"Kau pikir senjata mainan itu bisa mengalahkanku, Lyra? Kau selalu naif! Kegelapan adalah takdir alam semesta! Dan kau akan kembali menjadi bagian darinya, sama seperti adikmu!" Tawa menggelegar Ketiadaan Mutlak bergema di kehampaan angkasa, merendahkan pedang cahaya keperakan yang berkilauan di tangan Lyra. Namun, tatapan Lyra membeku, memancarkan tekad sedingin es kosmik saat ia bersiap menghadapi entitas kegelapan itu. Cahaya murni yang terpancar dari pedangnya adalah penolakan terang-terangan terhadap klaim Ketiadaan Mutlak. Tanpa ragu sedikit pun, Lyra melesat maju bagai komet keperakan, pedangnya terayun dengan kecepatan cahaya, membelah kegelapan pekat yang mengelilingi Ketiadaan Mutlak. Setiap ayunan adalah tarian cahaya yang indah namun mematikan, mencoba menembus inti kegelapan

