400 tahun kemudian...
"Mau sampai kapan perang ini akan terus berlanjut?"
Pertanyaan Eremiel sontak membuat Castiel dan Dariel geming seketika. Kemudian mereka bertiga saling diam. Mereka masih dikurung di ruang bawah tanah. Sementara Akriel dan Bariel turun dalam perang membantu ayahnya.
Perang itu memang belum berakhir dan ini sudah nyaris 400 tahun sejak perang itu dimulai. Perang antara Aldogravia Kingdom dengan Vandrekavia Kingdom. Perang memperebutkan kekuasaan di wilayah North Flat yang tak kunjung selesai. Dan meskipun Raja Han telah gugur lebih di tengah medan perang, tapi perang itu masih berlangsung dan lanjut dipimpin oleh putrinya, Alodra.
"Aku bosan. Aku ingin keluar." Dariel kemudian berdiri.
Castiel menatap Dariel. "Tetap duduk di tempatmu! Keadaan sangat berbahaya di luar sana."
"Mau berapa lama kau akan terus mengurung diri di sini?" Tegas Dariel.
"Ini satu-satunya tempat aman. Jangan coba keluar kalau kau tidak ingin mati!" Castiel agak geram, nada ucapannya keras di akhir.
"Aku juga lelah." Eremiel menyahut. "Aku sudah tidak tahan terkurung di tempat yang pengap ini."
"Tidak bisakah kalian diam saja?!" Amarah Castiel mulai memuncak. "Kalau kalian tidak bisa berperang maka diam saja!"
Dariel dan Eremiel akhirnya diam dan kembali duduk di kursi mereka masing-masing. Tak lama kemudian terdengar suara pintu yang dibuka, itu Bariel yang datang.
"Ikut aku ke istana sekarang juga!" Bariel memerintah dan tanpa panjang lebar Castiel, Dariel dan Eremiel dibawa pergi menuju istana dengan tujuan yang tidak mereka ketahui.
Mereka dibawa ke kamar ayahnya, Raja Mihr, yang kini terlihat tengah terbaring lemah di atas tempat tidurnya, Akriel sudah ada di sana.
"Ayah!"
Raja Mihr sedikit tersenyum melihat kelima anaknya ada di sana sekarang.
"Ayah baik-baik saja?" Tanya si bungsu.
Raja Mihr mengangguk lemah. "Ayah sudah tidak bisa memimpin perang lagi. Ayah semakin tua dan lemah."
Kelima anaknya mendengarkan perkataan ayahnya saksama.
"...tapi Ayah tidak ingin menyerah mempertahankan Aldogravia di North Flat. Kalian harus menggantikan Ayah untuk memimpin perang." Lanjut pria itu.
"Apa jika kita menyerahkan wilayah North Flat pada Alodra maka perangnya akan berakhir?" Tanya Castiel memicu ketidaksukaan ayahnya.
"Aku tidak akan menyerah."
"Itu omong kosong!" Nada gadis itu meninggi. "Jadi perang yang terjadi kurang lebih 400 tahun ini hanya karena wilayah North Flat?! Menyerah saja! Berikan wilayah itu dan segera akhiri perangnya!"
"Wilayah itu sangat berharga bagiku. Aku tidak akan memberikannya begitu saja." Ucap Raja Mihr mencoba lantang di tengah kelemahannya.
Castiel berdecak emosi. Segera ia meninggalkan tempat itu dan undur diri dari sana diikuti Dariel dan Eremiel, bahkan juga Bariel. Di sana hanya tinggal menyisakan Akriel.
"Akriel." Lirih ayahnya dan dengan segera Akriel menghampirinya.
"Saya di sini, Ayah."
"Ayah ingin meminta sesuatu padamu."
Akriel agak mengernyit. "Apa itu?"
"Ayah baru mengetahui bahwa Alodra telah menyimpan jiwanya yang asli di tempat lain. Jadi, meskipun dia terbunuh, dia tidak akan benar-benar terbunuh dalam artian dia bisa hidup kembali."
"Lalu?"
"Alodra menyimpan jiwanya di Bumi tepatnya di dalam raga manusia. Butuh kekuatan besar untuk bisa menyimpan sebuah jiwa yang dipisahkan dari raga aslinya yang masih hidup, tapi Alodra mampu melakukannya. Untuk menghentikan Alodra, kau harus membunuh jiwanya yang disimpin di Bumi, di dalam raga seorang manusia."
"Apa itu masuk akal? Siapa yang menyimpan jiwa Alodra?"
"Oleh karena itu, aku memberikanmu misi itu. Pergilah ke Bumi dan segera cari orang yang menyimpan jiwa Alodra. Maka dengan itu, Alodra bisa terbunuh."
"Ayah!"
"Jika kau menolak maka bunuhlah aku dengan pedangmu!"
Akriel sebetulnya ingin menentang ayahnya untuk berhenti terobsesi dengan North Flat. Tapi Akriel tak bisa melawan ayahnya sendiri. "Baiklah. Saya terima misi itu."
***
"Apa?! Bisa-bisanya Ayah membodohimu dengan menjadikanmu tumbal untuk perang itu! Kita semua korban di sini!" Castiel tak henti-hentinya mengoceh pada Akriel dari tadi. Sementara Bariel, Dariel dan Eremiel hanya bisa menyaksikan. "Semuanya hanya omong kosong. Itu misi yang sangat konyol dan kau malah menerimanya?!"
"Aku tidak bisa menolak perintah Ayah." Kata Akriel lirih.
"Kau tidak perlu melaksanakan misi itu. Ini jebakan dari Ayah. Pering ini juga terjadi karena keserakahan Ayah, bukan?" Emosi Castiel semakin menyulut. "Kalau saja Ayah tidak serakah waktu itu, perang ini tidak akan terjadi dan kita tidak akan menderita di sini!"
"Jadi, kau berencana menjadi musuh ayahmu sendiri?" Tanya Akriel.
"Kenapa tidak? Aku ingin perang ini selesai dan hidupku kembali normal."
"Jangan mengkhianati Ayah, kalau tidak kau akan mati."
"Huh?! Lebih baik aku mati dibunuh daripada harus mati membusuk di tempat ini karena perang yang tak kunjung usai."
Akriel bangkit dari duduknya lalu menatap Castiel. "Castiel, aku berjanji akan mengakhiri perang ini sesegera mungkin. Tunggu sampai aku kembali dari misi yang diberikan Ayah. Karena hanya inilah satu-satunya cara selain menyerah agar perang ini berakhir."
Akriel mulai beranjak dari sana dan berjalan ke arah pintu keluar.
Castiel menatap punggung Akriel yang semakin menjauh. "Hentikan langkahmu!"
Akriel tak menggubris, pria itu terus berjalan menjauh meninggalkan keempat saudaranya di ruang bawah tanah itu. Castiel sempat ingin mengejar namun Bariel berhasil menahannya.
"Akriel berhenti di sana sekarang juga! Katakan kau tidak akan pergi ke Bumi! Aku tidak mengizinkanmu!" Castiel kembali berteriak, semakin histeris ketika menyadari kakaknya sudah menghilang di balik pintu.
***
"Ayah."
Tak lama, ayahnya yang sedang menatap ke luar jendela kemudian menoleh.
Akriel mendekati sang ayah. "Saya siap menjalankan misi itu."
Raja Mihr tersenyum. "Ikut Ayah!"
Akriel mengikuti langkah ayahnya dan dia ditunjukkan ke sebuah ruangan. Mereka berhenti tetap di depan cermin yang super besar.
"Waktumu di Bumi hanya 100 hari, Nak. Jadi sebisa mungkin, kau harus menyelesaikan misi itu sebelum 100 hari." Ucap ayahnya sambil menatap cermin itu.
Akriel mengangguk paham.
"Cermin ini selayaknya dimensi yang akan menghubungkan tempat ini dengan Bumi." Ucap Raja Mihr. "Sekaligus ketika kau masuk ke dalam cermin ini, kau akan menjadi setengah malaikat dan setengah manusia."
"Saya mengerti."
"Dan satu hal yang harus kau ingat. Ada larangan ketika kau menjadi manusia."
"Apa itu?" Akriel tampak mengernyit penasaran menunggu jawaban sang ayah.
"Kau tidak boleh mencintai manusia asli. Jika kau melanggar, maka kau akan lenyap dari dunia selamanya."
Akriel sekali lagi mengangguk. "Saya siap mematuhinya."
"Dan ciri-ciri manusia pemilik jiwa alodra itu dia memiliki tanda sepasang sayap malaikat tepat di punggungnya. Ayah percaya kau bisa menemukannya dan jangan ragu untuk membunuhnya."
Akriel menghela napas. "Baik, Ayah."
"Waktumu tidak banyak lagi. Segera pergilah."
"Aku titip adik-adikku." Ucap Akriel, lalu pria itu melangkah masuk ke dalam cermin yang dengan ajaibnya mampu memakan habis-habis tubuh Akriel dan menghilangkannya dari sana hanya dalam hitungan detik.
Dari dalam sana, Akriel mulai merasa nyeri di sekujur tubuhnya. Dirasakannya tulang-tulangnya bak dipatahkan secara brutal. Lalu di setiap inci kulitnya terasa bagai disayat tipis-tipis dengan ujung samurai. Pria itu hanya bisa menutup matanya sambil menahan nyeri yang luar biasa sakitnya, bahkan dia nyaris mati rasa. Lalu sayapnya mulai melebur dan berterbangan menjadi abu.
Gelap, semuanya gelap. Bahkan ketika ia membuka matanya kembali lebar-lebar, ia masih tak dapat melihat apa-apa. Namun, ketika ia tiba-tiba terbangun di sebuah tempat, rasa sakit yang dirasakannya beberapa waktu lalu mendadak hilang tanpa jejak. Semuanya tampak kembali normal meskipun Akriel kini tak bersayap.
Pria itu tergeletak di lantai sebuah ruangan. Dengan sedikit linglung ditambah pandangannya yang buram, ia mencoba membenarkan posisi duduknya. Lalu dilihatnya sekeliling ruangan yang tampak asing baginya itu dengan teliti. Jelas ini bukan dunianya lagi. Semuanya berbeda 180 derajat dengan dunia yang ia tinggali sebelumnya.
'Jadi ini yang namanya Bumi?' ucap Akriel dalam hati.
Akriel masih belum beranjak dan tetap geming selama beberapa saat. Kemudian pandangannya terpaku pada dua anak perempuan yang tengah tertidur pulas di kamar itu.
***
Jakarta, 2021
Kasalira Sabina, begitulah sebaris nama lengkap cewek yang biasa dipanggil Kasa dalam kesehariannya. Kasa itu terbilang cewek yang sangat feminin tapi terkadang mulut dan ucapannya bisa setara dengan pedasnya boncabe level lima belas. Jika ada orang yang menganggapnya sebagai gadis lemah-lembut dilihat dari penampilannya, sebaiknya pikir-pikir lagi saja. Berkebalikan dengan Kasa, Markisa Firaya alias Kisa adalah seorang cewek tomboy tapi lisannya tak seliar Kasa yang hobi mengabsen nama binatang ketika sedang kesal atau marah.
Mereka bisa dibilang dua berkebalikan. Disaat Kasa yang mulutnya bisa lebih ganas dari harimau, tapi dilihat dari perawakannya siapapun bisa langsung menilai kalau dia adalah cewek biasa yang suka menata rambutnya dengan berbagai macam kuncir atau jepitan rambut warna-warni, atau Kasa yang suka pakai rok dan celana pendek dan bergaya bak personil girlband Korea yang suka seliweran di televisi karena sedang booming-boomingnya. Sementara Kisa, memang tampang cewek tomboy itu sudah sebelas-dua belas bak preman kampung yang suka nongkrong di kolong jembatan yang kerjanya maksa minta duit setoran dari pedagang di pasar, tapi sungguh Kisa itu selembut sutra orangnya. Pernah ketika Kasa dan Kisa pergi ke funfair untuk sekadar bermain wahana yang tak jauh menaiki kora-kora atau bianglala, Kasa yang waktu itu hanya memakai hoodie oversize dengan bawahan celana jeans pendek alhasil pulang dari sana ia langsung masuk angin dan sakit selama dua hari. Kisa sampai mengomel selama dua hari dua malam non-stop pada Kasa, tapi apa boleh buat karena omongan Kisa itu begitu lembut bak nyanyian lagu pengantar tidur sehingga Kasa tak bisa untuk tak tertidur ketika diomeli Kisa entah karena kejadian apapun itu.
Mereka adalah roommate dan menjadi teman akrab sejak masuk asrama dan bersekolah di sana tahun lalu. Satu lagi temannya, yaitu Aksa Kastara atau lebih akrab disapa Saka. Saka tak jauh berbeda dengan cowok lain yang suka main sepak bola di lapangan entah ketika jadwal olahraga atau karena jam kosong. Dia adalah classmate Kasa dan Kisa sejak kelas sepuluh yang sepertinya akan segera selesai sekitar setengah semester lagi kemudian berlanjut ke kelas sebelas. Tapi entahlah karena mereka bertiga juga tidak tahu masih bisa satu kelas lagi atau tidak di kelas selanjutnya.
Tepat tengah malam ketika Kisa sedang dimabuk-mabuknya dibuat kepayang di alam mimpi di mana ia sedang berduaan di pinggir danau bersama seorang laki-laki yang tak jelas rupanya. Satu detik lagi mungkin laki-laki itu berhasil mencium pipi Kisa, sayangnya, mimpi itu malah buyar dalam satu jentikan jari ketika sesuatu telah mengusik Kisa dan membuatnya terpaksa membuka matanya yang berat karena mengantuk kemudian menelisik hal janggal yang terjadi di sana. Dengan pandangan yang masih kabur dan samar-samar karena minim pencahayaan, Kisa membuka matanya lebar-lebar. Otaknya masih lalot selama beberapa detik dan baru saja tersadarkan kalau ada orang lain selain Kasa di kamarnya yang sedang terduduk di lantai sambil menatapnya. Yang membuat Kisa nyaris memekik adalah sosok itu seorang cowok.
"Saka, kok lo di sini?" Kisa bersuara agak serak.
Orang yang disangka Kisa adalah Saka itu tak merespon apapun. Akhirnya Kisa menyalakan saklar lampu yang menempel di tembok samping ranjangnya. Cewek itu sontak memekik dan seketika lupa cara menjerit saking ketakutannya, matanya bahkan melotot nyaris copot dari rongganya ketika melihat seorang cowok sedang terduduk di lantai, yang jelas itu bukan Saka.
"PENYUSUP!!!!!!!!!!!!!!!!!!!"