"siapa nak? Jawab saja jangan takut"ucap buk indah menenangkan ku.
"Maaf buk saya tadi jatuh sendiri, mungkin karena saya kelelahan, makanya saya jatuh, jadi ibu jangan marah sama lintang ya buk." Ucapku berbohong.
"Benarkah itu nak?" Ucap ibu indah.
Tiba tiba lintang menyahut.
"Aduh mamah itu kan udah di bilang kalo si manda itu jatuh sendiri, jadi mamah udah ga percaya sama aku, kenapa si mamah belain dia mulu? Sebenarnya yang anak mama itu dia atau aku si." Ucap lintang marah.
"Bukan seperti itu nak, maksudnya mama..." Belum sempat melanjutkan pembicaraan, tiba tiba lintang memotong ucapan mamah nya.
"Sudah lah mah memang seperti itu kan kenyataan nya? Mamah mau menyangkal apa lagi? Sudah lah lebih baik aku pergi sekolah, males ngeladenin mamah." Ucap intan pergi begitu saja.
Buk indah pun hanya menggeleng kepala melihat tingkah anaknya.
"maaf kan anak saya ya nak manda" ucap buk indah.
"Tak apa buk, ya sudah saya mau lanjut kerja ya buk." Ucapku.
Saat aku di dapur aku bertemu bik sum, ya dia juga bekerja disini, namun lebih lama bik sum, ya dia sudah bertahun tahun bekerja disini, karena umur nya yang sudah tidak muda lagi dia hanya mengerjakan pekerjaan yang mudah, kami berdua di gaji sama rata oleh buk indah.
"Loh nak kamu kenapa Masi baik sama lintang? Kenapa kamu tidak berkata jujur saja?" Tanya bik sum.
"Tak apa buk, lagian aku gak mau membuat seorang ibu membenci seorang anaknya hanya karena aku, mungkin lintang lagi tak mood makanya emosi tidak stabil" ucapku tersenyum menyakinkan bik sum.
"Ya ampun baik sekali kamu nak" ucap buk sum terharu.
"Iya bik" jawabku.
"Ya udah ya bik aku mau permisi dulu" ucapku berlalu dari hadapan bik sumi.
Akhirnya setelah Manda bergelut dengan pekerjaan nya kini dia sudah menyelesaikan semuanya.
Manda " akhirnya selesai.
Tiba tiba Bu indah menghampiri ku
"Nak ayo temenin ibu makan, pasti kamu kelelahan kan?" Ajak bu indah.
"Tapi buk, saya hanya pembantu tak etis rasanya saya makan bersama tuan rumah" jawabku menolak secara halus.
"Tak apa nak lagian ada bik sum juga" ucap Bu indah.
"Baik bu" akhirnya aku menuruti permintaan buk indah, lagian tidak sopan jika orang yang lebih tua mengajak kita menolak.
Akhirnya aku sampai di meja makan.
"Eh nak Manda sini nak makan, ayo biar bibik ambilin ya" ucap bik sum Seraya mengambil kan makanan ku.
"Eh bik ini banyak banget bik, ga usah banyak bik nanti takutnya ga abis nanti mubazir, aku bisa ambil sendiri kok bik" ucapku menolak.
"Gak apa nak, bik sum bener kok, lagian nanti kalo kamu sakit bagaimana? Kamu harus makan banyak kasian badanmu kalau dipaksakan" ucap Bu indah membawaku ke kursi, dan mengusap pundak ku.
"Entah kenapa saat buk indah mengusap pundak ku aku mengira bahwa dia ibu kandung ku, seperti ada ikatan batin"
Batinku.
"Astaghfirullah aku mikir apa si, mana mungkin dia ibu kandung ku, jika pun ibu kandung ku Masi sayang sama aku pastinya dia mencari ku, sekarang sudah bertahun
tahun pun dia tak kunjung menemui ku" ucapku dalam hati.
"Loh kamu kenapa jadi murung begini nak" tanya buk indah khawatir.
"Eh gak apa bu." ucapku.
"Ya sudah, kamu saya suapin ya ni aaa." Ucap Bu indah.
"Eh, gak usah buk" ucapku
Namun aku akhirnya menuruti apa yang di inginkan Bu indah, saat Bu indah menyuapi ku, di sana ku melihat lintang baru pulang sekolah, kulihat dari sorot matanya tersirat kebencian kepada ku.
Lintang : apa apaan ini ?
Lalu lintang hendak menaiki tangga, tetapi di tahan oleh Bu indah
"Tunggu nak, dengarkan mamah dulu" ucap bu indah menahan tangan anaknya namun tiba tiba
"Lepas gak Bu"ucap lintang meronta-ronta , dan tiba tiba
Brakk