5. Pencopet Pulpen

1754 Kata
"Jadi apa permintaannya?" Kasa tersenyum miring. "Tapi Bapak gak boleh kaget dulu kalo saya minta yang aneh-aneh nantinya." "Iya-iya, tenang aja apa sih yang saya gak bisa?" Pak Bondan berlagak sombong. "Oke, jadi saya mau Bapak nerima satu murid buat bersekolah di sekolah ini secara gratis alias gak dipungut biaya." Saka dan Kisa akhirnya mengakui kalau Kasa itu pinter juga. Kenapa ya mereka gak kepikiran kalau ternyata Kasa bisa dengan bijak memanfaatkan keadaan? "Loh? Mana bisa—" "Eittss... udah janji lho, Pak. Gak bisa ditolak." "Emang siapa sih dia, sekolah kok gak mau bayar? Beli perangko aja harus pakai duit, apalagi sekolah. Bagaimana sih?" "Ada deh, dia cuman mau sekolah di sini 100 hari doang kok. Boleh ya, Pak?" "100 hari? Emang dia niat sekolah gak sih? Orang-orang tuh sekolah di sini 3 tahun lah dia cuman 100 hari doang?" "Iya, Pak. Kalo udah 100 hari udah selesai dia sekolahnya, dia juga bakal pergi lagi nantinya." "Hadeh bagaimana sih? Aneh-aneh aja anak jaman sekarang. Ya udah deh iya." Pak Bondan akhirnya pasrah. Kasa tersenyum puas. "Terus satu lagi nih, Pak." "Loh, kok banyak amat? Mau meras kamu hah?" "Bapak suudzon banget dah. Bapak mau saya ceritain ke istri Bapak kalo suaminya—" Kasa sudah siap-siap berpura-pura menelepon istri Pak Bondan. "Iya! Iya! Iya! Apa? Terus kamu mau minta apa lagi cepetan?! Saya gak punya banyak waktu." Pak Bondan sampai terbawa emosi. "Nah gitu dong, Pak." Kasa nyengir. "Jadi, selama dia sekolah di sini, semua biaya dia mulai dari makan, mandi, kamar, dan semuanya ditanggung sama Bapak. Setuju?!" "Hadeh anak jaman sekarang, bisa-bisanya mau enak gak mau pake uang. Iya deh saya setuju. Tapi inget ya jangan kasih tau isti saya soal Song Hye-kyo itu." "Siap! Itu mah kecil." "Jadi, anaknya mau sekolah kapan?" Kasa berpikir sesaat. "Besok, Pak." Pak Bondan geleng-geleng. "Yaudah deh, nanti saya urus semuanya. Pokoknya besok beres." Kasa tersenyum puas. "Oke, Pak. Sekarang kita mau pamit dulu, Pak. Mau ke kelas." Akhirnya mereka saling cabut dari tempat itu. Pak Bondan Taksadana alias Pak Botak pun terlihat menghilang di belokan jalan beberapa detik lalu, tersisa tawa puas dari ketiga bocah itu karena dirasa akal bulus Kasa benar-benar bermanfaat sekarang. Akhirnya mereka berhasil menyekolahkan Akriel atas bantuan Pak Bondan, meskipun dengan cara sedikit sesat. "Gue baru sadar ternyata seorang Kasalira Sabina sepinter itu." Saka tak henti-hentinya girang sambil memukuli lengan Kasa yang sekarang meringis. "Jadi, kemarin-kemarin tuh gue bodoh?" "Iya." Kisa menyahut. Kasa berdecak. "Masih mending gue bantuin tuh tadi. Kalo nggak, gak bakalan kelar urusan si Ariel." "Akriel, Sa." "Serah." "Eh, btw kita fiks nih bantuin Akriel?" Kisa agak girang, berbeda dengan Kasa yang malah burem lagi. "Gue tim hore aja deh." Kasa berungut. "Lumayan, Sa. Bantuin orang tuh dapet pahala, apalagi dia kan guarduan angel." Kasa mendelik. "Masih aja lo percaya sama dia. Oke gue mau bantuin si Akriel biar kegilaan ini cepet berakhir." Kisa girang. "Kasaaa wuv uuu!!" Kasa malah ilfeel. Bisa-bisanya Kisa yang tampangnya bak preman kampung berlagak sok imut begitu. Membuat Kasa stonks ingin menendang Kisa ke Sungai sss rasanya. *** "Jadi yang mana anaknya tah?" "Bapak siwer apa orangnya ngejubleg segede gini gak keliatan?" Pak Botak membenarkan kaca mata beningnya melihat ke arah Akriel lalu manggut-manggut. "Oh jadi kamu tah?" Akriel manggut-manggut. "Siapa nama kamu?" "Saya Akriel. Akriel Zaphka Mihr." Atas bantuan Pak Bondan Taksadana dan tak luput dari akal bulus Kasalira Sabina, akhirnya Akriel berhasil bersekolah di sekolah ini. Pak Bondan yang mempersiapkannya dalam satu malam sempat agak frustasi lantaran kata Kasa, dia dilarang tahu secara detail tentang latar belakang Akriel. Cukup menyekolahkan Akriel selama 100 hari sudah cukup, setelah itu perjanjian selesai. "Kamu punya bapak, kan? Bapak kamu namanya siapa?" "Bapak itu apa?" Akriel menyipit. Pak Bondan mendadak pengung. "Kamu nanya arti kata 'bapak' atau nanya profesi saya sih?" Kisa menggaplok jidatnya sendiri lalu menepuk pundak Akriel sampai cowok itu menoleh. "Bapak itu ayah. Ayah lo siapa?" Akriel akhirnya mengangguk paham. "Ayah saya bernama Mihr." "Kalo ibu?" "Ibunya namanya Kokom," Saka menjawab asal. Meskipun begitu, Akriel enggan protes sedikit pun ketika Saka menyebutkan nama ibunya secara sembarang. Pak Bondan manggut-manggut lagi. "Kamu tinggal di mana?" "Di London, Pak." Kasa yang menjawab. "Kamu tinggal di London? Orang tua kamu juga di London dong? Terus kenapa kamu ke Jakarta?" "Soalnya dia kabur dari rumahnya," Kisa mengarang. "Saya ini nanya ke Ariel bukan ke kalian! Kenapa kalian yang jawab?" "Nama saya Akriel." Akriel meralat. Akriel heran, kenapa manusia-manusia ini suka sekali menyelewangkan namanya? "Iya, Akriel. Umur kamu berapa?" "18 tahun." Semalam, Akriel sudah dikasih tahu sama Kasa kalau ditanya ini jawabnya harus ini. 'Inget ya, kalo lo ditanya umur, jawabnya jangan 210 tahun tapi jawab 18 tahun. Terus kalo ditanya lo kelas berapa jawab aja kelas 12. Kalo ditanya tempat tinggal lo di mana jangan jawab Flat, jawabnya ngarang aja terserah mau lo di Australia, Prancis, Canada atau Citayam, Ciputat sekalian.' Pak Botak akhirnya memutuskan menyelesaikan introgasi Akriel. Selama dia menjadi kepala sekolah, baru kali ini dia menjumpai murid yang super duper riweuh yang mana orang tuanya tinggal di London tapi mau sekolah gratisan di Jakarta. "Oke, Akriel. Jadi, ini kelas kamu di sini, 12 Ipa B." Kata Pak Bondan. "Heh kalian bertiga cepet kembali ke kelas sana!" "Siap, Pak!" Saka, Kasa, dan Kisa kompak hormat ala-ala murid teladan kemudian lari ngibrit ke kelas mereka setelah diusir Pak Bondan. Saat itu jam pelajaran pertama belum dimulai, Akriel kemudian diajak masuk oleh Pak Bondan ke dalam kelasnya. Suasana di kelas ramai ditambah recok bak suasana pasar mingguan di alun-alun kota. Namun, suasana tiba-tiba senyap ketika kedatangan Pak Bondan yang menyita perhatian. Akriel sudah memakai seragam sekolah lengkap dengan tas hingga sepatu. Penampilannya tak kalah menyita perhatian karena sosoknya yang jangkung semampai bak tower indosat. "Saya minta perhatiannya sebentar. Saya membawa teman baru untuk bergabung di kelas kalian." Pak Bondan melirik ke arah Akriel. "Silakan perkenalkan diri kamu." Akriel sudah diajari cara memperkenalkan diri oleh Saka semalam. Dengan sedikit gugup sampai nyaris tremor, Akriel bisu beberapa saat sampai akhirnya Pak Bondan menggebraknya. "Nama saya Akriel Zaphka Mihr. Makanan favorit saya adalah sate nyamuk dan sop semut keju." Sontak suasana di kelas menjadi riuh akan tawa, sedangkan Pak Bondan melotot tak menyangka. Seumur dia jadi guru, baru pertama kali dia menjumpai murid semodelan Akriel. Kalau dalam bahasa gaulnya, one and only. Tolong salahkan Saka juga yang mengajarinya begitu. Pak Bondan geleng-geleng kepala. "Sudah Akriel, lebih baik kamu duduk sana." "Saya duduk di mana?" Pak Bondan sempat melirik-lirik dan mendapati kursi kosong. "Di sana, di samping Dara." Akriel menurut lalu berjalan menuju kursi kosong di samping cewek yang disebut-sebut sebagai Dara. Akriel tidak tahu kenapa Saka, Kasa dan Kisa memintanya untuk bersekolah di sini, mereka belum menceritakannya. Sejauh ini, Akriel hanya menjalankan perintah mereka layaknya robot yang dikendalikan sang penemu. Lagipula Akriel tidak mengerti dengan sistem pembelajaran manusia, kata Kisa sih 'udah tenang aja, semuanya bakal beres kok', begitu. Menarik kursinya, laki-laki itu langsung duduk setelah meletakkan tasnya di atas meja. Cewek di sampingnya tak menggubris kehadirannya sama sekali, malah fokus membaca buku ditemani earphone yang menyumbat kedua telinganya. Semalam, Akriel juga sempat diajari cara berkenalan dengan orang lain. Meskipun tidak yakin, laki-laki itu menoleh ke arah cewek berambut sebahu di samping bangkunya. "Nama saya Akriel." Bukannya mendapat respon yang setidaknya bisa diterima, cewek itu menyipit menatap Akriel tidak suka. "Dih...SKSD!" katanya, lalu menutup bukunya dan beranjak meninggalkan Akriel di sana. Namanya adalah Addara Ghassani, menurut nametag yang tertera di seragamnya. Akriel menyaksikan Dara yang berjalan semakin menjauh lalu menghilang di balik pintu. Dalam batinnya ia berbisik, 'jadi begitukah sikap manusia kebanyakan?' "Eh anak baru!" Cowok di belakangnya berseru, Akriel yang merasa terpanggil pun menoleh. Tak hanya satu, mereka ada 4 orang. Mereka cengengesan melihat Akriel. "Orang mana sih lo? Pake sepatu aja kebalik?" Sontak mereka tertawa puas. Menertawai Akriel dengan sadisnya, tapi beruntung Akriel sama sekali tidak merasa terbebani. Akriel kemudian membenarkan posisi sepatunya. Jadi manusia memang menyusahkan. Ia jadi menyesal harus menerima misi dari ayahnya ketika sadar menjalani kehidupan manusia tak segampang menepuk jidat. *** Kasa dari tadi mondar-mandir gak jelas di kelas, Saka dan Kisa sampai migrain lihatnya. "Lo nyari apaan sih?" Tanya Saka. "Pulpen gue kok gak ada ya? Terakhir gue taro di atas meja. Lo liat gak?" "Yang kayak gimana?" "Yang warna ungu tuh, gue baru beli kemaren." "Ooh...itu—" Kasa memandang Saka penuh harap barsemoga cowok itu tahu di mana keberadaan pulpennya. "—gue gak liat." Kasa berdecak. "Halah, paling dicopet si Badrol." Kata Kisa membuat Kasa menyipit. Sebenarnya mereka tidak mau suudzon, tapi karena Badrol itu sudah langganan disuudzoni, bahkan ketika ada barang hilang di kelas pasti tersangka nomor satu adalah Badrol. Kasa mengepalkan sebelah tangannya lalu meninju-ninju telapak tangan sebelahnya lagi. "Sialan tuh si Badrol. Gue jadiin prekedel kalo beneran dia yang nyuri pulpen gue." Tak lama Badrol pun datang ke kelas dan benar saja ada pulpen nyelip warna ungu di telinganya. "Wah, bener-bener nih." Kasa melipat lengannya di depan d**a. "Lo nyopet pulpen gue? Balikin cepet!" Badrol malah cengo. "Apaan sih lu?" Badrol berjalan melalui Kasa dan berniat duduk di kursinya, tapi buru-buru Kasa mencegatnya. "Itu pulpen gue balikin, Badrun!" Kasa sengaja menyelewangkan nama cowok itu. "Nama gue Badrol Purnama. Lo tuh jangan seenak jidat ya ganti-ganti nama orang. Sia-sia aja bapak gue udah akikahin tuh nama pake dua kambing malah diselewangin gitu aja." Badrol malah ceramah. Kasa memutar kedua bola mata. "Iya, Badrol. Sekarang balikin tuh pulpen gue yang nyelip di telinga lo! Lo juga seenak jidat ngambil-ngambil barang orang." "Ini? Ini mah punya gue." "Gak ada ya itu pulpen gue. Lo pasti yang diem-diem nyuri pas gue ke kantin tadi." Kasa berusaha mengambil pulpen yang disempilkan di telinga Badrol, agak kesusahan karena cowok itu lebih jangkung darinya. Saka dan Kisa diam saja di pojokan. Rasanya bagai nonton film bioskop gratisan saja. "Denger ya Kasalira Sabina." Badrol menggenggam pulpen itu. "Ini tuh pulpen gue. Liat nih masih ada lem-nya dan belum sempet gue pake." Kasa berdecak. "Walopun gue suka nyopetin pulpen orang, jangan asal main nuduh. Itu namanya fitnah. Emangnya pulpen kayak gini cuman lo doang apa yang punya?" Dengan songongnya Badrol berjalan melewati Kasa setelah dirasa dia tidak bersalah setelah dituduh. Kasa kalah telak. "Udahlah, Sa. Beli yang baru kan bisa. Murah doang kok." Kata Kisa di belakang. Memang harga pulpen itu tak seberapa. Tapi harga diri Kasa itu lho, dia jadi agak malu setelah menuduh Badrol sembarangan. Berhubung Kasa orangnya gengsian, harga dirinya serasa diinjak-injak sampai remuk bak habis dilindes tronton. Tolong, Kasa sangat malu sudah menuduh Badrol dengan lantang tapi rupanya dia malah salah tebak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN