mereka. Tapi, perasaan tidak bisa ditipu dan dipaksa dengan enteng. Nyatanya Rangga tak memiliki perasaan sehaluan dengan apa yang Liura rasakan. "It breaks my heart." Mata Liura mulai berkaca-kaca dan dalam hitungan detik saja air matanya mungkin segera tumpah. Liura benar-benar sakit hati. Baru pertama kali dia menangis karena seorang laki-laki. Padahal dia bisa saja mendapatkan laki-laki sesuai yang dia mau karena rupa yang dimilikinya tak mungkin mendapat penolakan dari laki-laki mana pun. Tapi, Rangga membuktikan kalau wajah secantik apa pun tidak akan mampu meluluhkan hati orang yang bahkan tidak mencintainya sedikit pun. "Waktu gue gak banyak. Gue harus kembali ke sekolah. Sorry for what I do. Gue harap lo tahu di mana batasan lo karena lo bukan orang yang gue suka." Rangga lalu beranjak dari sana namun langkahnya tercekat ketika Liura tiba-tiba bersuara. "Stop there! I think I know who's the girl do you like." Rangga berbalik, Liura menatap lemah pada Rangga. "Kisa?" Ucapan Liura benar-benar membuat Rangga tak bisa melanjutkan langkahnya. "What's your problem?" Liura tersenyum miring. "Itu kenapa kamu tanpa alasan pindah sekolah dari Middlesex School ke sekolah yang bahkan gak terkenal dan di bawah standar sama sekali. Itu kamu lakukan demi Kisa, kan?" Rangga tersenyum miring. "It's not your business, Liura." "Kenapa kamu bisa menyukai gadis seperti dia? Apa yang kurang dari aku? Why don't you love me, Rangga?" Rangga menghela napas untuk kesekian kalinya. "Gue tahu lo punya kecantikan yang berkali lipat lebih cantik dari Kisa. Lo punya harta yang melimpah dari orang tua lo. Lo bersekolah di sekolah yang mahal dan elit. Lo juga disukai sama banyak orang. Kisa jelas kalah telak kalo dibandingin sama lo. Tapi, kenapa gue menyukai Kisa? Itu karena perasaan yang datang dari hati gue sendiri, gak ada unsur paksaan atau apa pun. Itu yang namanya cinta sejati." Ucapan Rangga membuat Liura bungkam. Gadis itu hanya bisa diam sambil menyaksikan punggung Rangga yang semakin berjalan menjauh sampai keluar dari aula itu. "I will never let you go, Rangga." Ucap gadis itu pelan dan tanpa disadari tangannya tengah terkepal sarat emosi. *** "Aku udah minta izin sama para guru maupun kepala sekolah kok, Bunda. Malah dari kemarin aku minta izin buat ngambil liburnya. Gak usah khawatir. Aku nanti naik kereta buat ke Jogja. Aku udah beresin semua barang-barang aku ke koper. Rapi banget." Kisa berbicara dengan ibunya di balik telepon. Kasa yang mendengarnya hanya mendengkus. Sejujurnya yang membereskan semua barang-barang Kisa ke koper itu adalah Kasa. Tapi, bisa-bisanya cewek itu malah ngomong ke ibunya kalau yang membereskan pakaiannya adalah dirinya sendiri. Kasa jadi bete. Apalagi katanya hari ini Kisa harus pulang ke Yogyakarta, ke rumahnya, dan terpaksa harus meninggalkan Kasa, Saka, maupun Akriel di sana. "Aku tutup dulu teleponnya ya, Bun. Aku lagi beres-beres. Tunggu aku di rumah." 'Hati-hati di jalan ya, Nak.' Terdengar suara bundanya dari balik telepon dan Kisa langsung menutup telepon itu secara sepihak. Tanpa disadari Kisa dari tadi, rupanya Kasa maupun Saka tengah menatapnya dengan tatapan yang tak bisa digambarkan. Mereka melirik sinis ke arah Kisa dan cewek itu jadi kebingungan. "Lo beneran mau pulang?" Tanya Saka yang bersandar di ambang pintu sambil melipat kedua lengannya di depan d**a. "Iyalah. Gue udah beres-beres gini masa dibatalin. Yakali kan gue udah niat sejak lama, gue emang udah pengen pulang dari dulu. Tapi tenang aja, gue pasti bakal balik kok. Lo cuma harus sabar buat nunggu sampe gue kembali lagi. Jangan lupa kangenin gue nanti, ya." Ucap Kisa sembari melirik Saka dan Kasa bergantian. Kasa berdecak sambil membanting pakaian Kisa yang hendak dimasukkan ke dalam koper. "Lo janji kan bakal kembali? Awas ya lo kalo boong. Gue samperin ke rumah lo ntar." "Iya Kasa tenang aja. Kita kan masih bisa teleponan. Jadi, kita gak bakal ngerasa jauh lagi." Kisa pun sebetulnya enggan untuk meninggalkan Kasa maupun Saka. Baginya, dua orang itu tak hanya sebagai sahabatnya melainkan mereka seolah bagai keluarga kedua dalam hidup Kisa. Tapi, bagaimanapun Kisa harus pulang ke rumahnya di Yogyakarta. *** Setelah membantu membereskan barang-barang Kisa, sekarang Kasa dan Saka serta Akriel juga ikut mengantar cewek itu menuju stasiun. "Hati-hati di jalan, b*****t!" Kata Kasa dengan sedikit rada gak ikhlas untuk merelakan Kisa pergi. Kisa mendengkus geli. "Iya, Anjing! Makasih ya, lo semua jaga diri baik-baik di sini. Kita pasti bakal ketemu suatu hari nanti." "Iya deh, terserah lo." Saka menyahut, ekspresinya tak kalah kesal dari Kasa. Kisa tersenyum lagi. Cewek itu lalu melirik Akriel yang dari tadi hanya diam saja. "Lo gak mau ngucapin sesuatu sama gue?" "Tidak, karena saya juga kesal pada kamu." Jawab Akriel dan membuat Kisa mendengkus seketika. "Ck. Lu makin lama emang makin ngeselin ya emang." Kisa menghela napas. "Tapi, gak pa-pa. Karena perginya gue, otomatis orang yang ngebantuin lo nyari si cewek bertanda sayap malaikat tuh jadi berkurang satu." "Makanya kamu harus segera kembali agar saya dapat dengan segera menemukan gadis itu," kata Akriel. Kisa menyunggingkan senyum, cewek itu lalu melirik jam tangan kecil yang melingkar di tangan kirinya. "Kayaknya gue harus segera naik. Sebentar lagi keretanya bakal berangkat." Kasa menghela napas lelah. Lalu dia menatap Kisa dengan penuh dramatis. "Jadi, lo sekarang beneran pergi dari hidup gue?" Kisa berdecak. "Gak usah kayak di film-film segala. Lebay! Gue cuma pergi ke Jogja, gak sampe ke surga kok. Gue masih ada di Bumi." "Iya deh, buruan lo masuk sana. Tar ketinggalan mampus!" Saka menghabrik. "Ya udah kalo gitu sampai jumpa di lain waktu. Gue pamit dulu. Assalamualaikum." "Lo Kristen!" Saka mengingatkan. "Gak pa-pa, biar lo bisa jawab salam dari gue." "Waalaikumsalam." Jawab Saka dan Kasa kompak. Kisa lalu berjalan ke arah pintu masuk kereta. Dia masih bisa melihat Saka, Kasa dan Akriel masih berdiri di sana. Namun, dia tak bisa lama-lama berada di ambang pintu masuk. Cewek itu lalu duduk di kursinya setelah meletakkan barang-barangnya di tempat penyimpanan barang. Kisa menghela napas panjang. Cewek itu berbisik dalam hatinya, 'Ayah, ini pertama kalinya aku akan menemuimu sebagai Markisa Firaya.' *** Setelah berjam-jam menempuh perjalanan dari Jakarta ke Yogyakarta dengan kereta, akhirnya Kisa sampai di tempat tujuannya. Cewek itu baru sampai di stasiun tempat pemberhentian dan tak lama dia sudah disambut dengan bundanya. Kisa langsung berlari menghampiri wanita itu setelah menyadari kehadirannya di sana. Kisa pun langsung memeluk bundanya penuh kerinduan. Bundanya balas memeluk Kisa dan menciumi pucuk kepala putrinya tersebut. Itu adalah pelukan kerinduan antara ibu dan anak. Sialnya, Kisa nyaris meneteskan air matanya di depan bundanya, namun beruntung cewek itu dapat membendung air mata itu dengan susah payah. Kisa mencoba senyum lalu melepas pelukan itu kemudian balik menatap bundanya. "Bunda kangen aku, kan?" Kisa mencoba sumringah meskipun dia sudah bisa menebak sejak saat pertama berniat untuk pulang, ayahnya tidak akan mungkin menjemputnya di stasiun. Kisa terlalu berharap pada sesuatu yang tidak mungkin seperti mengharap ayahnya akan datang menyambut Kisa yang baru saja pulang. Sayangnya, semua tak seperti itu. Namun, dengan kehadiran bundanya di sana, itu sudah lebih dari cukup untuk Kisa. "Setiap hari Bunda selalu kangenin kamu, Nak." Jawab bundanya meyakinkan. Dia sungguh begitu merindukan Kisa yang bersekolah jauh dari rumahnya sampai membuat bundanya begitu jarang untuk bisa menemui cewek itu. "Apa Ayah gak dateng buat ngejemput aku hari ini?" Pertanyaan Kisa membuat wanita itu tercekat. Senyum yang terlukis di wajahnya sedari tadi perlahan mulai memudar. Bagaimana dia harus menjawab pertanyaan putrinya tersebut? "Ayah lagi sibuk." Begitulah jawaban bundanya yang sangat dibenci Kisa. Kisa sendiri tahu, sesibuk apa pun ayahnya dia tidak mungkin tidak bisa menyempatkan sedikit waktu saja untuk menemui cewek itu di stasiun. Kesibukan hanya mitos belaka. Namun, dari jawaban bundanya, Kisa mencoba untuk menerimanya. Kisa mencoba tersenyum meskipun dalam hatinya dia ingin meronta-ronta karena kekesalannya terhadap ayahnya. "Oh, Ayah sibuk? Ya udah deh, gak pa-pa. Mending kita pulang sekarang." Bundanya tersenyum melihat putrinya yang tidak terlalu kecewa pada alibinya. Meskipun sejujurnya dia juga tahu kalau Kisa sangat menyesal karena jawabannya. "Ayo, mending kita pulang. Biar Bunda bantu bawa barang-barang kamu." Kisa serta bundanya hendak pergi dari tempat itu, namun baru saja berbalik cewek itu langsung tercekat di tempatnya, begitu pun dengan bundanya. Mereka berdua sama-sama terkejut terutama Kisa karena kehadiran ayahnya yang tiba-tiba ada di sana dan masih berseragam tentara lengkap di stasiun itu. Kisa mematung di tempatnya apalagi ketika ayahnya tengah berjalan menghampirinya hingga menjadi pusat perhatian semua orang karena gaya berpakaiannya. "Selamat datang, Kisa." Ucap ayahnya dan sontak Kisa melotot tak percaya. Kisa menatap ayahnya dengan sangat terkejut dan cewek itu pun masih tak berkutik sedikit pun. "Ayah." Lirih Kisa sangat pelan, lalu dirasakannya tangan ayahnya yang mulai merangkulnya dan memeluknya ke dalam dekapannya. Sungguh, baru pertama kali Kisa akhirnya bisa merasakan pelukan dari ayahnya sendiri. Selama 16 tahun dan hari ini Kisa bisa merasa kalau ayahnya kini adalah benar-benar ayah seperti pada umumnya. Kisa seolah merasa ada sebuah aliran kasih sayang yang menyengat hatinya. Ternyata selama ini dia memang salah. Benar kata Akriel, ayahnya sebetulnya menyayangi Kisa dengan cara yang berbeda. Kisa balas memeluk ayahnya. Dan tanpa dia sadari, cewek itu menitikkan air mata dan tak lama kelamaan air mata itu semakin deras. Kisa sangat terharu. Begitu pun dengan bundanya yang tengah berdiri menyaksikan putri dan suaminya di sana. Hatinya ikut menangis dalam diam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN