Di kamar mandi, Elsa berjongkok, memeluk lututnya sendiri. Sakit, Adipati keterlaluan. Dia mengusap air matanya kasar lalu keluar dari kamar mandi. Kosong, tidak ada Adipati di sini, dia benar-benar pergi. Memang Adipati tak pernah memahami perempuan, kenapa dia benar-benar pergi? Bahkan tanpa menjawab cinta atau tidak. Sedangkan Adipati, langkahnya berat untuk keluar dari apartemen. Ciuman Elsa masih melekat di ingatannya, gadis manis itu berhasil menyita perhatian dan hatinya. Sayangnya Adipati terlalu gengsi mengakuinya. Dia berharap Elsa memahami arti diamnya yang juga mengartikan cinta. "Loh, mau kemana Pak?" tanya Egar, tetangga samping kamarnya. "Eh Pak Egar, saya cuma mau pesan ruangan sebelah Pak." Egar tertawa, melihat Adipati seperti suami yang diusir istrinya. "Sabar ya

