Shaina membawa dua cangkir teh dan menaruhnya di meja nakas yang terletak di antara kasurnya dan kasur Hani. Shaina melihat tangan Hani yang gemetar saat akan memegang gagang cangkir. Ia langsung mendongakkan kepalanya ke Hani. Hani sendiri hanya tersenyum merasa bersalah ke Shaina. Setelah memerhatikan Hani lebih dekat, Shaina dapat melihat wajah Hani yang lebih pucat dari biasanya. “Apa yang terjadi di kafe tadi?” “Tidak ada apa-apa. Sungguh.” “Apa Rendra melakukan sesuatu kepadamu?” “Tidak, Shaina. Sungguh.” “Lalu kenapa?” “…” “…” “… Sungguh tidak terjadi apa-apa.” “…” Hani mengambil napas dalam-dalam. “Tetapi, tadi ada orang mabuk-mabukkan di kafe. A, aku… jadi-“ “-takut sendiri.” Setelah itu Shaina langsung menngeratkan selimut di sekitar tubuh Hani. *** Beri tah

