Sketsa Tak Disengaja

566 Kata
SIAL sekali! Jam sudah menunjukkan pukul 01.15, tetapi mataku masih terjaga seolah enggan menerima kantuk. Aku bangun dengan setengah tubuh masih terbungkus selimut tebal. "Apa yang harus kulakukan agar bisa tidur?" gumamku dengan pandangan nanar. Jujur, aku lelah, sayangnya tubuh ini malah menolak istirahat. Rasanya aku ingin menangis. Beberapa menit berlalu hanya kuhabiskan dengan melamun. Namun, tetap saja aku tidak merasa mengantuk. Aku mendesis sebal dan menyingkap selimut, lalu beranjak dari tempat tidur menuju meja kamar. Aku duduk di depannya lantas mulai membuka laptop. Berhubung aku jarang mengalami situasi seperti ini—sulit tidur sehingga tidak tahu bagaimana mengatasinya, aku memutuskan untuk menggambar. Begitu aplikasi menggambar digital berhasil diakses, aku segera memilih fitur "tambah kanvas baru" dan memilih jenis pena yang akan kugunakan untuk menggambar. Sekarang, kesadaranku sepenuhnya bekerja untuk menuangkan isi pikiran dalam bentuk gambar. Tanganku bergerak lihai membuat sketsa dari susunan garis kasar. Kadang mulus, kadang patah-patah, kadang harus dihapus dan dibuat baru lagi. Begitu terus hingga berpuluh-puluh menit berlalu dan embusan napas panjang keluar dari mulutku. Perlahan, tubuhku bergerak pelan ke belakang, bersandar pada kursi. Mataku fokus memandang sketsa yang telah selesai dibuat. Namun, sekejap mataku dibuat terbuka lebar karena terkejut. Refleks, aku kembali duduk tegak, meraih laptop dan mendekatkannya ke muka. "M-mengapa jadi dia yang aku gambar?" gerutuku lirih. Aku terus memandangi sketsa tersebut, gambaran seorang pria dengan keadaan setengah telanjang tengah berbaring di atas sofa. Satu tangannya menutupi wajah seolah tengah menghalangi silaunya cahaya yang kemungkinan akan mengganggu waktu rehatnya. Tanganku sudah akan bergerak menyentuh fitur "hapus kanvas", tetapi sejenak terdiam. Bagaimana mungkin aku menghapus sketsa yang telah jadi begitu saja apalagi hasilnya tidak begitu buruk? Maka, aku akhirnya mengurungkan niat menghapus sketsa tersebut, lalu meletakkan stylus pen di sebelah laptop. Kedua tanganku memegang kepala dengan siku bertumpu pada meja. Perlahan, aku memejamkan mata dan langsung saja, kepalaku terbayang kejadian hari ini yang sebagian besar kuhabiskan dengan Jovan, pria yang kemungkinan sekarang tengah tidur pulas di sofa ruang tengah. Tak ditampik, kesulitan tidur yang aku alami hari ini disebabkan oleh pria itu. Bukan secara harfiah, tetapi aku sendiri yang terlalu banyak berpikir tentangnya. Stres memikirkan runyamnya isi kepala saat ini, aku memutuskan keluar kamar dengan membawa laptop beserta stylus pen, lalu cangkir yang telah habis isinya. Langkahku kemudian berakhir di dapur. Aku menyeduh chamomile tea lagi, tetapi sekarang untuk diriku sendiri. Aku melakukannya dengan ekstra hati-hati, sehening mungkin karena tidak ingin mengganggu Jovan yang benar tengah tidur pulas di sofa ruang tengah. Begitu selesai menyeduh chamomile tea, aku menarik kursi dapur begitu pelan, lalu mendudukinya. Aku bernapas lega karena apa yang baru saja kulakukan berjalan sesuai harapan, hening selalu. Mataku mencuri pandang ke arah Jovan yang tidur menghadap meja ruang tengah. Tubuhnya sedikit meringkuk dengan kedua tangan terlipat di bawah kepala. Posisinya itu mengingatkanku pada anak kecil yang tengah tidur lelap usai dibacakan dongeng menarik oleh orang tuanya. Mataku kemudian beralih memandang sketsa di laptop, lalu memandang Jovan kembali. Mereka berbeda. Setidaknya, keadaannya. Di sketsa, Jovan tidur dalam keadaan tubuh setengah telanjang sementara di sini, di kenyataan, Jovan tidur mengenakan pakaian Hugo dan tertutup selimut yang sayangnya kekecilan karena ujung kaki pria itu tampak keluar. Aku tersenyum kecil melihatnya dan mulai menyesap chamomile tea yang hangat dan harum. Tanganku lantas kembali bekerja, menabur warna demi warna pada sketsa yang telah kubuat tanpa sadar tadi hingga aku lupa waktu dan tak ingat pukul berapa kesadaranku mulai terenggut. • • • • •
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN