“Kamu... Candra kan?” Aku masih sangat terkejut dengan yang perempuan ini katakan. Dia masih menatap wajahku dan menunggu jawaban dari diriku. Namun, aku masih berusaha untuk tidak menanggapinya. Aku juga berusaha untuk tetap pura- pura tidak mengerti dengan yang perempuan ini katakan. Meski demikian, hatiku ini sudah mulai sangat tertekan dengan tatapan mata perempuan ini. “Kamu siapa sih? Tiba- tiba saja datang ke sini dan memaksa orang untuk berubah menjadi orang lain,” kata Reny. Untung ada seseorang yang bisa mengalihkan pertanyaan orang ini. “Maksud kamu?” perempuan itu pun bertanya kepada Reny. “Ya, seperti yang kamu lihat. Dia ini kan Cahaya. Kenapa kamu bilang dia ini adalah... siapa tadi yang kamu sebut namanya?” kata Reny lupa dengan nama yang sempat dipanggil oleh perempua

