Rani yang Kacau

484 Kata
“Kau mengandung anakku dan Aku akan bertanggung Jawab” Kata-kata itu seperti rekaman di telinga Rani. Hari sudah pagi dan Rani masih belum sedetikpun memejamkan matanya. Julian Pergi tak lama setelah mengatakan hal yang membuat Rani tak bisa berpikir secara waras. Kadang hawa nafsu turut memberi restu perbuatan Bodoh yang Julian ajukan tapi logika menolak hal bodoh yang akan membuat keluarga malu. "Neng..Neng Rani.." Suara Bi Mina mengagetkan Rani dari lamunannya. "Iya Bi..Rani akan keluar sebentar lagi" Rani tidak ingin terlihat kacau karena semalam tidak tidur, Wajah putih terlihat pucat dengan Bulatan hitam di sekitar matanya. Rani beranjak dari Kasur nya dan bergegas mandi dan menyusul untuk segera sarapan bersama Kedua orangtuanya. "Hai Rani..Tidak baik seorang gadis yang akan menikah bangun tidur setelah matahari terbit" Terdengar suara Ambu menegur Rani. "Maaf Ambu" Rani duduk di samping kiri Abahnya dengan tidak semangat. "Rani Abah sudah mempersiapkan pertunanganmu, Abah harap Semua berjalan lancar" Abah Rani terlihat bersemangat mengatakan perihal pertunangan Anaknya. "Baik Abah" Jawab Rani pelan. "Apa kau sakit?" " Em..Ti..dak Abah..Rani kurang tidur" jawab Rani gugup. "Wajar gugup untuk gadis yang akan melepas masa lajang" Rani tersenyum samar mendengar perkataan Abah yang bertujuan menenangkan Anak gadisnya yang akan menikah. Hari ini Rani malas untuk beraktifitas dan memilih duduk di kursi malas dikamarnya sambil membaca buku dan melamun.Hati dan pikirannya sedang tidak sejalan. Hatinya memikirkan Julian dan pikirannya terbayang akan betapa kecewanya orangtua nya bila Rani benar benar menyerahkan dirinya untuk Julian yang bukan suaminya. "Rani..Rani.." Suara Ambu terdengar nyaring mengagetkan Rani dari lamunannya. "Iya Ambu".. "Ayo antar Ambu kepasar membeli beberapa bahan masakan yang sudah habis di dapur". Ambu dan Rani kepasar di antar supir. karena lelah Rani hanya duduk di kios yang tak jauh dari pintu masuk pasar. Ambu masuk bersama supir membawakan Barang belanja. "Hai gadis manis" Suara bariton yang khas dan tak pernah terlupakan oleh Rani membuat Rani terkejut karena takut. Suara itu persis di telinga kanan Rani. "A..pa maumu..?" Rani gugup dihinggapi Rasa takut. "Oh..Gadis manis..kenapa Kau sangat takut..Apa kau lupa rasa dari kecupanku" Sindir Tangguh. "Jaga batasanmu" ketakutan Rani terlihat dari bulir keringat yang tanpa malu muncul di dahi Rani. "Hai Aku hanya menyapamu" Tangguh terlihat senang dengan Mimik wajah Rani yang ketakutan. Rani merasa matanya berkunang-kunang dan kepala yang sangat sakit akibat kurang tidur dan kelelahan. "Bisakah kau meninggalkan Aku sendiri Tuan Tangguh" Mohon Rani kepada Tangguh yang terus menatap nya. "Aku hanya menyapa dan sedikit menikmati wajah cantikmu,Kenapa kamu marah" Tangguh masih tidak beranjak dari depan Rani. Pandangan Rani mulai gelap dan tubuh yang lemah tak mampu ditopang lagi oleh kakinya. Bukkk.. Rani pingsan dan tepat di d**a Tangguh yang kekar dan bidang. "Hai kenapa kamu menjadi berani memelukku?" Tangguh seperti belum sadar Rani tak sadarkan diri. Setelah melihat wajah Rani yang pucat dan tetap tak merespon Tepukan tangan Tangguh di pipi. "Ah kau memang selalu memancingku berbuat m***m" ucap Tangguh sambil membawa Rani ke Mobilnya. TBC..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN