Asakusa, 30 Juli 1912. Hari kedua setelah dirinya tiba, Arata menginap pada salah satu penyedia penginapan murah. Letaknya cukup jauh dari kota dan dirinya harus bangun lebih pagi, menyamar agar informan dari Kyoto tidak melihatnya. Walau nantinya pun dia gagal, Arata akan menanggung risikonya sendiri. Memakai sandal setelah sarapan, matanya menelusuri ladang yang lapang. Penduduk Asakusa sebagian besar bekerja sebagai petani, berkebun dengan aneka ragam hasil tanaman yang bisa mereka olah dan berdagang. Tidak banyak pengembara asing datang untuk sekadar mampir atau melihat. Sebagian besar perputaran uang dan ekonomi hanya terjadi antar penduduk. Rumah besar yang kembali Arata lewati adalah milik keluarga bangsawan terkemuka di Asakusa. Alisnya menyatu kala melihat Saito Yada berbincang

