Julian seperti Anak remaja yang baru kasmaran, pikirannya hanya Rani dan Rani.
Dia selalu ingin terus bertemu Rani.
Dibantu Ardi sahabatnya, Julian mulai mencari tahu keseharian Rani agar mendapat celah untuk bertemu dangannya.
"Nona Rani itu sering kepasar bersama pembantu dirumahnya, Dia suka menggunakan sepeda motor" Ucap Ardi memberi Informasi pada Julian.
Julian senang mendengar kabar tersebut.
Kemungkinan bertemu dengan Rani semakin besar peluangnya.
Keesokan pagi Julian dan Ardi menunggu di perbatasan Desa yang mengarah ke jalan menuju pasar. Setelah menunggu 1 jam lebih akhirnya Wanita pujaan hati Julian datang dengan membawa sepeda motor dan membonceng wanita sebayanya yang sepertinya Pembantu dirumahnya terlihat pakaiannya yang sederhana.
Julian mulai nengikuti Rani dan benar saja Rani berhenti di Pasar tradisional.
Sepertinya Rani tak menyadari ada yang mengikutinya, Dari jauh Julian memandang Rani dan memikirkan bagaimana menyapanya.
Setelah 30 menit berbelanja kebutuhan dapur, Rani menuju motornya.
Sepertinya Dewi cinta sedang ingin Julian dan Rani saling menyapa, Ban Motor Rani kempes. Kesempatan ini dipergunakan dengan baik oleh Julian.
"Midah..Ban motornya kempes gimana ini?" Rani terlihat sedih.
"Non Pulang Naek Ojek Aja nanti saya yang bawa ke tambal Ban" Ucap Midah pembantu Rani.
"Nona..Kenapa sepertinya terlihat sedih" Tanya Julian pada Rani.
"Ban Motorku kempes Kang" Ucap Rani tanpa melihat siapa yang berbicara.
"Boleh Saya bantu??" Tanya julian.
Rani menoleh kepada Julian dan terkejut dengan siapa yang menawarinya bantuan.
"Maaf kalau merepotkan"Jawab Rani lembut.
"Tidak..tidak..Santai Aja.."Jawab Julian cepat.
"Ardi antar si teteh ke rumahnya biar motor ini Aku bawa ke bengkel sama Nona Rani" Perintah Julian pada Ardi.
"Siap.." Jawab Ardi sambil menempelka jarinya pada pelipis tanda hormat.
"Mari teh..Saya antar" Ajak Ardi pada Midah.
Julian menuntun Motor diikuti Rani dari belakang, Rani terlihat malu karena Julian begitu baik kepadanya.
"Apa Nona Rani sering kepasar?" Tanya Julian basa-basi membuka pembicaraan.
"Panggil Rani saja, Iya saya suka kepasar 2 hari sekali Kang ..." Jawab Rani menyebut Julian Akang atau Kakak.
"Maaf sebelumnya apa Nanti ada yang marah kita jalan berduaan seperti ini?"Tanya Julian memancing reaksi Rani.
"Maksud Akang??" Tanya Rani tidak mengerti.
"Mungkin Rani punya pacar gitu.." Jawab Julian.
"Rani belum punya pacar kang..! Jawab Rani malu-malu.
"Apa Rani mau deket sama Saya??" Julian memberanikan diri.
"Maksud Akang??" Tanya Rani lagi.
"Saya suka sama Rani, Boleh saya mendekati Rani??" Tanya Julian tersenyum.
"Em...Saya bingung jawabnya" Rani menunduk malu.
" Kalau gak mau juga gak apa-apa" Jawab Julian dengan memasang muka sedih.
"Ya Udah Boleh" Jawab Rani tersenyum malu.
"Boleh saya minta No Hp kamu?" Tanya Julian.
"Iya boleh" Jawab Rani.
Rani belum pernah Pacaran, Karena semua pria di Desanya segan dengan Abahnya. Rani berpikir tidak salah membuka hati pada Pria, Julian terlihat baik dan berwajah manis. Mereka berjalan menuju bengkel motor sambil berbincang ringan, Tanpa waktu lama Mereka merasa sama-sama cocok.
Semenjak Hari itu mereka intens bertemu secara sembunyi-sembunyi, Rani masih belum tahu kalau Julian Anak Tunggal Keluarga Aryapura Rival Keluarganya. Julian berbohong soal asal usulnya karena takut Rani membencinya.
Setelah Seminggu sejak pertemuan pertama, Hari minggu Rani dan Julian janji bertemu di Pasar Malam yang dia adakan di dekat kantor Balai Desa Aryapura. Rani diantar Juju anak pembantu di rumahnya yang sebaya dengannya,Karena Midah sakit dan tidak bisa menemaninya.
Mereka bertemu di gerbang menuju pasar Malam. Terlihat Julian sudah menunggu Rani menggunakan kemeja motif kotak-kotak dan Jeans biru tua, Terlihat gagah dan berbeda dengan Pemuda di Desanya.
"Ju..Itu Lian.." Rani menunjuk Julia memberitahu Juju siapa yang janjian dengannya.
"Neng Rani itu tuh..Bukannya Tuan Julian Anaknya Juragan Jaka dari Desa Aryapura" Ucap Juju memberitahu siapa Julian.
"Apa??" Rani seperti tersambar petir disiang bolong ternyata Lian yang selama ini mendekatinya adalah Julian Anak Tuan Jaka dari Desa Aryapura.Julian membohonginya.
"Kalau Neng Rani gak percaya kita cari tahu siapa Dia" Ucap Juju sambil berjalan mendekati Julian dan sengaja memanggil nama Julian dengan suara keras.
"TUAN JULIAN" Juju memanggil Julian.
Julian menoleh dan bertanya " Kamu memanggil saya"
Dari situ Rani tahu nama Asli Lian yaitu Julian yang tak lain Anak Tunggal Tuan Jaka.
Rani menggeleng tak percaya, selama ini Julian membohonginya. Bagaimana bisa dia tega menipunya.
Rani berjalan menjauh dari Julian, Tapi Julian belum sadar dengan sikap Rani yang tiba-tiba berubah dan berjalan menjauh darinya. Julian berlari mengejar Rani yang semakin berjalan menjauh darinya.
"Rani ada apa denganmu?"Tanya Julian heran tapi Rani terus saja berjalan.
Julian menarik pergelangan Tangan Rani.
"Apakah benar kamu adalah Julian anak Tuan Jaka Aryapura?" Tanya Rani sambil menangis dengan lengan digenggam Julian erat dan menatap erat Julian.
"Maafkan Aku Rani, Aku tidak jujur padamu. Aku takut kamu tidak mau menerimaku" Jawab Julian.
"Hanya itu jawabanmu??" Tanya Rani tak percaya.
"Aku jatuh cinta padamu saat pandangan pertama, Aku tahu keluarga kita punya larangan untuk menikah tapi Aku tidak peduli. Apapun Aku siap menerima tantangannya asal kamu mau menjadi milikku" Jawab Julian bersungguh sungguh.
"Tapi kenapa kamu berbohong, Semua jadi rumit saat keluarga kita tahu Lian.." ucap Rani kesal.
"Maaf Rani, Jujur Aku takut kamu menolakku mentah-mentah kalau tau Aku anak Tuan Jaka. Tapi ternyata Aku salah menilaimu, Hatimu tulus pada semua orang. Percayalah tidak ada niat Jahat kepadamu, Orantuaku pun tidak tahu aku mendekatimu. Aku benar benar mencintaimu" Jawab Julian.
Rani menangis karena ternyata dia jatuh cinta untuk pertama kali pada Laki-laki yang tak mungkin untuk bersama.
"Apa kamu juga menyukaiku? Jawab Rani atau Aku akan pergi dan tak akan mengganggumu lagi" Ucap Julian tegas.
Rani mengangguk dan menangis.
Julian tersenyum saat Rani.menjawab walau hanya dengan anggukan pelan.
Juliam menarik Lengan julian ke Tempat yang tersembunyi, Takut orang melihat mereka.
Cup...
Julian mengecup pipi Rani.
Seketika Rani tersentak karena menerima ciuman pertama dari Julian. Ini Ciuman pertama baginya, Dia menatap Julian walaupun hanya di sinari cahaya bulan.
"Aku sangat mencintaimu Rani, Apapun yang terjadi Aku tak akan melepaskanmu.
Aku ingin kita berjuang sama-sama untuk cinta kita" ucap Julian memeluk Rani erat seakan tak ingin lepas.
Tak lama Ponsel Rani berdering.
"Neng..Lagi dimana? Ayo pulang tar Tuan Ageng Marah.
"Baik Ju..Saya tunggu di depan kedai Baso dekat pasar malam" Jawab Rani pelan.
"Maaf Lian Aku harus pulang, Aku takut Abah marah kalau pulang terlalu malam" Rani berpamitam pada Julian.
"Baiklah, Aku akan menghubungimu nanti" Jawab Julian.
Saat Rani berjalan , Julian menarik lengan Rani kembali. Kepala Rani pun membentur d**a Julian yang bidang. Tanpa Aba-aba Julian mengecup Bibir Rani yang merah merekah.
"Aku mencintaimu Rani"
Rani berlari malu dan menemui Juju yang sedang menunggu di depan kedai Baso.
Julian tersenyum bahagia karena cintanya terbalaskan.
*****
Waktu-waktu berlalu sangat Indah untuk Julian dan Rani. Mereka secara sembunyi-sembunyi tanpa ada satupun keluarganya yang tahu. Hanya Juju,Midah dan Ardi yang tahu kisah cinta mereka.
Sebulan sudah mereka berpacaran, Walau pacaran hanya mencuri-curi kesempatan tapi Cukup bagi mereka yang sedang kasmaran.
Seperti hari ini, Julian mengajak bertemu di Pasar. Pagi sekali Julian menunggu Rani di Kios kecil milik orangtua Ardi.
Setelah setengah jam menunggu, Sang pujaan Hati akhirnya datang untuk berbelanja.
"Neng mau beli apa?" Tanya Julian seolah-olah dia pedagang.
"Saya mau beli gula sama garam Kang" ucap Rani senyum.
"Kalau hati akang Mau?" Julian menggoda Rani.
Rani yang kalem hanya tersenyum malu.
"Duduk dulu disini" Ajak Julian menunjukkan kursi panjang didalam Kios agar tidak ada yang melihat mereka.
Rani menurut dan masuk ke Kios berdinding kayu dan atap jerami .
Ardi menjaga Kios agar tidak ada yang masuk ke dalam.
Rani hari ini menggunaka Dres sepanjang mata kaki dengan motif bunga, Tak lupa selendang panjang menutup rambut panjangnya.
Baru saja Rani duduk, Julian sudah memeluknya dari samping dan itu mengejutkan Rani.
"Aku sangat merindukanmu Rani" Ucap Julian.
"Bukankah tiga hari lalu kita bertemu" Jawab Rani pelan.
"Kalau bisa Aku ingin setiap detik disisimu" Ucap Julian Gombal.
Rani tersipu malu pada Julian atas ucapannya.
Julian mulai menempelkan bibirnya pada Pipi kiri Rani dan berlanjut pada pucuk kepala Rani.
Rani hanya bisa terdiam atas perlakuan Julian, Dia sangat lugu dengan hal-hal seperti ini.
Julian semakin menyusuri Wajah Rani dengan bibirnya, Dan berakhir di Bibir Rani.
Bibir Julian tak hentinya menghisap pelan bibir Rani dan sesekali menggigit pelan Bibir bawah Rani agar mulutnya terbuka dan Lidah Julian dapat masuk ke dalam Mulut Rani.
"Ah.." Rani mendesah saat ciuman mereka mulai memanas.
Rani melepas tautan bibir mereka secara tiba-tiba
"Lian hari mulai siang, Aku akan pulang. Ambu pasti menunggu dirumah"
"Baiklah..Hati-hati dijalan" Ucap Julian kecewa kerena ciuman panas mereka terhenti.
Julian semakin hari semakin jatuh cinta kepada Rani.
"Aku akan segera melamarmu Rani, Bahkan bila keluarga kita tidak menyetujui hubungan kita maka Aku akan membawamu Kawin Lari" Ucap Julian dalam hati sambil terus menatap punggung Rani yang menjauh.
TBC