Waktu menunjukkan angka dua belas tepat di tengah malam, ketika keheningan melingkupi rumah Dante. Cahaya bulan yang samar menembus jendela besar, membentuk bayangan lembut di lantai marmer yang dingin. Di sudut ruangan, Dante duduk di mini bar, mengenakan kemeja hitam yang sedikit terbuka di bagian d**a. Jemarinya memegang erat gelas wine yang kini hanya menyisakan setengah isinya. Angin malam menyusup lewat jendela yang sedikit terbuka, namun udara yang sejuk tak mampu meredam gejolak di dalam dirinya. “Apa yang harus kulakukan ke depannya?” gumamnya pelan, suaranya tenggelam di antara aliran pikirannya yang kacau. Ia memikirkan James, pria yang telah menjadi musuh bebuyutannya sejak kematian ayahnya. Dendam yang ia simpan selama ini kian memanas, bagaikan bara api yang tak pernah

