twenty three - mengemas bayanganmu

1102 Kata
"Kau mengenal perempuan itu?" Geto berpura tuli sekarang. Dirinya memutuskan untuk bungkam, sama halnya dengan sosok dari Tokyo yang berniat mengacaukan Asakusa hanya demi ambisi tidak waras seseorang. "Kau tidak ingin menjawab?" "Ini tak ada urusannya denganmu atau kalian," sahut Geto dingin. "Dia bukan kekasih Arata." "Aku menyayangkan pria itu punya kekasih. Siapa yang mau menerima sosok kelam sepertinya?" Alis Geto terangkat naik. Sejujurnya ucapan pria itu cukup kasar, terutama dengan rekan seperjuangannya. Geto menyadari banyak perubahan yang membuat hidup seseorang berubah. Entah ke arah lebih baik atau buruk. Dirinya hanya tidak tahu bagaimana menempatkan posisi yang lebih pantas. "Kau mengusik orang yang salah." "Sepuluh tahun lalu Arata sengaja melarikan diri," sahut pria itu dingin menunduk setelah melihat bahwa Geto menunjukkan gambar itu pada Arata sebelumnya. "Dia sudah melihatnya." "Kau ingin tahu bagaimana responnya?" Geto mendengus menang. "Dia tidak peduli." "Siapa yang coba kau bohongi sekarang?" "Kalau pun aku tahu alasan Arata datang ke Asakusa, itu tidak ada kaitannya denganku." Sang kepala aparat bangun, siap mematik ujung cerutunya. "Dia pria dewasa dan bukan lagi peliharaan yang tunduk pada siapa pun seperti dulu. Arata sudah bebas." "Bagaimana jika perempuan itu tahu?" Kening Geto mengernyit sesaat. "Kau berniat memberitahunya? Itu bukan urusanku sama sekali." "Arata akan terluka, benar?" "Kau bukan saingannya. Dia hanya akan terluka pada hati dan bukan fisik." Geto berbalik lalu membuang cerutu miliknya. Ia tidak lagi berselera saat ini. "Mundurlah sebelum menyesal, Isuke." "Aku tidak akan menyerah sebelum membawa Arata kembali ke tempatnya, asal sebenarnya. Dia hanya lumpur tidak berguna." Isuke tidak segan melayangkan tatapan sinisnya pada Geto, teman seperjuangan. Saat insiden besar terjadi, mereka berada di satu pihak yang sama dan terpecah setelahnya. Arata berhasil lari tanpa hambatan, kabur bersama luka dan bayangannya. Tetapi yang mengherankan, para petinggi merahasiakannya. Seolah mereka memang membiarkan Arata menyendiri begitu saja. "Aku kehabisan kalimat untukmu," ujar Geto dingin melewati bahu Isuke saat berjalan menuju sel. "Kalau kau tidak menyerah, tempatmu ada di sana bersama mereka semua. Kau ingin merasakan seperti itu lagi?" Isuke mencibir keras. "Kau meremehkanku." "Aku mengerti sebatas mana kemampuanmu, Isuke." Geto menuding pria itu dengan sorot sinis. "Begitu pula dengan Arata. Kau jelas bukan tandingannya. Sampaikan salamku pada pemimpinmu. Asakusa tidak akan kalah dengan rasa tamaknya." Sebelum Geto berjalan semakin jauh, Isuke memberikan sebaris kalimat pamungkas ke atas kepalanya dalam bentuk lirihan. Dan benar saja, ucapan itu berhasil membuat kepala tim sektor dua berhenti melangkah. "Arata tahu bahwa kakaknya masih hidup?" Isuke mendengus keras. "Dia mungkin sengaja melakukannya karena tahu tidak akan pernah sukses melawan sang kakak seorang diri. Arata terlalu lemah karena perasaan." Geto menghela napas panjang. "Gambar itu adalah titipan dari sang kakak tercinta untuknya," ujar Isuke dengan kekehan dingin. "Jika Arata sudah melihatnya, dia tahu persis kode seperti apa saat ini. Tidak ada gunanya terus bersembunyi di Asakusa. Semua orang ikut merasakan karena dirinya tidak berusaha pergi dari sini." "Dia sudah tahu segalanya." Isuke terdiam. Ekspresinya berubah lebih sinis. "Dia tahun tentang ini?" "Untuk apa kau datang menjelaskannya?" Geto berbalik dengan senyum miring. "Arata tahu yang siapa mengirim dirimu. Dia juga tahu tentang sang kakak yang masih hidup. Tidak ada yang perlu kalian sembunyikan. Peringatan itu tidak berlaku untuknya." "Pria tidak tahu diri." Geto berlalu pergi dengan seulas celaan sinis. *** "Kau serius membiarkan seorang seperti Arata tidur di rumahmu?" Mia tersentak, terkesiap dan tanpa sadar menjatuhkan spatula kayu miliknya. Saat matanya melirik Liana yang duduk, melayangkan tatapan lirih ke arahnya. "Kau bicara apa tadi?" "Tentang Arata," sahut gadis itu lemah. "Dia tidak seperti bayanganku." Napasnya tertahan. Mia tidak pernah melihat Liana memasang wajah sesedih itu. Terlihat muram dan kehilangan cahayanya dalam remang. "Itu sudah masa lalu." "Aku tahu." Liana menghela napas. "Aku tidak bermaksud membelanya, tetapi dulu dia milik seseorang. Kau tahu, semacam pendekar hebat memiliki atasan. Sekarang dia hanya ronin biasa, serupa seperti guru." Liana menatap Mia lirih. "Kau memberinya kesempatan sama seperti kau memberiku di waktu sebelumnya. Mengapa kau melakukannya?" "Aku tidak yakin dengan jawaban itu." Mia memutuskan untuk mengaduk sup miliknya dan berpura tidak mendengar kalimat Liana. Gadis kecil itu hanya gelisah sekaligus penasaran. Dia tidak terlalu tahu tentang masa lalu gurunya sendiri dan Mia tidak ingin bercerita. "Semua pejuang punya masa lalunya sendiri, Liana. Tidak terkecuali guru dan Arata." "Apa karena itu dia merasa bersalah?" tanya Liana saat matanya mengekori Mia yang sibuk mengurus dapur dan ramuan. "Merasakan perasaan berkabung terhadapmu?" "Kenapa aku?" Liana mengambil napas panjang. "Aku tidak hanya sekali melihat Arata melihatmu dengan tatapan penuh sesalnya. Kadang dia tampak sedih dan begitu terbebani. Apa kau pernah mengenalnya jauh sebelum ini?" Mia duduk dengan gelengan bingung. "Aku baru bertemu saat pernikahan Emi dan Hiro. Itu tidak sengaja karena membuatnya terhuyung dan dia mengembalikan gelang milikku." "Apa kau curiga padanya?" Mata Liana memberikan jawaban sebenarnya dan Mia memberi reaksi berupa bahu terangkat singkat, tersenyum. "Kalau pun dia kembali berbuat seperti masa lalunya, kau tidak bisa berbuat banyak. Seperti kata guru, setiap jalan pejuang telah berbeda. Arata juga memilih garisnya sendiri." "Guru bilang kematian yang memutuskan masa depan mereka. Saat kita melakukannya, kita turut menanggung rasa sakitnya. Mereka yang pergi juga sebetulnya memiliki masa depan." Mia mendengarkan kalimat terbata Liana dengan seksama. Gadis itu kebingungan dengan caranya sendiri yang lugu. Liana menatap Mia sekilas, turun dari tempatnya dan berjalan pergi. "Aku minta maaf karena mencemaskan sesuatu yang tidak pasti. Itu semua terserah padamu. Kau memberiku kesempatan dan kau juga melakukan hal yang sama pada Arata kali ini." Kaki Liana berhenti bergerak saat melihat sang guru sedang berbincang bersama Arata dalam perjalanan. Ketika mata mereka bertemu, Liana menyapa guru Saito dengan ramah. Hanya membungkuk sebelum mengalihkan wajahnya, membuat kernyitan pada dahi Arata terlihat. "Apa yang terjadi?" Saito mengulum senyum tipis. "Liana punya pagi yang buruk sepertinya. Dia berdebat dengan Mia lagi, mungkin?" Mereka tiba di ruang makan. Saito mencoha membantu saat Mia menggeleng penuh isyarat, meminta agar sang paman duduk untuk menunggu sarapan tiba. "Kau sungguh keterlaluan," tegur Saito dengan senyum. Arata hadir untuk membantu. Seolah tahu tugasnya dan Mia tidak memberi kode yang sama dengan Saito, dia membereskan peralatan tanpa suara. "Liana tidak bergabung sarapan?" "Aku akan memanggilnya nanti," balas Mia setelah memberikan olahan teh hangat di pagi hari untuk Saito. Sudah menjadi rutinitas mengonsumsi teh herbal untuk kesehatan sang paman yang semakin menua. "Kalian berselisih?" tanya Arata datar. "Hanya salah paham," sahut Mia singkat setelah memberikan pria itu gelas. "Bukan sesuatu yang patut dibesarkan." "Kau yakin tidak berlangsung lama?" Saat mata mereka bertemu, Mia hanya melihat kecemasan menari di mata pria itu. Gadis itu tersenyum, menepuk bahu kekar Arata dengan canda. "Aku percaya. Biar kuperiksa dulu. Liana pasti bergabung ke meja makan sebentar lagi." Arata hanya mengangguk singkat dan menunduk tanpa berniat berbicara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN