Hayden terkejut, ia kalah cepat dari gadis yang kini tengah rakus menikmati tiap tegukan darah di perpotongan lehernya. Bukan merasa lemas karena kehabisan intisari, ia justru merasa sebaliknya, tubuh semakin bugar dan bertenaga—Hayden mulai mendapati fakta jika gadis itu tidak sedang menikmati darahnya, melainkan zat buruk yang kerap membuatnya merasa lelah.
Sedang dalam kondisi menguntungkan, Hayden berpikir untuk tidak akan membiarkan gadis itu pergi karena benar-benar membawa keuntungan baginya. Waktu belum berlalu begitu lama, ia membawa si gadis semakin dekat dalam dekapan seraya menyunggingkan senyum miring, "Yah, lakukan apapun yang kau suka. Nikmati darahku sepuasmu..."
Merasa takjub ketika dua labium tipis itu bergerak kecil di permukaan kulit leher, Hayden semakin dibuat gila. Ia tidak mengenali siapa gadis ini, bahkan tak tahu apakah jati dirinya manusia ataupun vampir tapi kedatangannya begitu mendadak juga membawa keberkahan bagi seorang raja seperti dirinya.
Tubuh gadis itu mengeluarkan beberapa macam aroma, mulai dari darah murni manusia, darah vampir, aroma segar anggur yang manis, sampai sesuatu yang misterius, baunya masih samar terhalang campuran aroma lain. Hayden balas mendekatkan pucuk hidung pada leher gadis itu sembari mengendus dalam-dalam segala aspek bau-bauan yang menguar dari sana, "Hei, siapa kau dan dari mana asalmu? Aroma tubuhmu sangat enak, apakah ada manusia seperti ini sebelumnya?"
Dia tiba-tiba melepas gigitan sembari melangkah mundur dengan tatapan terkejut, bahkan kedua telapak tangannya berusaha menutupi mulut seakan tidak percaya apa yang sudah dilakukannya barusan. Hayden sadar banyak perubahan fisik yang terjadi pada gadis itu, bahkan aromanya juga menghilang, menyisakan baru darah manusia murni dan anggur yang manis.
"Apa aku baru saja mengigit lehermu?" Dia menuding dengan tangan bergetar.
Hayden mengangguk disertai senyum singkat—yang justru terlihat mengerikan, "Iya, kau melakukannya dengan sangat baik. Lihatlah, tubuhku terasa semakin sehat dan bugar, yang terpenting lagi, kau membuatku kehilangan efek gila dari sinar merah blood moon. Terima kasih atas kebaikanmu nona manis, jadi sebenarnya siapa kau?"
Bibirnya terkatup rapat tidak berminat menjawab, membuat si raja selatan terpaksa membuatnya buka mulut agar mau bicara.
"Aku vampir, tepatnya seorang raja vampir. Kawasan ini termasuk wilayah sebangsa kami, jadi jika kau bukan vampir seharusnya tidak berada di tempat ini. Kalau tidak mau bicara, aku akan segera mengantarmu pada penjara bawah tanah kami, di sana banyak tahanan kelaparan, mereka pasti sangat senang dibawakan gadis muda," tatapan matanya semakin menajam dengan pupil merah mengintimidasi. Apalagi Hayden telah kembali memasang tudung jubahnya, membuat penampilannya serupa dengan gambaran iblis di sunia manusia.
Dia menggigit bibir panik, tangannya semakin bergetar ketika kedua pupil vampir itu tertuju tepat pada matanya seolah hendak menembakkan peluru tepat pada sasaran, pelapalannya pun menjadi kaku dan gugup, "A-aku manusia, aku tersesat di sini dan sedang kehilangan kesadaran sampai tidak menyadari apa yang ku lakukan."
"Siapa namamu?"
"Elora."
"Manusia atau vampir?"
"Sudah ku bilang manusia."
"Lalu kenapa kau menggigitku? Sejauh ini tidak pernah ada kasus manusia menghisap darah vampir. Apakah dunia akan segera berbanding terbalik, atau kau yang membual?" Hayden mengajukan pertanyaan lebih banyak ketika melihat semburat keraguan yang terekspos melalui ekspresi gadis itu.
"Entahlah, tapi ku harap kau memaafkanku jika telah berbuat buruk padamu—jujur saja itu semua diluar kesadaranku. Malam ini tiba-tiba saja semuanya berubah, aku sungguh manusia, tapi fisikku menjadi vampir setelah kemunculan blood moon." Elora spontan mengalihkan pandangan, 'Oh astaga, seharusnya dia tidak tahu banyak tentangku!'
Sebelumnya, selama beberapa abad masa usia yang telah dilalui, Hayden tak pernah mendapati manusia melukai vampir, ia juga tak percaya jika makhluk rendahan tidak bertenaga itu bisa menancapkan gigi sambil menghisap intisari. Namun untuk kali ini ia mendapati secara nyata pembuktiannya, Elora tercium dengan aroma darah manusia murni yang segar sesuai santapan para vampir, tapi dari segenap kebenaran tersebut gadis itu justru menampakkam fisik mata merah dan taring panjang tak berbeda dari anggota sebangsanya.
Dua lubang bekas gigitan pun masih terasa basah dikeliling cairan pekat kehitaman, membuat Hayden meringis ketika menyentuhnya, "Siapapun jati dirimu, kau sangat bermanfaat untukku, Elora. Jika kita membuat perjanjian untuk saling menguntungkan pasti akan menghasilkan hal besar baik bagi kaumku maupun kau sendiri. Jadi, katakan apa yang kau inginkan sekarang? Mungkin aku bisa menukar sesuatu yang kau mau dengan keberadaanmu sendiri di dekatku."
Elora menggeleng sambil melangkah menjauh. Sadar blood moon sudah sepenuhnya menghilang dari langit—tergantikan dengan kemunculan bulan biasa yang tak memancarkan spektrum merah penghipnotis kaum vampir membuat siapapun lega. Ia harus kembali ke rumah dan menemui ibu sekarang, untuk mengorek informasi terkait apa yang terjadi pada dirinya.
Pertemuannya bersama seorang raja vampir di tengah hutan mengakibatkan dirinya kesulitan keluar dari situasi beraura mencekam kali ini. Jika saja tenaganya masih serupa dengan sesaat ketika fisik dan jiwa vampir mengambil alih tubuhnya, mungkin Elora tak segan menyerang pria itu tanpa mempedulikan ketakutan.
Kecepatan langkah juga sudah normal seperti manusia bisa sebagai dirinya sehari-hari, tidak lagi semacam kilat menyambar kurang dari sepersekian detik. Ia menggerutu menyadari perubahan fisiknya akan membawa keberkahan kali ini, seharusnya jika jati diri vampir itu memang ada di dalam tubuhnya, kapanpun diginginkan untuk muncul seharusnya bisa tapi sayang ia tak tahu caranya. Semakin jauh, tungkainya mulai melemah hingga terseok-seok beberapa kali hampir terjatuh. Elora mencoba tetap bertahan tanpa memperhatikan apa saja yang ada di sekitar, bahkan kepalanya tetap menghadap lurus ke depan—mengabaikan si raja vampir di belakang sana menatapnya remeh.
Hayden tertawa sembari terus mengikuti langkah manusia yang terlampau lambat bagi para vampir, kalaupun Elora lepas dari pandangan, ia tetap dapat mengendus aromanya yang menguar di udara. Namun tatapannya tetap waspada dibalik tudung hitam yang senantiasa melekat pada tubuh, vampir lain mungkin mulai sadar keberadaan gadis itu. Hayden tidak mau kehilangan mangsa dan kesempatan, Elora bukan mangsa biasa, tapi justru lebih mengarah pada harta karun yang datang sendiri ke pelukannya untuk mengangkat segala hal buruk yang berada di tubuhnya. Selain badan terasa semakin bugar dan sehat setelah sel buruk terangkat bersih, ada sesuatu yang bertenaga sekaligus menggebu-gebu mempersiapkan sesuatu di dalam diri Hayden, ia hanya bisa merasakan betapa semangat, namun tidak mengetahui apa yang direncanakan di dalam tubuhnya.
Yang jelas berkaitan dengan hal baik, bukan sesuatu merugikan.
"Berhentilah berlari, itu hanya akan menyakiti kakimu," seru Hayden mulai jengah, namun ia tak boleh langsung mengklaim Elora supaya menyetujui ajakannya, gadis itu perlu mengatakan sendiri secara sadar jika mereka bisa melakukan sebuah kerja sama yang saling menguntungkan, "Mari bicara baik-baik, aku berjanji tidak akan melukaimu. Justru jika kau bertemu vampir lain, mereka mungkin akan langsung mengoyak jantungmu. Ingat, hutan ini masih kawasan vampir."
Tanpa diduga, Elora berbalik. Alisnya tertaut, menunjukkan tatapan menantang, "Apa yang kau mau dariku? Darah?"
"Bukan, karena sepertinya aku tidak butuh darahmu meski aromanya sangat menggoda, manis seperti anggur," Hayden menggerakan telunjuk seolah memberi isyarat agar gadis itu mendekatkan diri.
Elora pun melangkah mendekat, tidak ingin semakin lama berada di hutan bersama para vampir dan harus segera pulang memeriksa keadaan ibu, mungkin membuat perjanjian dengan pria vampir itu bisa membantunya keluar dari tempat ini dengan aman.
"Sebelumnya biarkan aku memperkenalkan diri," tangannya terulur ke depan, "Hayden Erderloz, raja vampir klan selatan, kerajaan la sangre. Untuk saat ini wilayah yang ku pimpin sedang dalam masa jaya bersinggungan dengan kerajaan utara. Klan kami terkenal paling kuat sehingga bisa terus memprovokasi klan lain yang jauh lebih rendah. Mungkin terlalu banyak basa-basi, tapi kau perlu tahu latar belakangku sebelum kita membuat perjanjian dan sebelum kita saling mengutarakan keinginan supaya dapat menghasilkan kesepakatan yang saling menguntungkan."
Elora diam, berusaha mendengarkan dengan baik. Ia tidak mau terjebak semakin jauh, namun dari perkataannya, Hayden kelihatan bisa dipercaya dan mungkin juga dapat membantunya kembali ke rumah.
"Aku baru menemukan manusia spesial sepertimu, aroma darah segar manusia, vampir, lalu bercampur anggur beberapa kali juga muncul aroma jeruk. Kau menggigit leherku bukan untuk menghabiskan darah, melainkan mengangkat sel buruk yang menyebar di seluruh tubuh. Itu membuat tenagaku semalin besar, bahkan aku merasa kekuatan besar akan segera muncul. Berkatmu aku menginginkannya lebih, wilayah kerajaanku perlu diperluas untuk mendominasi klan vampir, dan itu... bisa ku lakukan bersamamu." Hayden menyelipkan helaian surai gadis itu, membawanya ke belakang telinga sehingga perpotongan leher Elora terlihat jelas—juga nadi yang bergerak tidak karuan, "Kau sangat istimewa, bisakah membantuku?"
Elora menepis tangan pria itu, lantas sedikit menjaga jaraknya, "Apa yang kau tawarkan padaku jika seandainya aku menyetujui keinginanmu?"
Bola mata Hayden menggerling, bahunya terangkat bebas, "Apapun, segala hal yang kau mau."
"Bagaimana kalau aku memintamu untuk mengantarkanku keluar dari wilayah vampir, lalu kita tidak boleh bertemu lagi sampai kapanpun," ia menyunggingkan senyum miring, ini negosiasi yang tidak sebanding dengan teman-teman sekolah. Beberapa murid di sekolah mungkin kerap merundungnya, namun Elora masih bisa melawan atas dasar kata manusia lawan manusia, tapi untuk kali ini musuhnya berbeda. Ia tak boleh salah langkah hingga mengakibatkan kematian.
Tapi Hayden menginginkan keberadaannya, pria itu tidak akan mengambil jalan pembunuhan jika Elora mengelak untuk menerima permintaannya.
Hayden juga sadar Elora bukan gadis remaja yang mudah terpengaruh, dia berkali-kali mencoba menjauhi atau menghindari kerugian untuk diri sendiri dengan terus membujuk dirinya agar mengungkapkan segala kemauan. Ia bersidekap mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir kecilnya, "Itu tidak akan terjadi, aku sudah menandai aroma darahmu yang menggiurkan."
"Kalau begitu maaf, aku tak mungkin menyetujui harapanmu. Seperti yang kau bilang, kita harus saling menguntungkan 'kan?"
•••
Julian kembali menuju kediaman Renata tanpa sedikitpun kecurigaan, ia pikir sepasang ibu-anak itu masih di tempat seperti sebelumnya, meyakini mereka tak bisa menghindar jauh, paling tidak hanya bersembunyi di tempat yang masih terduga dan bisa dijangkau. Karena sekalipun blood moon telah berakhir, manusia tetap enggan keluar dari rumah sebelum pagi menyapa.
Elora dan Renata juga tak sebodoh itu, pergi dari rumah untuk menghindari kedatangannya. Mereka justru akan ditempatkan pada situasi yang lebih berbahaya.
Serbuk lembut bunga ash bertebaran di udara ketika pintu dibuka, keadaan bagian dalam rumah masih sama seperti sebelumnya, membuat Julian menghela napas lega.
Tujuannya datang kemari untuk memastikan jika Elora bukanlah bayi yang 18 tahun lalu lahir dengan campuran darah manusia-vampir. Keturunan itu disebut humphire, mereka dianggap tabu dan tidak layak diberkati kehidupannya atas dasar dua ras yang menjalin hubungan pernikahan hingga memiliki anak dianggap melanggar aturan dan martabat tiap koloni. Humphire juga dideskripsikan sebagai monster sebab kekuatannya secara alamiah melebihi vampir—alasan terbesar kaum itu dimusnahkan karena vampir takut tersingkir, sementara manusia tidak mengijinkan kemunculan predator yang lebih ganas.
Humphire itu bisa memangsa apapun, baik manusia maupun vampir. Mereka juga tak hanya menghisap darah, selebihnya serupa karnivora, bisa memakan segala jenis daging, sekalipun itu daging yang berasal dari tubuh vampir, sebagaimana ras terkuat di dunia ini.
Julian ditugaskan untuk membunuh bayi tabu itu 18 tahun lalu, disaksikan ribuan manusia dan ribuan vampir. Ayah dari bayi itu juga dibunuh tepat setelah melihat jantung anaknya dirobek kemudian dibakar tanpa belas kasih. Meski begitu dalam beberapa tahun terakhir, ia kehilangan memori tersebut secara tiba-tiba, tidak semua pupus dari pikiran—hanya beberapa bagian, terutama ketika pedang menancap di d**a bayi itu dan saat jantungnya dibakar. Julian mulai merasa seperti dipermainkan oleh waktu, orang-orang yang ditanyai mengenai peristiwa itu juga menjelaskan kalimat ambigu, ada yang berbeda dari satu mulut dengan mulut lain.
Renata merupakan salah satu manusia yang ada ketika pemusnahan itu berlangsung, ia terbukti sebagai manusia paling dekat dengan ibu kandung si humphire. Wanita itu sudah cukup lama menikah namun tidak segera dikaruniai anak, namun pertemuannya baru-baru ini membuat Julian semakin curiga karena status Renata sudah berubah menjadi ibu satu anak dan suaminya telah lama meninggal dunia.
Elora mendadak muncul diantara mereka, dianggap anak kandung dan tidak pernah tahu asal-usulnya sendiri. Renata selalu berkata jika putrinya diadopsi dari panti asuhan ketika masih bayi, kecurigaan Julian dimulai ketika mengetahui tahun lahir Elora dengan bayi humphire itu sama apalagi menurut data perkembangan siswa-siswi di sekolah, gadis itu memiliki catatan sikap yang aneh, tidak seperti remaja perempuan pada umumnya.
Otaknya bekerja cukup lambat ketika berada di kelas, tapi dalam beberapa bidang cukup unggul, diantaranya kecepatan berlari, kecermatan pandangan mata, sikap yang teliti, dan benar-benar waspada dengan keadaan sekitar. Faktor-faktor itu sangat dekat dengan kebiasaan para vampir, mereka peka terhadap keadaan, berlari sekencang angin topan, tatapan mata yang tajam teliti ketika menghadapi marabahaya, juga pendengaran yang tak kalah baik ketimbang indra penglihatan.
Elora termasuk murid yang pendiam, tapi terkenal dengan sikap dingin dan brutal, ia sering jadi bahan olokan karena berkulit pucat dan tatapan datar seakan tidak memiliki gairah hidup. Tapi Elora tak mau diam saja ketika dirundung, ketika teman-teman beradu mulut, ia lebih memilih langsung menyerang menggunakan tenaga untuk membungkam bibir sampah mereka.
Segala rentetan kejadian yang ditujukan melalui cara menjalani kehidupan tak jauh berbeda dengan insting para vampir, yaitu pemberani, brutal, pendiam namun sangat berbahaya.
Turun di lantai bawah, tepatnya pada ruang rahasia keluarga kecil ini. Julian sudah merasakan aura yang berbeda, posisi gagang pintu berubah. Lebih parahnya lagi, hanya terdengar satu deru napas dari dalam sana.
Mungkin Elora memang humphire itu, dia berubah pada waktu yang sudah ditetapkan dan tak sengaja membunuh Renata. Julian banyak berekspektasi mengenai apa saja yang terjadi pada gadis itu, ia juga begitu yakin jika si bayi tabu masih hidup sampai sekarang—entah itu Elora atau bukan, yang jelas Renata berpengaruh banyak jika bayi itu memang masih hidup di dunia, dan satu-satunya kandidat paling meyakinkan adalah Elora sendiri.
Pintu terbuka lebar, namun bukan Elora yang keluar dari sana melainkan sosok gadis jangkung berbalut busana merah pekat. Taring tajamnya mencuat keluar dari bibir dengan berlumur cairan merah, tatapannya yang semula mengintimidasi berubah menciut ketakutan saat pupil mereka bersitatap. Sementara di bawah, Renata bersandar pada almari dengan kondisi mengenaskan. Lehernya penuh darah begitu pula pergelangan tangan dan kaki, wajahnya juga sudah memucat penuh menandakan kematiannya berlangsung sejak tadi.
Julian mendekatkan langkah pada gadis itu, "Siapa kau?"
"A-aku vampir liar," tubuhnya membungkuk sembilan puluh derajat guna memberi penghormatan pada yang lebih berkuasa, sepertinya dia mengetahui siapa Julian, iris merahnya bahkan tak henti bergetar, "Ada apa seorang raja yang terhormat seperti anda datang ke tempat ini?"
Bukan membalas, Julian balik bertanya sambil bersidekap d**a, "Namamu?"
"Licia," balasnya gugup.
Sebenarnya Julian ingin mengeluarkan segala serapah yang tertahan, emosi menyulut bagai api yang enggan padam. Tapi ia tidak boleh gegabah membunuh Licia secara langsung, dia harus mempertanggung jawabkan perbuatan atau paling tidak membayar setetes darah demi satu nyawa yang telah ditumbangkan. Licia juga tidak kelihatan seperti vampir liar biasanya, terlebih mengenai gaun mewah berwarna marun yang membelit tubuhnya, "Kau sudah membuat kesalahan, wanita itu orang penting yang pernyataannya sangat ku butuhkan. Sekarang kau justru membunuhnya, apa ada hal yang bisa kau pertanggung jawabkan demi menghapus kesalahanmu?"
"Aku minta maaf, aku tidak tahu..."
Julian menyunggingkan senyum miring, membuat nyali gadis itu semakin menciut, "Licia, aku tidak butuh permintaan maafmu, aku perlu kau mengembalikan keadaan seperti semula entah bagaimanapun caranya, wanita ini harus hidup lagi!"
"Tapi aku tak bisa melakukannya!" Licia geram, dan tanpa sadar nada kalimatnya meninggi. Padahal dia sendiri masih tak lupa bahwa lawan argumen kali ini merupakan seorang raja vampir yang tentunya berasal dari ras bangsawan. Mereka bisa melakukan apapun untuk melumpuhkan lawan yang tidak sepadan.
"Atau kau memilih menderita seumur hidup?" Pria itu menyeringai, membuat tawanan berusaha keras mempertimbangkan perkataan, "Aku seorang raja, memberi balasan kematian padamu rasanya kurang menyenangkan. Jika kau menderita sebelum mati mungkin itu lebih baik, sangat impas." Julian mendekatkan lengannya pada leher gadis itu, membuat gerakan singkat sedang mencekiknya tanpa belas kasih, sama seperti cara Licia menggigit leher Renata hingga berlumur darah, bahkan terlihat jelas bagian dalamnya terkoyak rusak.
Licia mengangkat tangan, bibirnya mendadak lancar berbicara, bahkan ingatannya pun turut berperan menyelamatkan dirinya dari sosok bahaya yang mencoba menyakiti, "Mengenai vampir peramal, ku dengar dari mereka batu archimedes bisa membangkitkan orang yang sudah mati. Kau mungkin bisa menggunakan cara itu."
"Dari mana kau mendapat informasi seperti itu? Dan arcimedes? Aku baru pertama kali mendengar namanya," Ungkap Julian tak percaya sama sekali. Sejujurnya ini memang kali pertama ia mendengar sesuatu yang disebut batu archimedes. Selama berkecimpung dalam politik vampir, tidak pernah ada yang membahas hal tersebut. Ia berpikir Licia tengah membual demi menyelamatkan diri.
Licia menyela mendapati tatapan tak meyakinkan, "Aku pernah tidak sengaja menguping pembicaraan prajurit yang menahanku karena suatu kasus. Mereka banyak membicarakan hal itu, katanya tersimpan di salah satu raja vampir, tidak tahu siapa pemegangnya sekarang."
Tanpa diduga, pria itu memasangkan gelang bertali merah pada pergelangan Licia. Ia tersenyum bangga setelah benda tersebut terikat kencang pada pemilik lengan yang sekarang. Gelang itulah yang membuat Licia tidak bisa bergerak bebas, kemanapun ia pergi maka Julian akan mengetahuinya, "Kalau begitu carilah dan dapatkan. Beri bukti padaku atau kau akan menderita selamanya."
"Ta-tapi, aku tidak mungkin menyusup diantara para vampir berkoloni, apalagi ras bangsawan. Mereka akan membunuhku lebih dulu." Licia mencoba menarik paksa gelang yang melingkar erat pada pergelangannya, namun justru jemarinya sendiri yang terluka, padahak material gelang hanya dibuat dari benang.
Julian tersenyum miring, "Kalau begitu cobalah untuk bertahan, dari pada harus menderita sebelum mati ditanganku."
"Aku akan membawa wanita ini sampai kau mendapatkan sesuatu yang bisa membangunkannya kembali."
Julian melesat pergi bersama Renata dalam keadaan tak bernapas, meninggalkan Licia di tempat juga secarik kertas yang menempel di salah satu foto ayah. Catatan kecil buatan Renata sesaat sebelum Licia datang dengan mata merah untuk mengoyak perpotongan lehernya.
Ia tidak bisa beropini di mana Elora berada, aroma gadis itu lenyap tak terendus sama sekali. Julian meyakini jika dia tidak berada di tempat ini lagi, entah kenapa dan kemana ia pergi, namun Elora harus masih hidup ketika ia mencoba mencarinya nanti. Untuk sekaran Renata yang menjadi prioritas, hanya dia yang mengetahui kebenaran apakah putri angkatnya bukan si bayi tabu keturunan vampir-manusia. Elora sendiri pun tidak akan tahu jati dirinya karena perwujudan lain itu seolah disembunyikan rapat-rapat secara misterius di dalam tubuhnya.
Licia menggelengkan kepala frustasi. Ia seharusnya lebih bisa menjaga nafsu agar tidak datang ke pemukiman manusia dan melukai salah satunya. Namun insting sebagai vampir liar membuatnya benar-benar kesulitan menghadapi fenomena ini. Mungkin ia telah diberi perlindungan terbaik agar tidak kedapatan terpengaruh oleh gerhana bulan merah, sayang sekali semua itu tak berlaku bagi vampir ras liar murni seperti dirinya.
Terlebih mengenai batu archimedes itu, konon katanya hanya raja vampir terkuat yang menjadi pemegang selama turun-temurun secara rahasia. Tidak ada yang tahu mengenai hal itu bahkan rakyat klan si pemimpin kebanyakan mungkin juga tidak tahu.
"Aku tidak mau mati, tapi apa aku harus benar-benar mempertaruhkan nyawa demi archimedes itu?"
Situasi yang membimbangkan, seolah berada diantara jurang dan rawa buaya. Baik maju atau mundur ia akan tetap mati.